Prof Roem Soedoko, The Queen Of Cancer Tutup Usia

Kabar duka datang dari Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga. Guru Besar Ilmu Patologi Anatomi FK UNAIR, Prof. Dr. Roemwerdiniadi Soedoko,dr, Sp.PA (K) meninggal di usia 80 tahun pada hari Jumat, 6/ 10, pukul 13.45 WIB.

Dari rumah duka yang beralamatkan di Jl. Baktihusada III/1 Surabaya, putera ke tiga almarhum, dr. Armanto Sidohutomo, Sp.M(K) menuturkan, Kamis pagi (5/10) sang ibu sempat tidak sadarkan diri. Oleh keluarga langsung dilarikan ke Graha Amerta RSUD Dr. Soetomo.

Setelah  stabil, Prof Roem kemudian dipindah ke ruang ICU pada pukul 22.00 WIB. “Pukul 23.00 WIB kami diberitahu dokter bahwa kondisi ibu semakin kritis. Kami hanya bisa berdoa. Sampai akhirnya tadi setelah jumatan, Ibu dipundut Gusti Allah,” ungkapnya.

Sebagai bentuk penghormatan terakhir,  jenazah Prof Roem disemayamkan terlebih dulu di Aula FK UNAIR pada Sabtu pagi (7/10). Setelah itu, jenazah  dimakamkan di Pemakaman Keluarga di Dusun Telasih, Desa Kepuharjo, Kabupaten Malang.

Soal firasat, Armanto mengaku sempat memenuhi beberapa permintaan dari sang ibu, satu minggu sebelumnya. “Seminggu lalu, saya  diutus ibu nyekar ke makamnya mbah kung, sekalian disuruh menyiapkan liang disebelahnya. Kemudian, minta tempat tidurnya dicat ulang, dan sekarang sedang digunakan untuk membaringkan jenazah ibu,” ungkapnya.

Di mata keluarga, Prof Roem dikenang sebagai seorang ibu tangguh. Di tengah kesibukan beraktivitas, Prof Roem tetap berupaya menjalankan perannya sebagai ibu  untuk ke empat buah hatinya. Yakni Dr. Ananto Sidohutomo MARS, dr. Arsitawati Soedoko, MAHM, dr. Armanto Sidohutomo, Sp.M(K), dan dr. Arsanto Sidohoetomo.

“Sesibuk apapun, secapek apapun ibu selalu luangkan waktu untuk anak-anaknya. Kami dipantau terus lewat telpon. Bahkan, untuk sekedar ambil rapor misalnya, ibu rela mengesampingkan segala kepentingannya, supaya bisa mengambil rapor anak-anaknya, ” Kenangnya.

Mengambil rapor memang urusan sederhana, namun inilah bentuk perhatian sang ibu yang begitu berkesan di hati anak-anaknya.  Termasuk ketika anak-anaknya dalam situasi kurang beruntung, Prof Roem tidak pernah memarahi mereka. “Ibu adalah sosok yang lembut, saking lembutnya jadi nggak pernah marah. Di balik kegagalan, ibu selalu tanamkan kepada kami bahwa gagal itu tidak apa-apa, yakinlah bahwa Tuhan sudah menyiapkan rencana yang lebih baik,” kenangnya.

Sepajang perjalanan karier, Prof Roem banyak berkiprah dan mencurahkan penuh perhatiannya pada masalah kanker. Atas sumbangsihnya, perempuan kelahiran Blitar 4 Februari 1937 ini pernah menerima sejumlah penghargaan dari Organisasi Kesehatan Dunia. Berupa WHO Award di bidang Social Medicine tahun 1995. Dan kembali menerima penghargaan dari WHO  pada bulan Mei tahun 2000 di gedung Perserikatan Bangsa-bangsa, Geneva. Sejak saat itu, kontribusinya diakui dunia. Prof Roem kemudian memperoleh julukan The Queen of Cancer untuk dunia, mengingat apa yang diperjuangkan untuk penanggulangan kanker begitu luar biasa.

Armanto menuturkan, sang ibu sudah aktif bergerilya ke pelosok desa di tanah air sejak tahun 1970. Sebelum kasus kanker meningkat seperti sekarang, perempuan lulusan New South Wales University, Royal Hospital for Women Sidney serta Prince Henry Hospita Melbourne ini sudah terlebih dulu menyosialisasikan misi pencegahan dan penanggulangan penyakit kanker, dengan cara mengedukasi masyarakat  awam di pedesaan, melakukan pemeriksaan kesehatan dan pemeriksaan papsmear dengan biaya terjangkau.

“Waktu kecil, saya, mas, mbakyu, dan adik gantian menemani ibu keliling ke daerah-daerah pelosok, Seperti Bawean dan Pacitan. Naik sampai pucuk gunung, mengendarai kapal nyebrang laut demi bisa bertemu masyarakat desa dan berbagi pengetahuan mereka. Penuh perjuangan, namun ibu tidak pernah mengeluh sama sekali,” kenangnya.

Perjuangan Prof Roem juga didukung sepenuhnya oleh mendiang suaminya dr Soedoko Sidohutomo Sp PA. Bersama sejumlah sejawat dokter, tahun 1969 Prof Roem kemudian mendirikan Wisnuwardhana Cancer Foundation yang beralamatkan di Jl. Kayon No 16-18 Embong Kaliasin, Genteng, Surabaya. Meski sang pendiri yayasan telah berpulang, namun misi perjuangan tetap dilanjutkan oleh putera-puterinya, sejak 10 tahun lalu.

Selain aktif mengelola yayasan, Prof Roem juga gemar menuli, dan menghasilkan banyak buku. Antara lain buku-buku seputar kanker dan membukukan pengalamannya berkeliling dunia.

“Pengalaman pergi ke luar negeri selalu ibu tulis, termasuk pengalaman rindu dengan anak-anak selama beliau menempuh pendidikan di Australia. Sampai jadi 26 seri dan diberi judul berjudul Dongeng Dalam Surat Untuk Anakku,” kenangnya.

Bagi Armanto, Ibu adalah sosok inspiratif , termasuk pula bapak.  Kesederhanaan yang tampak dalam diri ke dua orang tuanya selalu menginspirasi kehidupan anak-anaknya.

“Ibu selalu berpesan pada kami, bahwa hidup hanya perlu tiga : Iman, ibadah, dan cari ilmu sebanyak-banyaknya. Jadilah orang yang bermanfaat,”kenanganya.(*)

Penulis : Sefya
Editor : Binti