Adian Napitupulu (baju putih) berpose bersama para mahasiswa UNAIR
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

BEM UNAIR ADAKAN SEMINAR TENTANG GERAKAN MAHASISWA DAN LAUNCHING BUKU “DARI AIRLANGGA BERGERAK UNTUK INDONESIA”

Gerakan mahasiswa hari ini dipandang dilematis, satu sisi mereka terhegemoni oleh perasaan heroik sejarah gerakan mahasiswa dahulu, seperti demontrasi 98. Di sisi lain, tuntutan peran dan konteks mahasiswa hari ini berbeda jika harus disamakan dengan gerakan mahasiswa seperti masa-masa sebelumnya. Sebagai upaya awal untuk membaca dan berusaha merumuskan gerakan mahasiswa yang ideal tersebut, BEM UNAIR 2017 melalui Kementerian Sosial dan Politik mengadakan Seminar Nasional dan Launching Buku bertemakan “Arah Gerak Mahasiswa Pasca Reformasi 98” yang bertempat di Aula Amerta Gedung Manajemen UNAIR Kampus C, Sabtu (18/11).

Seminar tersebut mengundang beberapa pembicara, yaitu Adian Napitupulu, selaku mantan aktifis yang hari ini menjabat sebagai anggota DPR-RI, Aribowo, Dosen FISIP UNAIR, dan dipandu oleh Linggar Rama Dian, Dosen FISIP UNAIR selaku moderator. Sebelumnya, dijadwalkan politisi kawakan Fahri Hamzah turut hadir dalam diskusi tersebut. Namun sayangnya, ketika hari H, yang bersangkutan melalui asisten pribadinya menyatakan tidak bisa hadir.

Dalam pemaparan awalnya, Aribowo lebih banyak berbicara tentang gerakan mahasiswa dari tinjauan teoritis historis, “Gerakan mahasiswa tidak bisa dilepaskan dari konteks teori modernis yang berkembang,” urai dia.

Dilanjutkan pria yang pernah menjadi Dekan Fakultas Ilmu Budaya ini, apa yang harus dilawan mahasiswa hari ini adalah potensi kecenderungan pemerintah yang terkesan otoritarinisme dalam merespon berbagai persoalan dewasa ini, seperti mengadukan pembuat meme ketua DPR ke jalur hukum.

Para pembicara menyuguhkan bahasan menarik

Pada sesi selanjutnya, Adian Napitupulu berpendapat bahwa dia tidak setuju ketika dikatakan pemerintah hari ini dicap otoriratianisme. Hal tersebut harus diuji dengan data-data di lapangan yang kuat serta memperjelas indikator apa yang digunakan untuk menilai. Dalam pembacaan arah gerakan mahasiswa, Adian lebih banyak menitikberatkan isu apa yang diangkat, bukan pada cara yang dipakai. “Gerakan mahasiswa hari ini jangan plagiat gerakan mahasiswa 98, oh, dulu presiden diturinin, sekarang Jokowi turunin juga. Itu logika yang keliru”, ujar anggota DPR Komisi VII tersebut.

Seminar tersebut ditutup dengan launching buku dari Kementerian Sosial Politik BEM UNAIR 2017. Buku yang berjudul “Dari Airlangga Bergerak untuk Indonesia” tersebut merupakan kumpulan kajian yang telah diselenggarakan Kementerian Sospol BEM UNAIR 2017 serta opini mahasiswa UNAIR. Di dalamnya memuat banyak topik yang diperbincangkan, mulai dari isu pembubaran HTI, Hak Angket DPR kepada KPK, tentang kasus Hukum Setyo Novanto, isu-isu kesehatan, arah gerak mahasiswa dan lain-lain.

“Buku ini sebagai wujud gerakan literasi yang dikembangkan BEM UNAIR dalam mengkaji-kaji isu dalam kapasitasnya sebagai mahasiswa. Ini adalah upaya publikasi bahwa gerakan apapun yang dilakukan BEM UNAIR memiliki landasan kajian yang bisa dipertanggungjawabkan” tutur Dian Dwi Jayanto, Menteri Sosial dan Politik BEM UNAIR 2017. (*)

Penulis: Tim BEM UNAIR

Editor: Rio F. Rachman

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone