Rumah Pancasila
Ketiga mahasiswa penggagas 'Rumah Pancasila'. (Foto: Binti Quryatul M)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Tiga mahasiswa Universitas Airlangga mengembangkan gagasan ‘Rumah Pancasila’ dan mengikutsertakannya dalam lomba yang diadakan oleh Kementerian Riset dan Teknologi Pendidikan Tinggi (Kemenristek Dikti). Gagasan itu muncul atas respon kepedulian mereka terhadap isu SARA yang banyak bergulir di masyarakat akhir-akhir ini.

Ketiga mahasiswa itu adalah Achmad Maralda Ainin Ghifari mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat, Niko Rokhman Syahputra mahasiswa Fakultas Vokasi, dan Gita Kurnia Widiastutik mahasiswa Fakultas Keperawatan. Mereka terpilih dalam 20 besar finalis yang mempresentasikan gagasan tersebut di Bekasi pada akhir September lalu.

Ketiganya ditunjuk untuk mempresentasikan gagasan ‘Rumah Pancasila’ dalam diskusi acara Study Excursie di Trawas, Mojokerto, Sabtu (21/10).

Dalam gagasan yang mereka buat, ‘Rumah Pancasila’ merupakan lembaga bagi masyarakat Indonesia untuk memahami kembali Pancasila sebagai ideologi dan falsafah hidup berbangsa dan bernegara. Sasaran kader ‘Rumah Pancasila’ adalah para karang taruna di desa-desa yang ada di setiap daerah di Indonesia.

Untuk menjalankan gagasan ini, mulanya para karang taruna dilatih oleh pihak tekait di pemerintahan yang mengemban amanah dalam bidang pengamalan Pancasila. Untuk menjamin bahwa kader telah memenuhi persyaratan, pelatihan tersebut menggunakan metode 4M, yakni menghafal, memahami, menerapkan, dan menyebarkan.

Indikator keberhasilan terletak pada 45 butir Pancasila yang tertuang dalam Tap MPR no. 1/MPR/2003. Kader inilah yang nantinya menyebarkan ilmu yang mereka kepada masyarakat.

“’Rumah Pancasila’ menjadi rumah bagi masyarakat Indonesia untuk kembali memahami dan menerapkan Pancasila sebagai sebuah ideologi,” ujar Aldo.

Mulanya, ketiga mahasiswa itu minder untuk mengikuti lomba dengan nama Kompetisi Pemikiran Kritis Mahasiswa. Terlebih, ketiganya adalah mahasiswa dengan jurusan kesehatan. Namun, dukungan muncul dari banyak pihak, salah satunya Dr. Listiyono Santoso, M.Hum yang berperan sebagai dosen pembimbing.

“Mulanya kami minder karena dari kesehatan. Namun Pak Lis bilang bahwa pancasila harusnya jadi bahasan semua mahasiswa, bukan hanya FISIP dan Hukum. Kalau hanya milik mereka, berarti Pancasila bukan menjadi dasar negara,” ujar Aldo.

Meskipun gagasan mereka berhenti menjadi 20 besar finalis, namun ketiganya memiliki harapan besar agar ‘Rumah Pancasila’ dapat diimplementasikan sebagai sebuah lembaga yang berperan di masyarakat. Ketiganya mengaku, gagasan ‘Rumah Pancasila’ masih jauh dari hitungan sempurna. Untuk itu, mereka terbuka terhadap kritik dan saran agar gagasan ‘Rumah Pancasila’ menjadi model yang lebih baik.

“Nggak papa nggak menang, asalkan suatu saat bisa direalisasikan. Karena kami rasa ini sangat penting sekali. Mengingat isu-isu SARA banyak bermunculan di Indonesia,” ujar Gita. (*)

Penulis : Binti Quryatul M

Editor : Nuri Hermawan

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone