“Jagongan” Ringan Bahas Isu Radikalisme dan Terorisme

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
radikalisme
Prof. Akh. Muzakki, M.Ag., Grad.Dip.SEA, M.Phil, Ph.D., bersama Dr. Suko Widodo saat “Jagongan” bahas isu radikalisme dan terorisme di Warung Mbah Cokro. (Foto: Helmy Rafsanjani)

UNAIR NEWS – Talkshow dengan tajuk Antisipasi Radikalisme dan Aksi Terorisme di Jawa Timur berlangsung dengan hangat dan meriah. Acara yang digagas oleh Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Provinsi Jawa Timur bersama para akademisi Universitas Airlangga, UIN Sunan Ampel Surabaya, dan masyarakat tersebut dilangsungkan di Warung Mbah Cokro pada Rabu malam (18/10).

Dr. Suko Widodo yang memandu acara tersebut membuka dengan pernyataan bahwa kondisi bangsa akhir-akhir ini memanas dengan berbagai isu, terorisme dan radikalisme misalnya. Berkesempatan sebagai pemapar pertama Drs. Ec. Jonathan Judianto, MMT., selaku Kepala Bakesbang Jatim. Dalam paparannya, Jonathan mengatakan bahwa permasalahan besar yang tengah dihadapi bangsa adalah kasus narkoba, terorisme, dan radikalisme.

Mengenai permasalahan paham radikal, terlebih Jonathan membuka dengan paparan bahwa radikalisme ini merupakan paham yang dibuat oleh sekelompok orang yang ingin memainkan perubahan dengan cepat bahkan dengan kekerasan.

“Parahnya orang yang seperti ini mengalami konstruksi berfikir yang terganggu dan memiliki keyakinan bahwa pahamnya adalah yang paling benar dan yang bersebrangan adalah salah,” jelasnya.

Selanjutnya, paparan disampaikan oleh Prof. Akh. Muzakki, M.Ag., Grad.Dip.SEA, M.Phil, Ph.D., selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UIN Sunan Ampel. Dalam paparannya, Muzakki mengatakan bahwa dari segi konsep, jika orang yang memiliki pemikiran secara dalam bisa dikatakan radikal. Namun, yang menjadi persoalan adalah keyakinan bahwa tidak ada kebenaran pada orang lain.

“Lebih parahnya adalah yang tidak sepemikiran akan diperangi. Tidak hanya berbeda. Bahkan yang menghalangi mereka juga,” tandasnya.

Hadir pula di tengah diskusi tersebut pengamat politik Hari Fitrianto. Ia membuka dengan data mengenai survei dari Wahid Institut yang menunjukkan tujuh persen masyarakat yang beragama Islam memiliki paham radikal dan siap memerangi orang yang berbeda serta berseberangan.

“Ini angka yang cukup besar. Meski masih dalam bentuk riset ini adalah potensi dan bibit radikal,” terangnya.

Sementara itu, Linggar Rama Dian Putra, MA., dari  Departemen Antropologi UNAIR mengatakan, potensi lahirnya radikalisme salah satunya didorong oleh cara hidup masyarakat. Sikap cuek dan tidak mau saling kenal ditengarai menjadi salah satu sebab lahirnya bibit-bibit radikal.

“Jika budaya tidak bekerja dengan baik maka munculnya radikalisme akan lebih mudah. Komunikasi dan saling tegur sapa ini solusinya. Karena orang dalam kondisi tereksekusi budaya ini yang sangat berpotensi untuk disusupi menjadi terorisme,” jelas Linggar. (*)

Penulis : Nuri Hermawan

Editor : Binti Q. Masruroh

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu