Penderita Mikrotia Berpeluang Punya Daun Telinga

UNAIR NEWS – Febriyanto (11 tahun) baru saja menjalani operasi rekonstruksi daun telinga di Rumah Sakit Universitas Airlangga, Jumat lalu (6/10). Bocah asal Kendari, Sulawesi Tenggara ini ternyata mengalami mikrotia, atau kelainan kongenital bentuk telinga yang kurang sempurna. Tidak hanya Febriyanto, di Surabaya tidak sedikit anak dengan kondisi serupa.

Pada prinsipnya fungsi daun telinga tidak sekedar untuk pasang anting atau penyangga kaca mata saja. Secara fisiologis daun telinga punya peran penting untuk ‘menangkap’ suara dan mengarahkannya masuk ke saluran telinga.

Sementara yang dialami oleh penderita mikrotia jelas berbeda. Karena terlahir dalam kondisi bentuk kuping yang kurang sempurna, menyebabkan proses pendengaran menjadi terganggu. Akibatnya, proses tumbuh kembang anak menjadi terhambat.

Hingga kini belum diketahui pasti penyebab mikrotia. Namun Dokter Bedah plastik konsultan Kraniofasial FK UNAIR Indri Lakshmi Putri,dr.,Sp.BP-RE(KKF) memperkirakan, mikrotia disebabkan karena beberapa faktor yang kemungkinan dialami sejak anak masih di dalam kandungan. Bisa karena infeksi, faktor gizi, terpapar radiasi, obat-obatan toksik, dsb.

“Melalui USG 4D sudah dapat dideteksi apakah janin mengalami mikrotia atau tidak,” ungkapnya.

Mikrotia sebenarnya dapat diatasi melalui tindakan operasi rekonstruksi. Yaitu operasi pemasangan daun telinga buatan. Tim dokter THT dan bedah plastik saling berkoordinasi menangani pasian mikrotia.

Jika pasien terlanjur mengalami gangguan pada pendengarannya, maka diperlukan alat bantu dengar. Sedangkan daun telinga pengganti akan dibuatkan dari bahan poros polietilen atau menggunakan tulang iga dari tubuh pasien sendiri.

Itulah alasan mengapa operasi ini sebaiknya dilakukan pada anak usia minimal 10 tahun. Karena pada usia tersebut, tulang rawan seseorang masih terbilang lentur sehingga memudahkan dilakukan pembentukan.

“Kalau operasi dilakukan pada anak berumur lebih dari 16 tahun, dokter kesulitan mengoperasi. Sementara jika kurang dari 10 tahun, donornya belum cukup. Paling tidak, lingkar dada pasien minimal 60 cm,” begitu penjelasan dokter Putri dalam seminar MIKROTIA yang diselenggarakan di RSUA.

Prevalensi anak dengan mikrotia terbilang tinggi. Selain dari Surabaya, pasien yang datang berobat ke RSUA juga berasal dari luar Jawa.

“Kasusnya lumayan banyak. Dan sampai saat ini Surabaya menjadi pusat terbesar kasus mikrotia,” ungkapnya.

Dalam sebulan, dokter Putri mengaku bisa mengoperasi sampai dua pasien. Permintaan operasi semakin bertambah manakala memasuki libur sekolah. Dalam sepekan ada sekitar dua pasien baru yang minta dioperasi.

Sebagaimana orang tua Febriyanto, Sadaria rela datang jauh-jauh dari Kendari demi menyembuhkan anaknya. Sadaria merasa beruntung karena mendapat fasilitas operasi dengan biaya sepenuhnya ditanggung oleh BPJS.

Febrianto tidak takut operasi?

“Tidak sama sekali, setelah operasi saya mau potong rambut, biar terlihat tampan,” ungkap bocah itu.

Beruntungnya, Febrianto yang masih memiliki rasa percaya diri menerima keadaan fisiknya selama ini. bocah ini bahkan sama sekali tidak minder dengan keterbatasan fisiknya. Dokter Putri membandingkan, tidak sedikit anak dengan mikrotia yang pada akhirnya menarik diri dari kehidupan sosial, malu dengan keterbatasan fisiknya.

“Anak mikrotia rawan di-bully, karena punya telinga yang bentuknya berbeda dari teman-teman lainnya. Di sini pentingnya peran orang tua. Bantu anak-anak ini memahami kondisinya, sehingga anak mikrotia tetap pede meski dengan keterbatasan,” ungkapnya.

Kasus mikrotia terbilang bervariasi. Yang paling kompleks adalah mikrotia disertai dengan syndome wajah yang tampak tidak simetris.

“Kalau kasusnya sudah kompleks begitu, maka perlu dilakukan pula operasi rekonstruksi wajah,” jelasnya.

Sempat Frustrasi

Menangani pasien mikrotia bukanlah hal mudah. Itu pula yang dirasakan Putri di awal ia memutuskan untuk mendalami teknik operasi mikrotia tahun 2015. Menurutnya, operasi mikrotia adalah operasi bedah plastik paling rumit.

Demi menguasai teknik operasi yang sempurna, perempuan kelahiran 11 November 1983 ini mempelajari teknik operasi ke beberapa pakar mikrotia dari sejumlah negara, seperti Belanda dan Jepang. Putri banyak belajar teknik operasi mikrotia, salah satunya bersama Moshe Kon, MD, Ph.D dari University Center Utrecht, yang kini menjabat sebagai President International Society Of Auricular Reconstruction.

“Awal menekuni bidang ini saya sempat frustrasi. Hasil operasi yang kurang sempurna membuat pasien kurang puas, begitupun saya. Namun saya menyadari semua itu butuh proses dan jam terbang. Perlahan, sekarang sudah jauh lebih baik,” ungkapnya.

Rumah sakit UNAIR membuka pelayanan bagi anak-anak penderita mikrotia secara paripurna. Antara dokter spesialis bedah plastik, dokter spesialis THT, dan psikiatri saling bekerja sama.

“Kami bekerja pada porsinya masing-masing. Sehingga tidak sampai terjadi over lapping,” ungkap Alumnus FK UNAIR tahun 2006 ini.

Kembali pada pengalaman Febriyanto, setelah belasan tahun hidup tanpa memiliki sepasang daun telinga, pada akhirnya impiannya memiliki sepasang daun telinga yang sempurna menjadi kenyataan. Belajar dari Febriyanto, kita bisa tarik hikmah bahwa apapun bentuk pemberian Tuhan sudah sepatutnya kita syukuri. Tak terkecuali, pemberian sepasang daun telinga. (*)

Penulis : Sefya Hayu

Editor: Binti Q. Masruroh