Era Perkembangan Teknologi, Masyarakat Harus Melek Literasi Digital

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Rembuk Nasional
Suasana diskusi Rembuk Nasional 2017 di Aula Amerta Kampus C UNAIR. (Foto: Helmy Rafsanjani)

UNAIR NEWS – Universitas Airlangga ditunjuk oleh panitia Rembuk Nasional 2017 sebagai perguruan tinggi di Indonesia untuk menyelenggarakan diskusi tentang ketahanan siber. Diskusi pada Jumat (22/9) yang dihadiri akademisi dari berbagai kalangan itu bertujuan membawa rumusan yang dapat digunakan untuk perbaikan kebijakan oleh pemerintah.

Prof. Henri Subiakto, drs., SH., M.Si. profesor asal FISIP UNAIR selaku narasumber pertama mengatakan bahwa segala informasi yang kita berikan melalui teknologi adalah aset. Saat ini, berbagai kejahatan bisa muncul melalui penggunaan Teknologi Informasi (TI). Lalu, bagaimana cara kita memperkuat diri dari kejahatan itu?

Henri mengatakan bahwa masyarakat sebagai agen yang ikut berperan dalam produsen informasi harus dididik dan diberdayakan oleh pemerintah.

“Masyarakat harus cerdas, melek IT, melek literasi dunia digital, termasuk literasi politik. Masyarakat harus memiliki kesadaran akan pentingnya keamanan informasi,” ujar Henri.

Henri mengatakan, masyarakat harus mampu mengidentifikasi informasi yang benar ataupun yang hoax. Beberapa ciri berita hoax adalah yang membuat pembaca cemas, terprovokasi, dan dimunculkan dengan kata-kata yang heboh.

“Semua orang bisa menjadi wartawan, sekaligus bisa menjadi musuh negara. Maka manfaatkan teknologi untuk kebaikan dan kemaslahatan bersama,” ungkapnya.

Dewan Pertimbangan Presiden Mayjen Pol (Purn) Drs. Sidarto Danusubroto, S.H berharap diskusi ini mampu menghasilkan ide-ide dan gagasan yang dapat bermanfaat untuk digunakan pemerintah dalam mengambil kebijakan.

“Dari diskusi ini diharapkan ada masukan dan rekomendasi dari daerah-daerah untuk pemerintah agar dapat mengambil kebijakan yang sesuai. Kampus akan memberikan solusi yang lebih objektif,” ujar Sidarto.

Ia juga mengatakan, menguatnya kelompok-kelompok radikal, penyebar informasi hoax dan penghujat, maupun menyebar isu SARA menjadi ancaman sekaligus tantangan Indonesia saat ini.

“Mari kita bangun demokrasi dengan sehat, bukan dengan hoax, haters, maupun isu SARA,” katanya.

Sementara itu, Rektor UNAIR Prof. Moh. Nasih mengatakan, UNAIR dalam mendidik mahasiswanya selalu mengedepankan pola berfikir yang sistematis.

“Tugas-tugas yang diberikan kepada mahasiswa, maupun tugas akhir seperti skripsi maupun tesis, mahasiswa selalu dituntut untuk berfikir sistematis. Sehingga jangan ada keputusan yang diambil bukan berdasarkan data dan fakta. Berdasarkan data dan fakta pun, kita masih dituntut untuk melakukan cek dan ricek,” ungkap Nasih.

Nasih berharap agar perkembangan teknologi informasi selalu digunakan untuk peradaban bangsa yang lebih baik.

Pembicara dalam diskusi itu antara lain Prof. Henri Subiakto, drs., SH., M.Si. (FISIP UNAIR), Dr. Ir. Achmad Affandi, DEA. (Teknik Elektro, ITS), Dr. Eng. Herman Tolle, ST., MT. (Sistem Informasi FIK, UB), Faizal Rochmad Djoemadi (Dirut Telkom Internasional), dan Kombes Pol Frans Barung Mangera Kabid Humas Polda Jatim. (*)

Penulis : Binti Q. Masruroh

Editor  : Nuri Hermawan

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu