Book Sale
MUMPUNG MURAH: Beberapa pengunjung melihat dan memilih buku-buku murah dalam Airlangga Book Sale (ABS) 2017 di depan gedung Rektorat Kampus C Universitas Airlangga. (Foto: Charisma Setya)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Memperingati dies natalis ke-63, Universitas Airlangga mengadakan program pendidikan yang terkait dengan dunia literasi. Yakni, menggelar bazar buku murah bertajuk Airlangga Book Sale (ABS) 2017.

“Ini sekaligus bentuk dukungan UNAIR, terutama Departemen Ilmu Informasi dan Perpustakaan (IIP), kepada Kota Surabaya dalam meraih predikat kota literasi yang dicanangkan Wali Kota Tri Rismaharini,” ungkap Diyas Adi Pratama, ketua pelaksana ABS 2017.

Berdasar data United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO) atau Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB, literasi Indonesia menempati peringkat kedua terendah sedunia. Yakni, peringkat ke-60 di antara 61 negara.

Bahkan, sesuai dengan hasil survei organisasi itu pada 2015, di antara 1.000 orang, hanya ada 1 orang Indonesia yang suka membaca. Artinya, minat baca masyarakat hanya 0,0001 persen. Kondisi tersebut dipertegas hasil survei Perpustakaan Nasional pada tahun yang sama yang menunjukkan hal serupa, berkategori rendah. Yakni, hanya berada di angka 25,1 persen.

Karena itu, UNAIR turut serta mengantisipasi laju rendahnya angka minat baca masyarakat, terutama di Surabaya, melalui program tersebut. Yakni, menyediakan buku-buku murah bagi kalangan mahasiswa serta masyarakat umum berupa ABS 2017.

Airlangga Book Sale 2017 merupakan kegiatan yang kali kedua dilaksanakan IIP UNAIR. Bertema ”Social Movement”, kali ini event itu cukup diminati masyarakat. Sesuai dengan data panitia, terlihat perbedaan yang sangat mencolok jika dibanding ABS tahun lalu.

”Tahun ini rata-rata, per hari, terjadi peningkatan jumlah pengunjung. Yakni, hari pertama mencapai 300 pengunjung. Hari kedua 400 orang. Tahun kemarin jumlahnya stagnan. Total hingga hari terakhir, ABS 2017 dikunjungi 3.000 orang dari berbagai kalangan,” ucap Diyas.

Selain pameran buku-buku murah, dalam ABS 2017, digelar beberapa kegiatan yang lain. Di antaranya, talk show tentang perkembangan literasi di Surabaya; diskusi film Menolak Tergusur; bedah buku; dan konser amal untuk pendidikan yang ditujukan untuk Yayasan Sekolah Sungai, yaitu program dari komunitas Urban Care.

Dilaksanakan pada Senin–Sabtu (6–11/11), bazar itu menyediakan buku murah untuk berbagai kalangan. Mulai buku anak, pelajaran, novel, tentang teknologi, majalah, resep, sejarah, biografi, kamus, hingga buku-buku kuliah. Ketersediaan buku-buku tersebut merupakan bentuk hasil kerja sama ABS 2017 dengan empat penerbit. Yakni, Gramedia, Mizan, Agro Media, dan Airlangga University Press (AUP).

Sementara itu, Diyas berharap pelaksanaan ABS 2017 turut mendorong dan berimplikasi nyata terhadap program literasi yang dicanangkan wali kota Surabaya. Yakni, turut meningkatkan minat baca masyarakat melalui penyediaan buku-buku murah.

Dengan begitu, indeks perhitungan atau ranking minat baca Indonesia, terutama di Surabaya, meningkat. ”Sebab, di ASEAN saja, kita kalah dengan Myanmar. Bahkan, kita jauh tertinggal dibanding Malaysia,” imbuh mahasiswa angkatan 2014 tersebut. (*)

Penulis: Feri Fenoria

Editor: Nuri Hermawan

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone