Membentuk Karakter Bangsa Lewat Cerita Wayang

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
wayang
SEMINAR bertema Antara Wayang, Museum, dan Pendidikan Karakter Bangsa di Museum Mpu Tantular Sidoarjo, Jawa Timur. (Dok. Pribadi)

UNAIR NEWS – Budaya adalah identitas setiap bangsa yang perlu dilestarikan. Salah satu pihak yang memiliki kewajiban untuk menjaga serta melestarikannya ialah pemuda Indonesia, termasuk mahasiswa. Salah satu bukti yang telah dilakukan mahasiswa Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Airlangga kali ini adalah menghadiri seminar bertema Antara Wayang, Museum, dan Pendidikan Karakter Bangsa di Museum Mpu Tantular Sidoarjo, Jawa Timur.

Acara pada 20 Oktober 2017 itu didatangi mahasiswa yang berkonsentrasi di bidang budaya serta beberapa dosen. Pada seminar kali ini, dihadirkan pemateri, antara lain, Ki Sinarto selaku dalang wetan dan Prof. Dr. Joko Saryono, M.Pd sebagai dosen fakultas sastra pascasarjana di Universitas Negeri Malang. Pada awal acara, materi seminar disampaikan Joko, yaitu menjelaskan nilai filosofis cerita dalam lakon wayang Jawa.

Dalam penjelasannya, Joko menyatakan bahwa wayang memberikan gambaran lakon peri kehidupan manusia dengan segala masalahnya yang menyimpan nilai-nilai pandangan hidup dalam mengatasi segala tantangan dan kesulitan. Dalam wayang, selain tersimpan moral dan estetika, terdapat nilai-nilai pandangan hidup masyarakat Jawa. Akademisi Universitas Negeri Malang tersebut menuturkan, melalui wayang, orang memperoleh cakrawala baru tentang pandangan dan sikap dalam menentukan kebijakan mengatasi tantangan hidup.

Sesuai dengan tema yang diangkat, narasumber mengungkapkan bahwa cerita wayang selalu memuat nilai pendidikan. Karena itu, wayang bisa digunakan sebagai salah satu media untuk mengubah tingkah laku atau sikap seseorang dalam mendewasakan manusia. Cerita wayang tidak saja merupakan salah satu sumber pencarian nilai-nilai bagi kelangsungan hidup masyarakat, tapi juga wahana atau alat pendidikan.

”Wayang merupakan masterpiece of oral and intangible heritage of humanity. Dengan kata lain, wayang merupakan warisan budaya dunia nonbendawi yang telah ditetapkan UNESCO pada 7 November 2003. Dan, pastinya wajib dilestraikan,” ungkap Joko.

Selanjutnya, Ki Sinarto menyampaikan bahwa budaya tidak boleh disangkutpautkan dengan salah satu agama. Tidak ada pendoktrinan agama dalam pelestarian budaya. ”Jika kita berbicara tentang budaya, jangan membawa-bawa agama untuk disangkutpautkan. Lihat saja budaya itu dari segi budayanya. Sebab, bila tetap dipandang menjadi satu, akan muncul perdebatan yang tak kunjung usai,” tutur Ki Sinarto.

Selain itu, kepada generasi penerus, dia berpesan keberadaan dan kelestarian  budaya di Indonesia berada di tangan para pemuda Indonesia. Hancur atau lestarinya budaya Indonesia bergantung pada bagaimana sikap serta tindakan pemegangnya.

Pada akhir seminar, Joko mengungkapkan bahwa dalam sejarah perkembangan dunia wayang, inovasi terus dilakukan para pelaku budaya, mulai raja-raja terdahulu  hingga pewaris kebudayaan tersebut, yaitu para dalang. Kehadiran inovasi itu memperkaya khazanah wayang bagi bangsa yang memiliki karakter budaya tersebut.

Karena itu, sebuah inovasi sangat penting hingga nanti harus difokuskan pada upaya menjaga nilai-nilai kearifan lokal di Indonesia. Selanjutnya, budaya bisa menjadi pagar utama pertahanan bangsa yang kelak bisa menjadi pengarah bangsa dalam berkreasi. (*)

Penulis: Ainul Fitriyah

Editor: Feri Fenoria

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Replay

Close Menu