ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Suasana rumah Jalan Dharmawangsa 27, Surabaya, tersebut lain dari biasanya, Sabtu (18/11). Tenda besar menaungi halaman. Kursi-kursi memenuhi pelataran tersebut. Karangan bunga berjejer di depan pagar. Para pelayat terlihat datang silih berganti.

Keluarga besar Universitas Airlangga (UNAIR) berduka. Rektor periode 1980-1984, Prof. Dr. Marsetio Donosepoetro, dr. SpPK(K), meninggal dunia pada pukul 09.10 di usia ke 87 tahun. Belakangan ini, kondisi kesehatan Pendiri Bagian Patologi Klinik FK Unair – RSUD Dr Soetomo tersebut memang kerap menurun.

“Dedikasi almarhum untuk UNAIR sudah terbukti nyata. Bahkan, almarhum juga memberi sumbangsih kongkret bagi tanah air. Misalnya, saat menjadi Duta Besar RI di UNESCO (1985-1990, Red),” kata Rektor UNAIR Prof. Dr. Moh. Nasih, SE., MT., Ak., CMA saat melayat ke rumah duka.

Karangan bunga tanda duka cita dari para kerabat terus berdatangan.

Selama menjadi orang nomor satu di UNAIR, Guru Besar Fakultas Kedokteran (FK) ini dikenal sebagai pribadi yang tegas, disiplin, dan suka memberi teladan. Pembangunan karakter menjadi prioritas. Sehingga, para lulusan, dan semua sivitas akademika baik dosen maupun tenaga kependidikan, memiliki jiwa yang luhur. Bukan sekadar orang-orang kampus yang brilian dari segi akademik.

Prof Marsetio juga menjadi salah satu akademisi UNAIR yang mencetuskan gagasan “universialisasi” pendidikan. Maksudnya, semua disiplin ilmu seharusnya saling bersinergi. Sebagai contoh, ilmu kedokteran, selalu terhubung dengan ilmu-ilmu sosial. Demikian pula pada disiplin atau rumpun ilmu yang lain.

Semuanya saling ketergantungan dan melengkapi, guna meraih hasil optimal saat diimplementasikan di masyarakat. Tak ayal, lelaki kelahiran Jakarta 30 Maret 1930 itu juga kerap mengajar bidang-bidang ilmu sosial, baik di UNAIR, maupun di kampus lain.

Pria yang menjadi Guru Besar sejak 1980 ini populer pula dengan metode mengajarnya yang gayeng dan bersahabat. Sehingga, para mahasiswa lebih mudah mencerna materi perkuliahan. Pintu rumahnya selalu terbuka bagi para mahasiswa yang ingin datang berkonsultasi. Pemilik senyum ramah ini tidak pernah merasa terganggu dengan kehadiran anak didiknya. Tak heran, kedekatannya pada banyak kalangan membuatnya begitu dicintai orang-orang di sekitar.

Para pelayat terus berdatangan sebagai bentuk penghormatan.

Suami dari Dalisar Mohammad Sarin yang menikah pada 1959 ini pun tergolong sosok ayah yang dekat dengan keluarga. Hal itu disampaikan oleh dokter Erwin Ramawan Marsetio. “Almarhum memberi kami contoh melalui tindakan. Tidak suka banyak bicara. Selalu berpesan tentang pentingnya akhlak yang baik,” ungkap ahli ortopedi tersebut.

Diungkapkan putra kedua mendiang tersebut, selama ini, kakek dari lima cucu yang sudah memiliki dua cicit tersebut selalu mendahulukan kepentingan orang dan masyarakat. Yang menarik, meskipun tergolong sebagai dokter senior dan berpengalaman, Prof. Marsetio tidak pernah kehilangan fokus pada upaya pengembangan pendidikan atau dunia kampus. “Beliau peduli pada dunia pendidikan. Sangat peduli pada generasi yang akan datang,” urainya.

Rencananya, pada Minggu pagi (19/11) pukul 08.00, jenazah akan disemayamkan di gedung Rektorat UNAIR untuk memberi kesempatan para sivitas akademika yang ingin memberi penghormatan. Kemudian, pada 09.00, diberangkatkan ke Tempat Pemakaman Umum Keputih Surabaya.

Selamat jalan, Guru kami…

Riwayat Pendidikan :

Th. 1961                      : Lulus Dokter FK Universitas Airlangga

Th. 1961 – 1963          : Pendidikan Clinical Pathology di University of California

Th. 1972                      : Pendidikan Medical Education Management di Srilanka

Th. 1974                      : Brevet Spesialis Patologi Klinik

Th. 1974                      : Pendidikan Hospital Management di Leiden

Th. 1977                      : Pendidikan di University Management di OHIO University

Th. 1979                      : Pendidikan Research Management di University Los Panjos Manila

Th. 1982                      : Doctor of Science di OHIO University

Riwayat Pekerjaan:

Th. 1963 – 1974          : Pendiri Bagian Patologi Klinik FK Unair – RSUD Dr Soetomo dan

menjabat sebagai Kepala Bagian PK

Th. 1969 – 1970          : Wakil Direktur RSUD Dr. Soetomo

Th. 1974                      : Perintis Unit Hemodialisis di Bagian Patologi Klinik RSUD Dr.

Soetomo Surabaya

Th. 1974 – 1980          : Pembantu Rektor Unair Bidang Akademik

Th. 1978                      : Ketua SATGAS Pengembangan Sistem Pengajaran Pendidikan                                             pada Departemen Pendidikan & Kebudayaan

Th. 1980 – 1984          : Rektor Universitas Airlangga

Th. 1985 – 1990          : Duta Besar RI di UNESCO

Th. 1992 – 1997          : Ketua Komisi IX (Pendidikan) di DPR RI

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
mm

Alumnus S2 Media dan Komunikasi Universitas Airlangga. Penulis buku kumpulan esai “Menyikapi Perang Informasi”, kumpulan puisi “Balada Pencatat Kitab”, dan kumpulan cerita pendek “Merantau”. Editor foto dan berita di www.news.unair.ac.id. Bergiat di www.suroboyo.id.