Daya Saing Indonesia Meningkat Jadi Tujuan Kementerian PUPR

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
PUPR
Dari kiri, Direktur Utama PT semen Indonesia Hendi Priyo Santoso, Sekjen Kemen PUPR Prof Anita Firmanti, Direktur Pemberitaan Media Indonesia Usman Kansong, Wakil Rektor Universitas Airlangga 4 Junaidi Khotib, S.Si., Apt., M.Kes., Ph.D., dan moderator dalam acara PUPR Goes To Campus 2017. (Foto: UNAIR NEWS)

UNAIR NEWS – Jalan menjadi salah satu infrastruktur yang diprioritaskan untuk memperlancar jalur distribusi di Pulau Jawa. Gencarnya pembangunan infrastruktur itu menaikan peringkat daya saing Indonesia ke posisi ke-36. Hal tersebut menunjukan Indonesia memiliki daya saing yang bagus dalam urusan kompetisi global.

”Kementerian PUPR terus mendorong pembangunan jalon tol, MRT, dan kereta cepat Jakarta–Surabaya yang menjadi perhatian utama,” ucap Sekjen PUPR Prof. (R). Dr. Ir. Anita Firmanti Eko Susetyowati, MT., dalam acara PUPR Goes To Campus di Airlangga Convention Center, Rabu (15/11).

”Untuk upaya mendukung ketahanan pangan dan rehabilitas irigasi, perbaikan kawasan kumuh yang mencapai 30 ribu hektare turut dilakukan. Ini upaya PUPR dalam memeratakan pembangunan di Indonesia,” terangnya.

Langkah semacam ini, menurut Anita, merupakan upaya kementerian PUPR dalam meningkatkan daya saing Indonesia. Dalam acara Kementerian Goes to Campus bertema ”Mengambil Manfaat Pembangunan Infrastruktur PUPR di Pulau Jawa”, aspek-aspek yang memengaruhi sasaran infrastruktur turut disampaikan. Salah satunya, demografi.

Perlu diketahui, sebanyak 70 persen penduduk Indonesia bertempat tinggal di Pulau Jawa. Jadi, lanjut dia, ditambah angka urbanisasinya yang tinggi, di Pulau Jawa, kami memfasilitasi itu untuk mendapat hasil yang optimal dalam pembangunan infrastruktur. Dukungan infrastruktur sangat diperlukan untuk meningkatkan daya saing ekonomi Indonesia.

”Kelancaran jalur distribusi akan meningkatkan ekonomi rakyat. Bila ekonomi meningkat, rakyat ikut sejahtera,” imbuhnya.

Menanggapi hal itu, Junaidi Khotib, S.Si., Apt., M.Kes., Ph.D., menyatakan bahwa peran akademisi adalah menyiapkan sumber daya agar pengembangan infrastruktur itu bisa didukung tenaga-tenaga yang handal. Perguruan tinggi berperan sebagai penjembatan antara pemerintah dan masyarakat. Hal yang timbul dari dampak pembangunan tersebut bisa diantisipasi pemerintah dengan baik. Termasuk diterima masyarakat.

Pembangunan dan pengembangan infrastruktur bisa berjalan dengan baik serta masyarakat bisa mengoptimalkan hasilnya.
Di sisi lain, UNAIR juga sudah tergabung dalam university network for infrastructure development. Jadi, UNAIR mendapat kesempatan untuk mengambil bagian dalam pengembangan infrastruktur di Indonesia.

”Mulai membangun infrastruktur konektivitas dari satu tempat ke tempat lainnya seperti jalan tol hingga ditujukan untuk ketahanan pangan. Misalnya, pembangunan agrobisnis. Kami terlibat di situ,” pungkasnya.

Penulis: Helmy Rafsanjani

Editor: Feri Fenoria

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu