kampung
LISDA Bunga Asih, wisudawan terbaik FISIP UNAIR. (Foto: Ist)
ShareShare on Facebook61Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Guyub rukun kehidupan masyarakat pedesaan di Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri, menarik perhatian Lisda Bunga Asih. Dari sinilah mahasiswa S-1 Sosiologi FISIP Universitas Airlangga ini menyusun skripsinya.

Skripsi itu bertajuk “Perubahan Sosial Akibat Interaksi Antara Masyarakat Lokal dan Pendatang (Studi pada Perkembangan Kampung Inggris Desa Tulungrejo dan Desa Pelem Kecamatan Pare)”. Dari skripsi itu mendukung Lisda menyabet gelar wisudawan terbaik FISIP UNAIR pada wisuda September 2017 ini.

Fokus penelitian alumni SMAN 2 Pare ini melihat perubahan sosial pada kehidupan masyarakat lokal setelah banyaknya pendatang yang masuk di dua desa yang dikenal sebagai ”Kampung Inggris”.

”Dalam skripsi ini saya mengaitkan dampak globalisasi yang berpengaruh pada kehidupan masyarakat desa hingga memunculkan perubahan gaya hidup, perubahan hubungan sosial dalam masyarakat dan perubahan kontrol sosial di lingkungan “kampung Inggris,” kata peraih IPK 3.87 ini.

Suka dukanya dalam penelitian di “Kampung Inggris”, Lisda mengaku senang karena setiap penelitian bisa bertemu orang tua.

“Maklum, rumah saya dekat dengan Kampung Inggris. Saya dapat melakukan penelitian partisipatif dengan terlibat dalam kehidupan masyarakat di dua desa dengan mengikuti kursus selama dua minggu di Desa Pelem,” tutur Lisda

Dalam penelitian itu, mantan ketua umum UKM Penalaran 2016 ini memberikan rekomendasi yang dapat dilakukan untuk peningkatan hubungan antar-masyarakat demi mencegah lunturnya ciri khas masyarakat sekitar.

“Karena jika sebuah masyarakat yang telah memiliki tradisi guyub rukun sejak lama, lantas banyak hadir pendatang baru ke daerah itu, pasti akan terjadi akulturasi budaya dan kekentalan kekerabatan antar masyarakat semakin hilang,” paparnya.

Setelah lulus, gadis yang punya prinsip “hidup harus ikhlas” ini ingin berkarir di bidang kemanusiaan. Selain itu, ia bersama teman-temannya sedang merintis KPS (Komunitas Peneliti Sosial) yang akan menjadi wadah calon peneliti dan peneliti untuk berkarya dan berbagai ilmu demi menciptakan solusi bagi permasalahan masyarakat berbasis penelitian sosial.

”Selanjutnya, saya juga mempersiapkan diri melanjutkan jenjang pascasarjana di luar negeri. Semoga Allah memudahkan. Yang jelas, hidup itu harus punya target dan bisa memanajemen dengan baik. Itu yang penting,” tegasnya. (*)

Penulis: Ainul Fitriah

Editor : Nuri Hermawan, Bes

ShareShare on Facebook61Tweet about this on Twitter0Email this to someone