Puisi dan Ceramah Gus Mus Akhiri Serangkaian Islamic Days 2017

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Gus Mus
Gus Mus saat mengisi ceramah di Aula Utama Masjid Ulul Azmi UNAIR. (Foto: Istimewa)

UNAIR NEWS – Kehadiran KH. Ahmad Mustofa Bisri untuk pertama kalinya di Masjid Ulul Azmi Universitas Airlangga pada Minggu malam (5/11) disambut dengan Salawat Thalaal Badru. Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin Rembang tersebut hadir untuk menutup serangkaian acara Islamic Days 2017 Mosaic, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Airlangga.

Dengan tema utama ‘‘Kau Disini Hidup Untuk Apa’’, Kiai yang akrab disapa Gus Mus tersebut membawakan sejumlah wejangan mengenai tujuan hidup manusia dengan cukup sederhana dan sesekali berinteraksi dengan para jamaah dengan canda khasnya.

Alumni Universitas Al-Azhar tersebut awalnya mengajak para hadirin untuk membayangkan betapa besarnya bumi ini, jika dibandingkan dengan dengan luasnya semesta, yang merupakan kuasa Allah azza wajalla. Gus Mus pernah berbicara kepada salah seorang profesor dengan menyebutkan bahwa bumi ini ibarat sebutir kacang hijau dibandingkan dengan besarnya semesta, tapi ungkapan beliau justru disayangkan karena terlalu besar, menurut profesor tersebut bahkan lebih kecil dari sebutir debu. Akan tetapi Gus Mus menjawab bahwa debu itu sulit diibaratkan dari pada kacang hijau.

‘‘Dimana Surabaya dalam kacang hijau itu, bagaimana 7,5 milyar manusia dalam kacang hijau tersebut ? Kita ini sangat-sangat kecil, bagaimana bisa manusia masih bisa sombong dan arogan jikalau kita ini bagian kecil dari kacang hijau,’’ Ujarnya.

Dalam memaknai kalimat Allahu Akbar, Kyai yang juga suka menulis tersebut itu mengajak hadirin untuk selalu mentadabburi kebesaran Allah SWT. Dengan meyakini bahwa Allah itu maha besar, lebih besar dari apapun. Namun, jika belum bisa membesarkan Allah, maka kecilkanlah diri anda, anda bukanlah apa-apa.

‘‘Kalau kita tidak bisa membesarkan Allah, ya kecilkan dirimu, katakan pada dirimu aku ini kecil sekali,’’ ungkap kyai yang aktif menulis buku tersebut.

Penulis Buku Fikih Keseharian tersebut juga mengapresiasi mahasiswa yang hadir pada majelis ilmu itu. Gus Mus menyatakan bahwa yang disukai dari mahasiswa adalah kemapuan berfikir. Selalu bertanya, mengapa, mengapa dan mengapa. Karena di tengah-tengah masyarakat banyak orang yang hidup tanpa berfikir, bahkan untuk diajak berfikir saja tidak mau.

‘‘Fakultas Ekonomi dan Bisnis ngaji, itu luar biasa.’’ Ucap Gus Mus diawal acara.

Dalam kaitanya dengan kehidupan bermasyarakat, Kyai asal Rembang terbebut melihat bahwa masyarakat perlu mengetahui bahwa hubungan baik dengan manusia merupakan bagian dari ibadah ghoiru mahdhoh. Artinya, tidak hanya ibadah wajib seperti sholat, zakat, puasa dan haji. Akan tetapi memberi bantuan kepada orang lain, jujur, berbuat tanpa pamrih, bekerja, ataupun belajar itu juga termasuk kategori lain dari ibadah.

“Nabi Muhammad adalah manusia yang paling manusia. Jika engkau ingin menjadi manusia yang seutuhnya maka ikutilah Nabi Muhammad,’’ ungkap Gus Mus.

Atho’ur Rohman, selaku ketua panitia tampaknya puas dengan berjalanya Islamic Days 2017, ditambah lagi dengan hadirnya KH. Ahmad Mustofa Bisri di puncak acara.

‘‘Alhamdulillah, Islamic Days di tahun kedua ini, kami dapat menghadirkan Gus Mus, semoga mahasiswa dan masyarakat sekitar dapat ilmu dari beliau,’’ Ujar Atho’ur Rohman, Mahasiswa Ekonomi Islam 2015.

Di bagian akhir acara, KH. Musthofa Bisri diminta oleh salah seorang hadirin untuk membaca salah satu puisi yang pernah ia buat pada tahun 2005 yang berjudul, Allahu Akbar. Begini sajaknya.

Allahu Akbar!
Pekik kalian menghalilintar
Membuat makhluk-makhluk kecil tergetar
Allahu Akbar!

Allah Maha Besar
Urat-urat leher kalian membesar
Meneriakkan Allahu Akbar
Dan dengan semangat jihad
Nafsu kebencian kalian membakar
Apa saja yang kalian anggap mungkar
Allahu Akbar, Allah Maha Besar!
Seandainya 5 milyar manusia
Penghuni bumi sebesar debu ini
Sesat semua atau saleh semua
Tak sedikit pun mempengaruhi
KebesaranNya
Melihat keganasan kalian aku yakin
Kalian belum pernah bertemu Ar-Rahman
Yang kasih sayangNya meliputi segalanya
Bagaimana kau begitu berani mengatasnamakanNya
Ketika dengan pongah kau melibas mereka
Yang sedang mencari jalan menujuNya?
Mengapa kalau mereka
Memang pantas masuk neraka
Tidak kalian biarkan Tuhan mereka
Yang menyiksa mereka
Kapan kalian mendapat mandat
Wewenang dariNya untuk menyiksa dan melaknat?

Allahu Akbar!
Syirik adalah dosa paling besar
Dan syirik yang paling akbar
Adalah mensekutukanNya
Dengan mempertuhankan diri sendiri
Dengan memutlakkan kebenaran sendiri.

Laa ilaaha illaLlah!

Penulis : Ahalla Tsauro

Editor : Nuri Hermawan

 

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave a Replay

Close Menu