Kuliah Umum
Dr. Rizal Ramli saat menyampaikan kuliah umum dihadapan civitas akademika. (Foto: Nuri Hermawan)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – “Negara yang berani mengambil risiko bakal menjadi negara maju.” Itulah pernyataan pembuka yang dilontarkan Dr. Rizal Ramli dalam kuliah umum yang dilangsungkan di Aula Soetandyo Wignjosoebroto FISIP UNAIR pada Jumat (6/10).

Pada kuliah umum yang mengangkat tema “Potensi Ekonomi Indonesia dalam Membangun Bangsa secara Mandiri” tersebut, Mantan Menko Bidang Kemaritiman dan Sumber Daya Indonesia itu mengatakan, dalam melihat  kemajuan sebuah negara bisa dilihat dari histori dan indeks kebahagiaan warganya. Rizal mencontohkan, untuk ukuran itu Indonesia memang masih tertinggal dengan Malaysia dan Singapura.

Tidak hanya itu, pada paparan selanjutnya, Rizal mengatakan bahwa mental suatu bangsalah yang menjadi salah satu faktor penting dalam menunjang kemajuan sebuah negara. Bangsa yang memiliki karakter ulet dan berani mengambil risiko, menurutnya bakal menjadi bangsa yang besar dan maju.

“Dulu ada beberapa negara yang nasibnya sama dengan kita. China, Korea Selatan misalnya. Tapi, negara-negara tersebut sekarang sudah melesat. Kuncinya mental ulet dan tidak manja,” terangnya.

Mengenai ketertinggalan bangsa Indonesia, Rizal menilai bahwa korupsi menjadi karakater yang membuat pertumbuhan ekonomi di Indonesia lambat. Meski demikian, ia tidak setuju jika korupsi sepenuhnya sebagai penghambat. Hal terpenting menurutnya juga menghambat kemajuan adalah kualitas sumber daya manusia. Ia menilai bahwa bangsa ini sejatinya memiliki sumber daya yang cerdas dan pandai, hanya saja perlu ditambah untuk memiliki sikap tidak mengeluh dan tidak mudah menyerah.

“Harusnya jika ada permasalahan, kita mesti lebih menjadi kuat dan pribadi yang ulet. Bukan menyerah dan manja,” terangnya.

Selain itu, Rizal juga mengatakan bahwa pendidikan merupakan kunci dan solusi untuk menunjang kemajuan bangsa. Dalam hal ini, ia mencontohkan negara Jepang. Keberhasilan Jepang dalam mengkader anak bangsa melalui pendidikan bisa menjadi contoh untuk Indonesia.

“Jepang mengkader generasi muda dengan menyekolahkannya ke negara maju. Dan ketika sudah balik ke negaranya, lulusan itu menjadi pendobrak untuk menjadikan Jepang sebagai negara yang maju,” jelasnya.

Model pembangunan menjadi bahasan selanjutnya. Bagi lulusan Boston University, Indonesia masih menggunakan model pembangunan yang bergantung pada Bank Dunia. Ekonomi bagus tapi dari hutang. Untuk hal ini, ia mencontohkan negara Argentina sebagai negara yang ekonominya hancur dengan hutang sebab menerapkan model demikian.

“Jadi negara yang bergantung pada model ala bank dunia atau neoliberalisme sulit untuk makmur. Di Asia Tenggara ini, negara kita dan Filipina yang menerapkan,” paparnya.

Mengenai hal itu, Rizal memberikan solusi bahwa dengan nasional ekonomi dapat membuat perekenomian suatu negara membaik,  Jepang misalnya.  Selain itu, kunci kemajuan ekonomi suatu bangsa juga terletak pada pemimpin.

“Hal itu karena kunci utama pelaku kebijakan,” pungkas Rizal.

Penulis : Nuri Hermawan

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone