Bedah Buku
Prof. Bagong Suyanto, guru besar bidang Sosiologi Ekonomi saat bedah buku Grey Chicken di Pusaran Uang dan Penderitaan. (Foto: Binti Quryatul)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Bedah buku menjadi salah satu rangkaian pra Musyawarah Kerja Nasional Asosiasi Penerbit Perguruan Tinggi Indonesia (APPTI) di Universitas Airlangga. Bedah buku Grey Chicken di Pusaran Uang dan Penderitaan yang ditulis oleh Prof. Bagong Suyanto, guru besar Sosiologi Ekonomi, berlangsung di Airlangga University Press, Rabu (4/10).

Grey Chicken adalah buku yang ditulis Bagong ketika dirinya bekerja di UNICEF sebagai konsultan untuk buruh anak. Dalam rentan tahun 1999-2001, Bagong melahirkan 12 buku, salah satunya Grey Chicken ini. Dari buku itu, Bagong juga menulis buku lain dengan judul Anak Perempuan yang Dilacurkan: Korban Eksploitasi di Industri Seksual Komersial. Buku inipun menjadi disertasi Bagong sebagai prasyarat lulus S-3 di UNAIR.

Grey Chicken digunakan Bagong untuk menyebut pelajar yang terlibat dalam praktik prostitusi. Profesor yang aktif menulis di media massa itu mengatakan, ada banyak hal yang menyebabkan seorang remaja menjadi grey chicken. Diantara faktor penyebabnya adalah latar belakang keluarga broken home, perempuan yang menjadi korban child abuse, perempuan korban incest, selain itu godaan teman yang telah lebih dulu menjadi grey chicken juga menjadi salah satu faktor pendukung.

Akibat yang ditimbulkan pun tidak main-main. Korban Grey Chicken rawan tertular HIV/AIDS juga rawan menjadi korban eksploitasi, utamanya oleh mucikari yang mempergunakan jasanya.

Bedah buku ini tidak hanya dihadiri oleh kalangan mahasiswa, namun juga pelajar SMA di sekitar kota Surabaya. Seorang peserta dari salah satu SMA mengajukan pertanyaan, “Lantas, bagaimana sikap kita jika ada rekan atau teman dekat yang terjerat dalam grey chicken?”

Bagong mengatakan, jangan sampai memperlakukan korban grey chicken sebagai terdakwa, cenderung menyalahkan dan mendakwa mereka bersalah. Sebab, masing-masing korban memiliki latar belakang penyebab yang berbeda.

Dalam kesempatan bedah buku itu, Bagong juga mmberikan kritik terhadap ditutupnya lokalisasi Dolly oleh Waki Kota Surabaya Tri Rismaharini. Ia mengatakan, ditutupnya Dolly dengan cara memberi pelatihan para pekerja seks di sana, memberi sejumlah modal, lalu memulangkan mereka ke kampung halaman, bukan solusi yang tepat. Menutup Dolly memerlukan proses dan kajian mendalam.

“Pendekatan korban lokalisasi Dolly harus personal. Tidak bisa digeneralisikan. Masing-masing dari mereka memiliki masalah sosial yang berbeda,” ungkap Bagong.

Bagong menyayangkan penutupan Dolly dengan cara demikian. Sebab, dengan itu muncul lokalisasi-lokalisasi baru yang tidak dapat dideteksi keberadaannya.

Selain Grey Chicken yang diterbitkan bulan Maret 2017 lalu itu, Bagong saat ini sedang mempersiapkan buku barunya yang berasal dari penelitiannya tentang korban incest. (*)

Penulis : Binti Q. Masruroh

Editor : Nuri Hermawan

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone