Mahasiswa Asing
Beberapa mahasiswa asing saat acara penyambutan. (Foto: UNAIR NEWS)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Lebih dari 150 mahasiswa asing siap menimba ilmu di Universitas Airlangga. Mereka diterima oleh pihak Airlangga Global Engagement (AGE) selaku penyelenggara urusan pendidikan internasional dalam acara “Welcoming Reception International Student” di Aula Kahuripan 300, Jumat (22/9).

Mahasiswa asing itu berasal dari berbagai program. Ada 11 mahasiswa program Kemitraan Negara Berkembang, 11 mahasiswa Dharmasiswa, lebih dari 60 mahasiswa program Airlangga Mobility Undergraduate Student Program (AMERTA), dan sisanya adalah mahasiswa program perkuliahan reguler.

Thomas van Schaik, mahasiswa program AMERTA mengatakan alasan keikutsertaan dalam program yang akan berlangsung selama enam bulan. Menurut Thomas, dirinya ingin mencari pengalaman untuk belajar kebudayaan yang berbeda dari negara asalnya, Belanda. Itulah sebabnya Thomas ingin mengenal kebudayaan Indonesia.

“Saya ingin mencari sesuatu yang berbeda karena rutinitas di Belanda berjalan sama. Saya ingin mengeksplorasi sesuatu yang baru di negara lain dan saya memilih mengikuti program AMERTA karena Indonesia pasti memiliki budaya yang berbeda sekali dari Belanda,” tutur Thomas yang juga mahasiswa Psikologi di Negeri Kincir Angin.

Lain Thomas, lain pula Jaerim Lee. Di UNAIR, Lee mengambil beasiswa Dharmasiswa. Beasiswa ini khusus ditawarkan pemerintah Republik Indonesia kepada mahasiswa luar negeri yang berminat belajar Bahasa Indonesia selama satu tahun.

Lee yang juga mahasiswa Sastra Indonesia di universitas asalnya mengatakan, kunjungannya ke Jakarta beberapa tahun lalu membuat dirinya ingin belajar tentang Indonesia. “Mereka (warga Jakarta) sangat ramah. Saya juga senang dengan makanan Indonesia. Itulah yang membuat saya tertarik belajar tentang Indonesia,” cerita Lee, mahasiswa asal Korea Selatan.

Di Indonesia, Lee tak sendiri. Ia bersama tiga rekannya belajar tentang Bahasa Indonesia. Salah satunya adalah Ji Hyun Park. Ji yang bisa berbahasa Indonesia menuturkan tentang rencananya setelah lulus dari program Dharmasiswa.

“Saya punya rencana untuk mengajar Bahasa Indonesia kepada adik-adik tingkat junior di sana,” ujar Ji.

Staf Ahli Program Internasional AGE Irfan Wahyudi, Ph.D, mengatakan, program penerimaan mahasiswa dari luar negeri merupakan program rutin yang dijalankan oleh UNAIR (inbound mobility). Demi membantu kelancaran proses belajar di Indonesia, pihak AGE sudah menyiapkan mahasiswa lokal pendamping untuk menemani setiap mahasiswa asing.

“Kami selalu mendampingkan satu mahasiswa asing dengan satu buddy. Mereka dipercaya untuk membantu cari kos-kosan, mengurus rekening bank, dan urusan lainnya demi kelancaran mereka selama di Surabaya. Selama mereka berkuliah, mahasiswa asing juga akan didampingi,” tutur Irfan.

Rencananya, tahun depan, AGE telah menyiapkan sebanyak delapan program baru untuk meningkatkan jumlah mahasiswa asing yang studi di UNAIR. Di antaranya adalah Kuliah Kerja Nyata – Belajar Bersama Masyarakat Internasional “Ceria”, dan pelaksanaan program AMERTA oleh mahasiswa master.

“Diharapkan dengan adanya program-program tersebut, tidak hanya kuantitas yang bertambah tetapi juga kualitas,” imbuh Irfan yang juga dosen Departemen Komunikasi.

Penulis: Defrina Sukma S

Editor: Nuri Hermawan

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone