Pianis Muda
Pianis muda alumni UNAIR Felix Justin. (Foto: Istimewa)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Enam tahun terakhir menjadi salah satu bagian terbaik hidup Felix Justin. Ia memilih untuk sedikit melepas ilmu obat­-obatannya dan membiarkan musik klasik mengalir di tubuhnya. Felix adalah anak muda yang berani memilih untuk berkarya sesuai kegemarannya.

Felix bukan tak mencintai ilmu farmasi. Pada tahun 2003, Felix mulai berkuliah S-1 Pendidikan Apoteker selama empat tahun. Prestasi akademiknya bersinar. Ia pernah menjadi Mahasiswa Berprestasi Fakultas Farmasi Universitas Airlangga pada tahun 2005.

Selama itu, Felix merupakan mahasiswa yang tekun. Ia mengikuti kelas dari pagi sampai sore. Pulang kuliah, ia lantas menyiapkan materi-materi perkuliahan untuk keesokan harinya. Sembari berkuliah, Felix menyibukkan diri dengan organisasi. Ia bergabung dengan Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Farmasi.

Tahun pertama dan kedua kuliahnya berhasil dilalui dengan mulus. Pada tahun ketiga hingga keempat, ia mengaku sempat ‘tergoda’ dengan kesibukan lain. Minat dan bakatnya dalam bermain piano mulai tercium pihak kampus dan eksternal. Felix mulai banyak menerima undangan untuk unjuk kebolehan memainkan tuts-tuts berwarna hitam putih di hadapan penonton.

“Saya banyak diminta tolong untuk mengiringi paduan suara Fakultas Farmasi dan banyak juga tawaran dari luar. Selain itu, di tahun ketiga, saya juga les privat mengajar piano,” tutur Felix.

Hatinya kian terpanggil oleh musik. Namun, Felix merasa perkuliahan yang telah ia jalani harus dituntaskan. Orang tuanya bahkan sempat memberi peringatan. Felix diijinkan bermusik tetapi harus lulus kuliah tepat waktu. Mendengar itu, lelaki berkacamata itu pun langsung tancap gas untuk menyelesaikan kuliah sarjana dan meneruskan profesi.

Selepas lulus dari UNAIR, musik kian membisiki dan memenuhi pikirannya. Meski menyandang gelar sarjana farmasi dan apoteker, ia mengikuti rekrutmen guru piano di sebuah lembaga kursus ternama. Felix berhasil diterima dan jabatannya dipromosikan beberapa bulan kemudian.

Mengulang kuliah di Belanda

Ketertarikannya terhadap musik beraliran klasik bertambah besar. Dengan dukungan dari orang tua, Felix membangun karir musiknya dari pendidikan musik secara formal. Felix memilih Universitas Utrecht di Belanda sebagai tempat studinya.

“Ortu (orang tua) bilang kalau saya harus kuliah lagi jika ingin menekuni musik. Saya pikir waktu itu sudah enak (bekerja), ngapain harus kuliah lagi. Akhirnya, saya belajar lagi di Utrecht untuk menambah pengetahuan akademik. Saya merasa enjoy ketika berkuliah di sana,” cerita alumnus S-1 Classical Piano Performance and Music Education Universitas Utrecht.

Ia terus menunjukkan totalitasnya dalam bermusik. Felix tak mau kalah dengan teman-teman kuliah S-1 yang berusia jauh di bawahnya. Setiap harinya, Felix menghabiskan sepertiga harinya guna mengasah otak kanan dan jari jemarinya dalam bermain piano. Waktu latihan ini sengaja ia sisihkan di luar jam perkuliahan.

“Kalau anak piano latihan harus tujuh sampai delapan jam per hari di luar apalagi usia saya nggak muda lagi. Pentiumnya agak terlambat,” kisahnya seraya tertawa.

Usai lulus S-1, Felix langsung melanjutkan kuliah S-2 Classical Piano Solo Performance di universitas yang sama di tahun 2014. Di akhir kuliahnya, ia berhasil lulus dengan nilai sempurna. Sebuah penghargaan yang jarang diperoleh bagi mahasiswa di jurusan yang sama.

Kebanggaannya tak sampai di situ. Selama kuliah di Utrecht, Felix juga berhasil mendapatkan pelajaran musik dari pianis favoritnya Elisabeth Leonskaja.

Sang ratu dibuat kagum                                    

Di kota yang terletak 43 kilometer dari Amsterdam, Felix tak hanya mengenyam pendidikan tetapi juga berhasil merengkuh pengalaman profesional dan kehidupan. Sebagai mahasiswa piano di Utrecht, ia sering mengisi konser musik yang sering diadakan di kantor pemerintahan wilayahnya.

Rutinitas mengisi konser di walikota berbuah manis di sepanjang karir bermusiknya. Penerima beasiswa Erasmus Exchange Programme tahun 2015 di Royal College of Music London itu ditawari tampil bermain piano di hadapan orang nomor satu Belanda Ratu Beatrix dan Belgia Ratu Mathilda. Keduanya merupakan penikmat musik klasik yang kebetulan berkunjung ke Utrecht di penghujung tahun 2016.

Felix sempat merasa deg-degan. Sebelum tampil, ia diajak berbincang sejenak oleh kedua ratu. Beruntungnya, percakapan pra acara itu mampu mencairkan suasana hatinya. Di panggung, Felix berhasil tampil maksimal. Alhasil, permainan jari Felix di atas tuts piano menuai raut wajah gembira dari kedua ratu.

“Saya memainkan dua lagu dan sambutan mereka sangat positif. Itu terlihat dari raut wajahnya,” cerita Felix bangga.

Tak hanya Belanda yang juga dibuat kagum oleh Felix. Beberapa bulan lalu, Felix didapuk untuk mengiringi permainan musik klasik yang diadakan Badan Ekonomi Kreatif di Jakarta. Di acara Konserto Piano Ketiga, Felix menjadi pemain piano tunggal bersama Jakarta City Phillarmonic. Felix bersama Jakarta City Phillarmonic memperoleh tepukan panjang yang hangat dari penonton.

Penunjukan Felix sebagai solois piano bukan tanpa alasan. Lagu gubahan Sergei Prokofiev yang ia mainkan dalam konser tersebut serupa dengan lagu yang ia bawakan saat ujian master di Utrecht.

Setelah enam tahun menempa diri dengan pendidikan musik, kini Felix ingin terbang bebas. Ia masih ingin berbagi kreativitasnya dalam bermusik di luar statusnya sebagai mahasiswa.

“Yang terpenting adalah membagikan musik kepada orang lain. Harapannya, orang lain bisa menikmati musik yang saya mainkan,” ujar Felix yang bulan Oktober nanti terlibat dalam konser di Amsterdam bersama penyanyi sopran Charlotte Houberg.

Penulis: Defrina Sukma S

Editor : Nuri Hermawan

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone