Study Excursie
Suasana paparan materi pada Study Excursie 2017 di Trawas. (Foto: Binti Quryatul M)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Direktur Pendidikan Universitas Airlangga Prof. Bambang Sektiari melepas 288 mahasiswa dari seluruh fakultas untuk mengikuti study excursie, Sabtu (21/10). Berbeda dengan tahun sebelumnya, study excursie dengan tema Implementasi Nilai-nilai Pancasila dalam Kehidupan Kampus tahun ini dilaksanakan di Trawas, Mojokerto.

Prof. Bambang dalam sambutannya sebelum melepas mahasiswa berharap, seusai acara study excuersie yang akan berlangsung dua hari itu, mahasiswa dapat mengimplementasikan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.

“Mudah-mudahan setelah mengikuti study excursie mahasiswa bisa membawa nuansa Pancasila di kampus maupun di masyarakat, bukan hanya untuk dirinya sendiri,” ujar Prof. Bambang.

Study excursie yang outputnya berupa implementasi nilai-nilai Pancasila itu, para peserta mendapatkan materi langsung dari Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila. Mereka adalah Prof. Haryono dan Drs. Bambang Budiono, M.Si.

Study excursie ini berada langsung di bawah Mata Kuliah Wajib Universitas (MKWU). Ketua MKWU Dr. Listiyono Santoso, M.Hum dalam sambutannya sebelum pemberian materi oleh narasumber  mengatakan, semua mahasiswa UNAIR jurusan apapun harus memiliki karakter yang sama. Untuk itu, mereka mengikuti sudy excursie ini agar mandat kampus sebagai lembaga yang mendidik mahasiswa memiliki nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila dapat terwujud.

“Kalau lulus dari UNAIR tapi masih memiliki sikap rasis, berarti ada masalah serius dalam pembelajarannya di kampus,” ujar Listiyono.

Nilai-nilai Pancasila itu dikatakan Listiyono harus tercermin dalam norma-norma. Norma-norma tidak cukup diajarkan dalam bangku perkuliahan, namun harus diwujudkan dalam perilaku bermasyarakat.

Berfikir Radikal

Sementara itu, kepada seluruh peserta Bambang Budiono menganjurkan agar mereka menjadi mahasiswa yang radikal. Radikal yang dimaksud adalah mahasiswa mampu membongkar sebuah pemikiran hingga ke akar-akarnya.

“Kalau tidak berpikir radikal, tidak akan berinovasi dan menemukan hal-hal baru. Yang tidak boleh adalah radikal berbasis SARA,” ujar Bambang.

Dalam sesi diskusi, Haryono berharap para peserta dapat menjadi kelompok pemuda yang kreatif, serta pemuda yang mampu menyikapi segala perbedaan. Sebab, Pancasila sebagai ideologi bangsa adalah wujud dari segala perbedaan masyarakat Indonesia yang mampu dipersatukan.

“Ketika bangsa lain sudah berbicara tentang kemungkinan manusia hidup di Mars dan planet lain, kita masih sikut-sikutan tentang SARA. Saya berharap, adik-adik muda ini dapat menjadi kelompok-kelompok kecil yang kreatif, melihat segala sesuatu dengan cara pandang yang baru,” papar Haryanto.

Rangkaian study excursie pada siang hari usai materi dilanjutkan dengan sesi berpikir kritis dengan metode THINK, Total Recall, Habits, Inquiry, News Ideas and Creativity, dan Knowing How You Think. (*)

Penulis : Binti Q. Masruroh

Editor  : Nuri Hermawan

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
mm
Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).