Prof. Fedik Abdul Rantam
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Secara prinsip, Airlangga Disease Prevention and Research Center (ADPRC) dimotori tiga fakultas. Yakni, Fakultas Kedokteran Hewan (FKH), Fakultas Kedokteran (FK), dan Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM).

Mengapa? Karena tiga fakultas itu yang secara langsung mengurusi kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan. Perlu digarisbawahi, kesehatan hewan dan lingkungan diperlukan karena dari dua sumber itu bisa lahir penyakit yang membahayakan manusia pula.

Meski demikian, ADPRC tidak bisa melaju kencang bila tidak didukung fakultas lain. Karena sejatinya, sinergitas lintas fakultas adalah kunci kesuksesan pusat riset yang satu ini. “Di struktur pengurusan awal pun terdapat akademisi dari FISIP (Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Red). Ke depan, kepengurusan pasti berkembang dan melibatkan fakultas lain pula,” tegas Prof. Dr Suwarno, sekretaris ADPRC.

Dia mengatakan, ada begitu banyak penyakit yang timbul karena masalah-masalah sosial. Maka itu, disiplin ilmu sosial, bahkan budaya dan psikologi, juga dibutuhkan untuk melakukan penelaahan. Fakultas Farmasi dan Fakultas Sains dan Teknologi pun sudah pasti akan berperan. Juga, fakultas yang berhubungan dengan kedokteran dan kesehatan lainnya.

“Kami juga butuh kajian dari pakar ekonomi. Karena, dalam suatu telaah tentang penyakit, perlu pula dicermati berapa cost yang keuar akibat penyakit tersebut,” tambah Prof. Dr. Fedik Abdul Rantam, koordinator ADPRC.

Dengan telaah dari aspek ekonomi, urgensi pencegahan penyakit akan bisa lebih tampak secara kongkret. Sebab, keberadaan penyakit di masyarakat tidak hanya mengganggu kesehatan fisik. Namun juga, menjadi problem secara finansial.

Salah satu pengurus di struktur awal adalah Toetik Kurbardiati, PhD dari FISIP. Saat ini, Toetik tercatat sebagai salah satu pengelola di ADPRC. Tepatnya, sebagai Penasehat Komunikasi dan Jaringan.  Menurut Prof. Fedik, saat melakukan studi antropologi di Jerman dan Belanda, Toetik juga diharuskan belajar biologi. Sebab, ada korelasi antara antropologi dengan biologi. “Persebaran penyakit juga dapat ditinjau dari perspektif antropologis,” ungkap Fedik.

Dijelaskan Fedik, sinergitas antar fakutas yang ada di UNAIR telah membudaya. Sehingga, memudahkan setiap program kerja yang dibuat lembaga atau pusat kajian ilmiah yang ada. (*)

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
mm
Alumnus S2 Media dan Komunikasi Universitas Airlangga. Penulis buku kumpulan esai "Menyikapi Perang Informasi", kumpulan puisi "Balada Pencatat Kitab", dan kumpulan cerita pendek "Merantau". Editor foto dan berita di www.news.unair.ac.id. Bergiat di www.suroboyo.id.