Dewi Lestari Ajak Mahasiswa Kenali Potensi Diri

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Dewi Lestari atau Dee saat memberikan motivasi kepada peserta Women Hero. (Foto: Binti Q. Masruroh)

UNAIR NEWS – Salah satu penulis kenamaan Indonesia, Dewi Lestari memberikan suntikan motivasi kepada ratusan mahasiswa melalui talkshow Perempuan Kontemporer: Perjuangan Mengisi Kesempatan di Universitas Airlangga, Minggu (29/10). Dalam talkshow itu, Dee nama pena Dewi Lestari, mengajak peserta untuk menempa passion menjadi sebuah skill.

Bagi Dee penting untuk seseorang mengenali passion diri. Pasalnya, dengan itu seseorang tahu apa yang bisa diberikan untuk lingkungannya. Dee juga bertutur bahwa setiap dari kita memang unik dan berbeda.

“Kita tidak perlu bicara masalah-masalah yang besar. Kalau masing-masing dari kita menyalurkan bakat yang kita miliki untuk kemanfaatan bersama, perbaikan akan terwujud,” tuturnya.

Dee pun melanjutkan beberapa untaian motivasi dengan pembawaannya santai mamun meyakinkan. Kepada ratusan mahasiswa yang datang ia meyakinkan bahwa apapun passion yang dimiliki seseorang, pastikan bahwa ia menjadi yang terbaik.

“Kalau jadi dokter, pastikan jadi dokter terbaik. Kalau jadi insinyur, pastikan jadi insinyur terbaik. Kalau jadi arsitek, pastikan jadi arsitek terbaik. Begitu juga dengan penulis,” ucap Dee.

Lantas, bagaimana mengetahui apa passion seseorang? Dee menjelaskan bahwa passion adalah ketika seseorang rela mengerjakan sesuatu tanpa ada yang menyuruh dan meminta. Senang meskipun imbalan yang datang mungkin tak seberapa. Passion yang ditekuni akan menjadi sebuah skill.

“Latihlah passion menjadi sebuah skill. Skill adalah tiket utama di era globalisasi ini,” imbuh penulis yang dua novelnya sukses difilmkan itu, Perahu Kertas dan Filosofi Kopi.

Menjadi penulis

Bagi Dee, perjuangan pertama seorang penulis adalah membubuhkan kata ‘tamat’ di akhir buku, artinya mampu menyelesaikan karya. Banyak seseorang yang menyukai aktivitas menulis, tapi, tidak banyak dari mereka yang mampu menyelesaikannya menjadi sebuah karya. Baginya, karya yang ditulis hingga selesai adalah sebuah hadiah. Diterbitkan atau bahkan mendapatkan penghargaan, selanjutnya adalah bonus.

Selanjutnya, kebutuhan lain sebuah karya adalah didengar, seorang pembaca atau kritikus yang akan memberikan feedback. Ia bahkan pernah hampir setahun bertubi-tubi mendapatkan kritikan atas Supernova dalam berbagai tanggapan, baik tanggapan baik maupun buruk. Ujian penulis yang kedua, adalah menyikapi reaksi mereka.

“Ujian selanjutnya tentu adalah berkarya lagi. Menulis adalah skill yang seumur hidup terus dipelajari. Intinya, kita harus terus seperti spoon yang akan terus menyerap banyak,” kisah penulis yang pernah tergabung dalam trio Rida Sita Dewi itu.

Dee mengaku, inspirasi dari karya yang ia hasilkan lahir dari kesehariannya dalam menjalani aktivitas. Seperti Filosofi Kopi misalnya, ia ciptakan menjadi fiksi lantaran dirinya yang begitu mencintai kopi. Atau Madre, karya fiksi yang ia ciptakan dari hobinya akan kegiatan memasak.

Selanjutnya, riset. Riset dan data adalah hal penting sebelum seseorang menulis novel fiksi. Namun dalam kacamata Dee, penceritaan yang baiklah modal utama menulis sebuah novel.

“Bukan soal data dan fakta yang kita dapatkan, tapi bagaimana merangkainya menjadi fiksi yang meyakinkan.” Ucap Dee.

Dari Supernova, Dee pernah diundang Departemen Fisika FMIPA UI untuk bicara tentang fisika, mata pelajaran yang bahkan, ia selalu mendapat nilai buruk ketika duduk di bangku sekolah. Penulis harus berpandangan luas, melampaui batas, ujarnya.

Sebagai closing statement, Dee berpesan kepada seluruh peserta. “Setiap manusia adalah unik, setiap diri seseorang menyimpan potensi. Temukan apa yang kalian suka, gali itu, dan hauslah untuk selalu belajar,” kata Dee.

Selain Dee, ada beberapa sosok inspiratif yang mengisi talkshow yang berlangsung dalam beberapa sesi itu. Mereka adalah Niken dari Deputi Persamaan Gender Kementerian Pemberdayaan Perempuan, Suraiya Kamaruzzaman aktivis perempuan dan pendiri Lembaga Swadaya Masyarakat Bunga Aceh, Genie Anggita Creative Director, dan Merrie Elizabeth seorang entrepreneur. (*)

Penulis: Binti Q. Masruroh

Editor : Nuri Hermawan

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu