Menteri ESDM sekaligus alumni UANIR Ignasius Jonan saat menyampaikan orasi. (Foto: Helmy Rafsanjani)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Menteri ESDM RI Ignasius Jonan menjadi keynote speech dalam puncak Dies Natalis Universitas Airlangga, Jumat (10/11). Dalam orasinya, sejalan dengan tema Dies Natalis UNAIR yakni Untuk Indonesia Adil dan Beradab, Jonan menekankan bahwa keadilan sosial bagi seluruh masyarakat di Indonesia harus terus berjalan.

Dalam paparannya, Jonan yang merupakan alumnus Akuntansi Fakultas Ekonomi (sekarang Fakultas Ekonomi dan Bisnis) UNAIR itu mengatakan, ada lima indikator ekonomi positif yang dalam tiga tahun terakhir terus diperangi. Lima indikator itu adalah kemiskinan, pertumbuhan ekonomi, inflasi, ketimpangan, dan pengangguran.

Dalam orasi yang berlangsung di Aula Garuda Mukti Kantor Manajemen Kampus C UNAIR itu, Jonan mengajak peserta untuk tidak menggunkan produk bersubsidi demi pemerataan pembangunan di Indonesia.

“Kalau mampu nggak pakai subsidi, ya jangan minta pakai subsidi. Saudara-saudara kita yang ada di luar Jawa lebih membutuhkan,” ungkap Jonan.

Jonan memaparkan, daerah di Papua yang sudah memiliki aliran listrik masih dalam angka kurang dari 50 persen. Untuk itu, ia membutuhkan bantuan berbagai pihak agar pemerataan pembangunan bisa berjalan.

Sebagai bagian dari upaya keadilan sosial di seluruh wilayah di Indonesia, Jonan mengatakan, dalam kepemimpinannya telah menyelesaikan pembangunan diantaranya Bandara Domine Edward Osok, Sorong, Papua Barat; Bandara Jalaluddin, Gorontalo; Bandara Komodo, Labuan Bajo, NTT; Bendungan Jatigede, Jawa Barat; Bendungan Nipah, Jawa Timur; Bendungan Rajui, Aceh; dan Bendungan Titab, Bali. Selain itu, ada 6 Pos Lintas Batas Negara (PLBN) yang dibangun serta beberapa pembangkit listrik.

Dalam orasi itu Jonan menekankan, zaman terus berkembang, tantangan pembangunan di Indonesia semakin besar. Ia berharap, dengan perayaan Dies Natalis ke-63, UNAIR turut serta membangun iklim pendidikan yang memungkinkan lulusannya menjadi pemimpin yang mampu menciptakan keadilan sosial dimanapun mereka berada.

“Dari waktu ke waktu, tantangan zaman terus bermunculan. Tapi, keadilan sosial harus terus berjalan,” ujar Jonan. (*)

Penulis : Binti Q. Masruroh

Editor : Nuri Hermawan

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone