Sambang Almamater
Dekan FEB UNAIR Prof. Dian bersama Menteri ESDM Ignasius Jonan. (Foto: Istimewa)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Seiring berjalannya waktu, perkembangan industri sudah menapaki revolusi ke-4, yakni mulai berkembangnya sistem otomatis yang berbasis big data. Sehingga, peran manusia seolah tergantikan oleh robot. Menanggapi hal itu, Kementerian Energi dan Sumber daya Mineral (ESDM) Republik Indonesia terus berkembang mengikuti dinamika zaman, utamanya dalam mewujudkan energi-energi terbarukan.

“Industri sangat bergantung pada listrik, lantas kalau tarif listrik harus terus naik, ngapain ada Menteri ESDM. Kita cari alternatif untuk tarif listrik dan banyak hal yang bisa dilakukan, termasuk efisiensi produksi,” tutur Ignasius Jonan, Menteri ESDM dalam paparannya di gelaran International Development Student Conference, Jumat (10/11).

Jonan yang juga alumni FEB UNAIR itu memaparkan, rasio elektrifikasi saat ini mencapai 93.03% dan akan ditargetkan mencapai 97% dalam kurun waktu dua tahun. Saat ini, menurut Jonan, terdapat 2500 desa yang belum menikmati listrik, bahkan lebih dari 1000 berada di Papua. Tidak hanya itu, lebih dari 10.000 desa menikmati listrik sepertiga atau hanya setengah saja. Maka dari itu, tarif listrik harus turun karena seharusnya kebutuhan listrik tersebut terpenuhi.

“Beberapa desa telah diberi lampu hemat energi yang dipasangkan hingga menyala dan dapat bertahan hingga 5 tahun,” tambahnya.

Disamping itu, program Bahan Bakar Minyak (BBM) satu harga merupakan langkah kreatif. Di Wamena saja sebelumnya harganya mencapai Rp 40.000/liter. Dalam perkembangannya selama ini, masih ada 100 kecamatan yang harus disentuh dalam kurun waktu 2 tahun ini.

Pria kelahiran Singapura, 21 Juni 1963 itu juga memberikan motivasi untuk menjadi generasi muda agar terus berkembang.

“Apa yang saya alami selama ini semakin tidak relevan, pengalaman tidak relevan, semua matrik ekonomi pasti berubah. Mungkin yang dipelajari saat ini 70% jauh berbeda. Sehingga kita harus mengasah diri mengikuti zaman, bahkan kalau bisa mendahului zaman. Satu hal yang terus relevan, wisdom,” pesannya.

Penulis : Siti Nur Umami

Editor  : Nuri Hermawan

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone