gorengan
Gorengan. (Sumber: akbrod.wordpress.com)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Jika selama ini kita mengira bahwa berlebihan mengonsumsi makanan manis  dapat menyebabkan diabetes, maka bukan berarti mereka yang ‘anti manis-manis’ bisa terbebas dari resiko diabetes. Hasil penelitian membuktikan, risiko diabetes juga mengintai para penikmat gorengan.

Gorengan atau mendoan adalah salah satu kudapan favorit masyarakat Indonesia. Mendoan digoreng menggunakan minyak kelapa sawit, yang diketahui banyak mengandung asam palmitat.

Efek palmitat ternyata lebih jahat ketimbang gula. Demikian disimpulkan oleh Soebagijo Adi Soelistijo dr., SpPD.,K-EMD, FINASIM, FACP, yang baru saja meraih gelar doktoral Program Studi Ilmu Kedokteran jenjang doktor Fakultas Kedokteran UNAIR.

Dalam disertasinya, pria kelahiran 1 April 1958 ini menemukan fakta bahwa ternyata asam palmitat yang banyak terkandung pada minyak kelapa dapat memicu kerusakan organ pankreas.

Mengacu pada beberapa penelitian sebelumnya, asam palmitat baru akan berdampak pada orang-orang yang sudah terpapar resiko diabetes, antara lain mereka yang kelebihan berat badan, mengalami resistensi insulin, pre diabetes, dan memiliki riwayat keluarga diabetes.

Dampak buruk asam palmitat sudah banyak diteliti. Namun yang terbaru saat ini, Soebagio berhasil mengungkap fakta baru bahwa asam palmitat  juga merugikan orang sehat. Palmitat langsung merusak transporter glukosa di dalam otot lewat jalur bypass.

“Jadi nyelonong sendiri sehingga menyebabkan resistensi insulin dan akhirnya merusak fungsi pankreas,” ungkapnya.

Pada dasarnya tubuh memerlukan  asam lemak bebas seperti palmitat, namun dalam jumlah sedikit. Fungsinya antara lain sebagai pelarut vitamin A dan E. Asam palmitat banyak terkandung pada minyak kelapa (92 persen), minyak kepala sawit (60 persen), juga pada keju, margarin, mentega, minyak jagung, minyak zaitun, minyak biji bunga matahari, dan air susu ibu (ASI).

“Asam palmitat ada dimana-mana. Paling mudah ditemukan pada makanan yang digoreng menggunakan minyak kelapa sawit. Hati-hati,” ungkapnya.

Soal takaran, Soebagio belum dapat memastikan batas aman mengonsumsi  asam palmitat. “Jumlah pasti belum saya teliti lebih lanjut. Akan ada penelitian lanjutan,” ungkapnya.

Selain asam palmitat, miristat dan stearat juga termasuk jenis asam lemak jenuh yang merugikan. Sementara jenis asam lemak tak jenuh seperti oleat juga dapat menyebabkan resistensi insulin.

“Oleat banyak terkandung  pada minyak nabati dan hewani. Namun nggak semua lemak itu jahat ya.  masih ada lemak omega 3 dan 6 yang bagus. Bisa kita dapatkan dari minyak ikan maupun minyak zaitun,” ungkapnya.

Soebagioyo menyadari, tidak mudah menghidar dari olahan makanan seperti gorengan. Gorengan menjadi kudapan favorit, karena rasa gurihnya yang bikin nagih. Dari temuannya itu, Soebagio menekankan pentingnya membatasi konsumsi asam lemak bebas terutama asam lemak jenuh. “Batasi penggunaan minyak dan hindari makanan berlemak,” ungkapnya.

Gula maupun lemak sama-sama berpotensi merusak pankreas jika dikonsumsi berlebihan. Hal ini biasa dikenal dengan istilah glucose toxicity yang artinya gula dapat menyebabkan toksik bagi pankreas. Sementara istilah lipotoksisity berarti lemak berlebihan akan berdampak buruk langsung ke sel otot dan pankreas. Sehingga, keduanya berujung pada resisten insulin.

Resistensi insulin adalah awal dari terjadinya diabete tipe 2. Insulin tugasnya membawa glukosa masuk ke dalam sel otot dan sel-sel lain yang jadi target insulin. Kalau terjadi resistensi insulin, artinya insulin gagal membawa gula masuk kedalam otot dan sel lemak.

“Bayangkan ketika orang sehat berlebihan mengonsumsi asam palmitat, maka bisa terganggu juga. Kalau dibiarkan bisa jadi diabetes,” ungkapnya.

Minyak dalam bentuk asli sebenarnya tidak berbahaya. Namun setelah melalui proses pemanasan berulang kali, maka terjadi yang namanya trans fetty acid yang membahayakan jantung.

“Semakin sering minyak dipakai berulang kali, makin bahaya. Kita nggak tau ya kualitas minyak yang digunakan untuk menggoreng mendoan yang dijual di pinggir jalan, yang pasti lebih dari sekali,” ujarnya.

Proses penelitiannya dilakukan dengan memberikan treatment asam palmitat pada sel otot yang sehat, kemudian dilakukan pengamatan selama 16 jam. Hasilnya, asam palmitat merusak transporter glukosa di dalam otot.

Di luar proses uji laboratorium, dampak asam palmitat sebenarnya memerlukan waktu cukup lama dan proses yang panjang untuk bisa sampai ke sel.

“Makanan yang masuk harus melalui proses pencernaan dulu, lanjut ke tahap sirkulasi. Tapi kalau ditumpuk, lama-lama makin komulatif,” jelasnya.

Ketua Persatuan Diabetes Indonesia (PERSADIA) Cabang Surabaya sekaligus Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) Cabang Surabaya ini merasa prihatin melihat Indonesia berada di peringkat ke tujuh negara dengan prevalensi diabetes tertinggi di dunia.

“Selama 17 tahun Indonesia tidak pernah bisa keluar dari 10 besar negara dengan prevalensi tertinggi diabates di dunia. Mengapa? Mungkin ada yang salah dengan pola makan masyarakat kita selama ini,” ungkapnya.

Untuk pencegahan, maka penting memperhatikan pola makan serta pandai-pandai memilih makanan. “Kita harus tetap bisa menikmati tapi juga harus bisa membatasi,” ungkapnya. (*)

Penulis : Sefya Hayu Istighfaricha

Editor : Binti Q. Masruroh

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone