Burnout
Sejumlah dokter dari Departemen Ilmu Kedokteran Jiwa RSUD FK UNAIR-RSUD Dr. Soetomo berkampanye menyosialisasikan Burnout. (Foto: Istimewa)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Tingginya volume pekerjaan kerap kali memicu stres berkepanjangan. Tak ayal, kondisi ini kerap kali terabaikan karena hanya dianggap sebagai kondisi stres yang tak perlu dikhawatirkan. Padahal, sebenarnya stres punya ambang batas. Jika dibiarkan, bisa mengarah pada gejala burnout.

Bisa jadi istilah burnout masih terdengar asing di telinga. Untuk itu, di momen peringatan Hari Kesehatan Jiwa Internasional, yang diperingati setiap tanggal 10 Oktober, sejumlah dokter  dari Departemen Ilmu Kedokteran Jiwa RSUD FK UNAIR-RSUD Dr. Soetomo berkampanye menyosialisasikan burnout di tempat kerja.

Puluhan dokter ini tampak giat berkeliling sambil membagikan pamflet  dan setangkai bunga mawar kepada karyawan maupun dosen di lingkungan rumah sakit RSUD Dr. Soetomo dan kampus kedokteran.

“Burnout  adalah tema yang sudah ditetapkan oleh WHO untuk peringatan tahun ini,” ujar Nalini Muhdi Agung Sp.KJ(K).

Dalam konteks penyakit kejiwaan, burnout berati sindrome kelelahan pada fisik, mental, dan emosional yang bersifat ekstrem. Burnout dapat muncul akibat stress yang menumpuk dan  terakumulasi sejak lama.

Menurut Nalini, burnout di tempat kerja sering terjadi pada jenis pekerjaan yang melibatkan pelayanan terhadap sesama manusia, seperti  tenaga kesehatan di rumah sakit, polisi, dokter, guru hingga jurnalis. Meski tidak menutup kemungkinan, sindrome ini juga bisa dialami pada jenis profesi lainnya.

Hingga kini, belum ada data pasti  yang menyebutkan jenis pekerjaan apa saja yang paling banyak memicu kelelahan. Namun, diperkirakan beberapa profesi yang disebutkan di atas adalah yang paling banyak memicu sindrome kelelahan.

Umumnya burnout disebabkan oleh situasi kerja yang tidak mendukung atau tidak sesuai antara kebutuhan dan harapan. Jika dibiarkan berlarut-larut, maka tanpa kita sadari produktivitas dan kinerja bisa menurun,” ungkapnya.

Sindrome ini  dapat menjangkit siapa saja tanpa batasan usia. Karena menyangkut tempat kerja, maka  sindrome ini paling banyak dialami oleh pekerja usia produktif, yaitu antara usia  25-50 tahun. Ketika seseorang mengalami burnout, maka ia lebih sering merasa  frustrasi, tertekan, apatis, gampang bosan,menarik diri dari lingkungan sosial, serta menjadi pribadi yang cuek dan ketus.

Kalau dibiarkan, maka gangguan tersebut menimbulkan depresi dan kecemasan berlebihan. Kondisi  itu sudah masuk kategori parah. Kalau sudah parah, maka perlu ke pisikiatri.

Oleh karenanya, relaksasi itu perlu. Tak harus keluar biaya mahal, cukup dengan tertawa bisa mengurangi kepenatan.

“Sering tertawa itu malah lebih baik. Setidaknya orang harus tertawa minimal  enam menit setiap hari. Cara ini juga perlu diseimbangkan dengan pola hidup sehat, cukup istirahat dan olahraga teratur,” ungkapnya.

Satu lagi cara yang dianggap penting menurut Nalini adalah menyisihkan waktu untuk me time.

Work Should be important to you, but it is not your whole life. Ambil cuti tahunan, pergi liburan dan lakukan apa saja yang bisa membuat anda senang,” ungkapnya.

Penulis : Sefya Hayu

Editor : Nuri Hermawan

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone