Apa yang Perlu Disiapkan Perawat Indonesia Usai Penempatan di Luar Negeri?

UNAIR NEWS – Perawat Indonesia tidak hanya dikenal kiprahnya di dalam negeri, tetapi juga telah dikenal bekerja di berbagai negara termasuk Kuwait. Kuwait, salah satu negara kaya yang terletak di jazirah Arab ini telah lama menjadi tujuan bekerja bagi perawat Indonesia.

Bekerja di Kuwait sangat menjanjikan. Dengan status perawat asing, perawat Indonesia memiliki kesempatan untuk menjadi staf di Kementerian Kesehatan Kuwait atau Pegawai Negeri Sipil dengan gaji bulanan sebesar 10 kali lipat dibanding di Indonesia.

Setelah sekian tahun hidup dan bekerja di Kuwait, tentunya para perawat atau diaspora ini kembali ke Indonesia. Apa yang harus dilakukan untuk memfasilitasi migrasi balik (return migration) dari para perawat ini? Pilihan karir apakah yang tersedia bagi mereka? Serta, apa yang harus dilakukan oleh organisasi profesi perawat atau pemerintah?

Berbagai isu itu didiskusikan lewat seminar bertema Career Choices And Opportunities For Indonesian Nurses Returnees yang dilaksanakan di aula Kedutaan besar Republik Indonesia (KBRI), Kuwait, Kamis (12/10). Seminar ini terselenggara atas kerjasama antara Persatuan Perawat Nasional Indonesia Kuwait dan KBRI Kuwait.

Pembicara utama seminar ini adalah Gantosari, mewakili KBRI di Kuwait, atase tenaga kerja KBRI Kuwait Alamsyah, serta dosen Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga Ferry Efendi, S.Kep.Ns., MSc., Ph.D yang memberikan materi tentang “Career Choices Among Indonesian Nurses Returnees: Policy Options in Managing Return Migration”.

Dalam kesempatan itu, kepada para perawat Indonesia di Kuwait, Ferry memaparkan gambaran tentang aktivitas yang bisa mereka lakukan ketika kembali ke Indonesia.

Menurut Ferry, jika melihat siklus migrasi perawat, selama ini Indonesia lebih banyak fokus pada aspek pra-migrasi (sebelum penempatan) dan selama migrasi (saat penempatan). Sangat sedikit studi yang mengulas tentang pascamigrasi atau setelah perawat bekerja di luar negeri dan kembali ke Indonesia.

“Hal ini sangat disayangkan, karena tujuan utama dari migrasi adalah memperkuat individu serta sistem kesehatan di Indonesia. Belum dioptimalkannya pengetahuan dan keterampilan dari perawat pasca penempatan sangat merugikan negara kita,” ujar Ferry.

Umumnya, perawat yang bekerja di luar negeri memiliki beberapa kelebihan, baik dari segi bahasa maaupun keterampilan. Perlunya manajemen migrasi balik dari perawat ini adalah memaksimalkan keterampilan mereka untuk memperkuat sistem kesehatan nasional.

“Kebijakan yang bisa membantu pendayagunaan keterampilan perawat pasca penempatan sangat dibutuhkan guna meminimalkan brain waste. Pemetaan keterampilan perawat yang dimiliki serta identifikasi dengan kebutuhan pasar tenaga kerja atau fasilitas kesehatan di Indonesia sangat diperlukan,” ujar alumnus program Ph.D dari National Cheng Kung University, Taiwan, ini.

Ferry menambahkan, adanya sistem database atau matching ketenagaan perawat yang memiliki keterampilan tinggi dengan kebutuhan pasar tenaga kerja akan sangat membantu mendistribusikan keterampilan perawat Indonesia ke area yang memerlukan. Sistem seperti ini juga bisa dilakukan dengan merangkul pihak swasta atau investor yang tertarik mengembangkan industri keperawatan atau kesehatan di Indonesia.

Seminar yang dihadiri oleh sekitar 60 perawat Indonesia di Kuwait ini diakhiri dengan sesi diskusi yang membahas berbagai isu pasca penempatan di Kuwait. Atase tenaga kerja di KBRI Kuwait juga memiliki komitmen serupa untuk memfasilitasi isu ini dengan melibatkan koordinasi dan mengundang investor untuk masuk ke Indonesia.

“Kode global WHO untuk rekrutmen tenaga kesehatan internasional yang telah diadopsi Indonesia perlu diimplementasikan dalam penempatan dan pengelolaan migrasi balik ini,” imbuh Ferry. (*)

Editor : Binti Q. Masruroh