juara
STAF Kemenristekdikti sedang menjelaskan aturan baru dalam Training of Trainer (TOT) Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) tahun 2017-2018, di Universitas Airlangga, Kamis (5/10). (Foto: Binti Q. Masruroh)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Puluhan dosen dari 40 perguruan tinggi di Jatim mengikuti Training of Trainer (TOT) Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) untuk lima bidang tahun 2017, di Universitas Airlangga, Kamis (5/10). Mereka yang rata-rata dosen pembimbing kemahasiswaan itu mendapat arahan pembicara dari Kemenristekdikti, penyelenggara PKM.

Menurut penjelasan dari Kemenristekdikti, dalam PKM tahun ini nanti ada beberapa ketentuan yang berbeda dari PKM tahun sebelumnya. Diseminasi informasi ini bertujuan agar ketentuan-ketentuan baru tersebut tersosialisasikan ke seluruh stakeholder PKM, baik mahasiswa maupun dosen pembimbing.

Direktur Kemahasiswaan Universitas Airlangga Dr. Hadi Shubhan, SH., MH., CN., mengatakan, diantara perbedaannya, tahun ini seleksi awal PKM dilakukan oleh perguruan tinggi asal mahasiswa pendaftar. Kemudian masing-masing perguruan tinggi memperoleh kuota judul PKM sendiri-sendiri dari pusat. Misalnya UNAIR akan mendapatkan jatah 700 judul proposal PKM yang dapat diajukan ke Dikti. Jumlah tersebut merupakan hasil seleksi di PT bersangkutan.

”Jadi review pertama dari universitas, sedang dulu review pertama ini langsung di pusat,” ujar dosen Fakultas Hukum UNAIR ini.

Perbedaan kedua, tahun depan jumlah anggota tim maksimal hanya tiga mahasiswa, kecuali untuk PKM Pengabdian Masyarakat (PKMM) dan PKM Kewirausahaan (PKMK). Yang ketiga, penentuan juara I (setara medali emas), juara II (setara medali perak) dan juara III (setara medali perunggu) dalam puncak kompetisi PKM, yaitu Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) tahun 2018 didasarkan pada sistim poin.

”Sehingga dalam satu kelas bisa lebih dari satu tim yang mendapatkan medali emas. Sedangkan dulu dalam satu kelas yang juara hanya satu. Jadi nanti yang dipakai patokan nilai,” tambah Hadi Shubhan.

Bebas Skripsi

Ditanya tentang hadiah bagi peraih medali emas di UNAIR, diterangkan Hadi Shubhan, secara umum UNAIR belum memberlakukan pembebasan skripsi bagi mahasiswa peraih medali emas di PIMNAS. Akan tetapi ada fakultas telah memberlakukan bebas skripsi bagi mahasiswa peraih medali emas PIMNAS, yaitu Fakultas Keperawatan.

”Rektor membolehkan kebijakan itu, namun aturan secara general belum diterapkan. Misalnya PKM Penelitian bidang Eksakta (PKM-PE), tentu setara bahkan bisa jadi lebih berharga dari menulis skripsi. Untuk PKMM tentu lebih bermakna dari pada KKN (Kuliah Kerja Nyata). Itu sedang dirumuskan,” imbuh ahli Hukum Ketenagakerjaan ini.

Wacana kebijakan itu dikatakan dapat menjadi stimulus bagi mahasiswa untuk mengikuti PKM dan lolos PIMNAS. Hal itu juga akan membawa manfaat bagi UNAIR.

Sehingg hingga tanggal 21 Oktober 2017 nanti, mahasiswa UNAIR sudah bisa mengumpulkan proposal PKM ke UNAIR (perguruan tinggi lokal). Dalam rentang waktu 21 Oktober hingga 1 November, UNAIR akan melakukan seleksi terhadap judul-judul PKM yang masuk dan yang layak untuk dikirim ke Dikti.

”PKM ini sudah kita sosialisasikan sejak mahasiswa baru. Semakin banyak proposal yang masuk, semakin banyak kesempatan lolos ke PIMNAS. Dengan kualitas yang semakin baik, mudah-mudahan terbuka peluang bisa menjuarai PIMNAS,” kata Hadi Shubhan menambahkan. (*)

Penulis : Binti Q. Masruroh

Editor    : Bambang Bes

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone