marsetio
UPACARA persemayaman jenazah alm. Prof. Marsetio Donosepoetro, di Aula Lantai I Rektorat UNAIR, Kampus C Mulyorejo, Minggu (19/11). Selamat jalan peletak pondasi pendidikan di UNAIR. (Foto: Bambang Bes)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Hari Sabtu 18 November 2017, Universitas Airlangga kehilangan salah satu putera terbaiknya yang dikenal secara nasional sebagai peletak dasar-dasar pendidikan, yang tidak saja di UNAIR tetapi juga Indonesia. Putera tersebut adalah Prof. Dr. Marsetio Donosepoetro, dr., SpPK (K)., Rektor UNAIR periode 1980-1984 dan Dubes RI untuk UNESCO di Paris tahun 1985-1990.

Almarhum wafat di rumah kediaman Jl. Dharmawangsa 27 Surabaya, dalam usia 87 tahun. Almarhum meninggalkan isteri, Dalisar Mohamad Sarin, tiga orang putera dan beberapa cucu dan cicit. Karena jasa-jasanya, sebelum dimakamkan di pemakaman Keputih Surabaya, dilakukan upacara persemayaman jenasah almarhum di Gedung Manajemen Universitas Airlangga (Rektorat), Minggu (19/11) pagi.

Ratusan pentakziyah memadati Aula lantai I Gedung Rektorat UNAIR. Selain pimpinan UNAIR seperti Ketua Senat Akademik Prof. Joewono Soesoso, Wakil Rektor II Dr. Moh Madyan, Wakil Rektor III Prof. Moh Amin Alamsyah, Wakil Rektor IV Dr. Junaidi Khotib, juga unsur dekanat seperti Dekan FK Prof. Soetojo dan wakil-wakil Dekan FK.

Tampak hadir juga Mantan Mendikbud Prof. Dr. Moh. Nuh, DEA., Rektor UNESA Prof. Dr. Warsono, MS., mantan Rektor UNAIR Prof. Soedarso Djojonegoro, Prof. Bambang Rahino Setokusumo, dan Prof. Soedarto, mantan Ketua Senat UNAIR Prof. Moh Amin, beberapa mantan Wakil Rektor UNAIR seperti Prof. Soetjipto, Dr. Edy Yuwono Slamet, SE., Dr. Suko Hardjono, dan puluhan Guru Besar UNAIR dan ratusan sivitas akademika UNAIR dan keluarga almarhum.

Wakil Rektor III UNAIR Prof. Moh Amin Alamsyah, dalam sambutannya menyatakan, almarhum adalah putera terbaik UNAIR. Tidak saja memberi teladan luar biasa tentang bagaimana membangun institusi pendidikan yang kita cintai ini, beliau juga mendirikan pondasi pendidikan baik di UNAIR dan di Indonesia. Kita bisa mencontoh setiap aktivitas almarhum dalam bagaimana membina karakter pribadi sebagai manusia.

”Rasulullah Muhammad SAW bersabda, apabila anak Adam meninggal dunia maka tertinggallah tiga amalan sebagai pahala. Pertama sodakoh jariyah. Kedua ilmu yang bermanfaat, dan ketiga anak yang soleh dan sholehah. Mudah-mudahan tiga amalan ini juga menyertai almarhum, sehingga kelak memudahkan beliau mendapat curahan kasih sayang dari Allah SWT di yaumil akhir,” tandas Prof. M. Amin Alamsyah.

marsetio
RATUSAN pentakziyah antre untuk mengucapkan duka-cita kepada isteri almarhum dan keluarga almarhum, usai persemayaman di Rektorat UNAIR, Minggu (19/11). (Foto: Bambang Bes)

Putera pertama almarhum, Kemal Imam Santoso Marsetio, MBA., yang saat ini menjabat Direktur Keuangan dan Inventaris BPJS Kesehatan, di depan ratusan pentakziyah mengaku merasakan hangatnya kekerabatan dan kekeluargaan dari para hadirin. InsyaAllah, katanya, ini semua karena almarhum. Karena itu, keluarga menyatakan iklas atas kepergian almarhum menghadap Allah SWT.

”Mungkin semasa ayah masih hidup dan pernah membuat janji yang belum dipenuhi, atau hutang-piutang yang belum lunas, hendaknya yang bersangkutan sudi menghubungi keluarga untuk diselesaikan, agar perjalanan almarhum menghadap Illahi menjadi lancar,” kata Kemal, alumnis FE UNAIR itu.

Putera kedua almarhum, Erwin Ramawan Marsetio (55) menjelaskan, kesehatan almarhum memburuk dua bulan terakhir. Setelah beberapa kali masuk dan keluar rumah sakit, almarhum merasakan badannya lemas. Tetapi tidak mau dibawa ke rumah sakit, sampai akhirnya meninggal di rumah kediaman tempat ia meniti kariernya semasa di UNAIR itu.

”Bapak orangnya disiplin, sholeh, selalu mengedepankan ahlak, tidak banyak bicara tapi memberikan contoh tindakan dan perilaku. Beliau juga tidak terlalu banyak meminta, jadi bapak bukan tipe orang yang ingin diperhatikan, tetapi lebih mendahulukan orang lain,”  tutur Erwin, staf Bagian Ortopaedi RSUD Dr. Soetomo/FK-UA ini.

Prof. Dr. Budi Santoso, Wakil Dekan II FK UNAIR membacakan riwayat alm. Marsetio Donosepoetro. Putera kelahiran Jakarta 30 Maret 1930 ini lulus FK UNAIR tahun 1961. Tetapi sejak 1956 sudah bekerja sebagai pegawai bulanan di Bagian Ilmu Faal Kimia FK UNAIR. Menjadi PNS tahun 1960. Tahun 1969-1970 menjabat Wakil Direktur RSUD Dr. Soetomo.

Tahun 1974-1980 menjadi Pembantu Rektor I UNAIR. Tahun 1974 merintis Unit Hemodialisis RSUD Dr. Soetomo. Tahun 1980 menjadi Guru Besar Ilmu Patologi Klinik FK UNAIR. Lalu dipercaya menjabat Rektor UNAIR (1980-1984), Dubes RI untuk UNESCO di Paris (1985-1990), dan tahun 1992-1997 menjadi Ketua Komisi IX (Bid. Pendidikan) DPR-RI. Sampai wafat Prof. Marsetio juga sebagai Guru Besar Emeritus Ilmu Patologi Klinik FK UNAIR. Selamat beristirahat Prof. Marsetio Donosepoetro. (*)

Penulis: Bambang Bes

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone