guru
Prosesi persemayaman jenazah almarhum Prof. R. Prajitno Prabowo. (Foto: Alifian Sukma)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Isak tangis mengiringi prosesi persemayaman jenazah Guru Besar Departemen Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran UNAIR Prof.R. Prajitno Prabowo, dr., Sp.OG(K). Momen penghormatan terakhir untuk mendiang Prof Prajit berlangsung khidmat di Aula FK UNAIR, Senin (18/9).

Ratusan pelayat berduyun-duyun memadati aula. Saking padatnya, sebagian pelayat menanti di luar, sebagian lain menyaksikan acara persemayaman dari atas balkon. Semua yang hadir termasuk Rektor UNAIR Prof. Dr. H. Mohammad Nasih, MT., SE., Ak, CMA didampingi Wakil Rektor I UNAIR Prof. Djoko Santoso, dr., Ph.D., Sp.PD, KGH,FINASIM dan Ketua Pusat Informasi dan Humas UNAIR Suko Widodo saling memanjatkan doa terbaik untuk mengiringi kepergian sang profesor.

Prof Prajitno wafat dalam usia 81 tahun pada Minggu (17/9), di ICU GBPT RSUD Dr. Soetomo Surabaya pada pukul 14.35 WIB. Usai disemayamkan, selanjutnya jenazah dimakamkan di TPU Keputih, Surabaya.

Tidak hanya keluarga, kepergian Prof Prajitno juga meninggalkan duka mendalam bagi para sejawat dokter, khususnya mereka yang sama-sama membidangi ilmu Obstetri dan Ginekologi. Beberapa diantaranya adalah Prof. DR. dr. Budi Santoso SPOG(K) dan dr. Hari Nugroho, SpOG.

Bagi Prof Budi, sosok Prof Prajitno amat berperan dalam mendukung keberhasilan pendidikannya selama ini.

“Beliau adalah guru saya sejak pendidikan S-1 dokter dan spesialis. Beliau juga menjadi promotor saya ketika menempuh pendidikan doktoral. Berkat keluasan ilmu dan kesabaran beliau, akhirnya saya berhasil mencapai gelar doktor,” ungkapnya.

Semasa hidup, Prof Prajitno di kenal multi talent. Selain sebagai dokter kandungan yang ahli dalam bidang fertilitas, Prof Prajitno juga menguasai sejumlah bidang ilmu kedokteran lain.

“Beliau pernah mendalami ilmu anestesi di Amerika. Dan setelah selesai sekolah di sana, beliau kembali sebagai dokter kandungan,” ungkapnya.

Dengan kemampuan lebih yang dimiliki, Prof Prajitno tidak saja spesifik membidangi fertilitas, beliau juga berhasil menguasai beberapa sub spesialis, seperti ilmu anestesi dan ilmu onkologi atau kanker.

“Meskipun beliau seorang dokter kandungan, namun tidak jarang teman-teman sejawat dokter dari bidang Onkologi yang minta saran dari beliau,” jelasnya.

Prof Prajitno juga menjadi salah satu pionir berdirinya sekolah spesialis pendidikan obgyn di Surabaya. Bahkan, ketika belum banyak dokter yang mengembangkan teknik laparoskopi di Surabaya, beliau sudah lebih dulu merintis teknik laparoskopi hingga dikenal di luar negeri.

Di antara banyak kenangan manis bersama sang guru, Prof Budi merasakan satu momen yang begitu membekas di benaknya. Perhatian yang dicurahkan oleh Prof Prajitno tidak sebatas hubungan murid dengan guru saja, di luar itu ia tetap peduli.

“Ketika saya mengalami sakit, Prof Prajitno begitu peduli dengan kesehatan saya. Beliau menghubungi rekan sejawatnya untuk mengobati saya. Operasi pun urung dilakukan karena pengobatan yang dilakukan berhasil,” kenanganya.

Sisi humanis yang melekat dalam diri Prof Prajitno juga dirasakan oleh dr. Hari Nugroho, SpOG. Sebagai sejawat junior, Hari mengenang Prof Prajitno sebagai sosok guru pengayom dan penuh hangat, terlebih  kepada anak didiknya.

“Hubungan beliau dengan para dokter muda begitu dekat. Prof Prajitno begitu menginspirasi kami. Sosoknya takkan tergantikan,” ungkapnya sembari tak kuasa meneteskan air mata.

“Meski beberapa bulan sebelumnya kondisi fisik Prof Prajitno berangsur melemah, beliau masih berkeinginan untuk mengajar,” kenanganya.

Prof. Prajitno adalah pribadi yang sederhana. Sebagai guru, beliau menerapkan metode perkuliahan yang tidak monoton. “Beliau lebih sering mengajak mahasiswanya diskusi dan sharing, bahkan ngobrol ‘ngalor-ngidul’. Beliau tidak pernah menganggap proses belajar harus duduk dan spanneng. Mau tanya apa aja boleh, bantah pun tak apa-apa,” ungkapnya.

Dengan kemampuan yang dimiliki, Prof Prajitno menjadi role model bagi kebanyakan dosen khususnya yang berkecimpung di bidang obgin.

“Saya paling ingat kebiasaan beliau. Hampir setiap minggu beliau mengundang para mahasiswanya belajar bersama di rumah. Selain ditentor, beliau juga ajak mahasiswanya makan bersama-sama. Kami banyak ngobrol sambil belajar. Itulah cara beliau membangun keakraban. Kami mahasiswanya selalu menanti-nanti momen kebersamaan dengan beliau,” kenangnya. (*)

Penulis : Sefya Hayu

Editor : Binti Q. Masruroh

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
mm

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).