Gaya Kepemimpinan Jadi Kunci Keberhasilan Industri Pariwisata

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
CEO Forum
Dr. Suko Widodo bersama Bupati Banyuwangi dan Trenggalek dalam acara CEO Forum: The Future of Hospitality Industry in East Java. (Foto: Defrina Sukma S)

UNAIR NEWS – Bukan zamannya lagi bagi para pemimpin untuk mendominasi proses pembuatan dan implementasi kebijakan. Sebab, partisipasi rakyat menjadi kunci utama pembangunan daerah, termasuk di bidang pariwisata.

Hal tersebut disampaikan oleh akademisi sekaligus pemerhati pariwisata Dr. Suko Widodo dalam menanggapi terapan kebijakan Bupati Trenggalek dan Bupati Banyuwangi dalam acara CEO Forum: The Future of Hospitality Industry in East Java, Selasa (19/9), di Dyandra Convention Center.

“Perkembangan Trenggalek dan Banyuwangi bagus sekali. Ada perubahan sosial yang terjadi di kedua tempat tersebut dan itu dahsyat luar biasa,” tutur Suko ketika dimintai pendapatnya oleh moderator.

Menurut Suko, gaya kepemimpinan Emil Dardak (Bupati Trenggalek) dan Abdullahh Azwar Anas (Bupati Banyuwangi) menjadi kunci keberhasilan dalam melaksanakan kebijakan. Keduanya dianggap menempatkan rasionalisasi dalam pembangunan dengan cara yang terbuka, yakni berdialog dengan rakyat.

“Mereka mengajak rakyat bersama-sama melakukann perubahan. Sesuatu yang biasa dilakukan secara top down (pemerintah ke rakyat, -res), tapi ini diubah oleh mas Emil dan mas Anas. Karena untuk mengubah keadaan pariwisata atau apapun memang diperlukan upaya yang besar,” imbuhnya.

Bupati Banyuwangi mengatakan, dalam menggarap industri pariwisata, pihaknya lebih mengutamakan kearifan lokal. Bagi Anas, pembangunan berkelanjutan tak hanya tentang pemenuhan sabuk hijau di ruang terbuka melainkan pelestarian kearifan lokal.

Untuk mendukung itu, pihaknya berusaha menarik wisatawan dengan penyelenggaraan kegiatan-kegiatan yang menonjolkan tradisi masyarakat Banyuwangi.

“Saat ini ada enam penerbangan dari Jakarta ke Banyuwangi. Ada daerah lain yang sampai mensubsidi maskapai penerbangan ke daerahnya, tapi penumpangnya tidak tumbuh. Kalau saya tidak mensubsidi pesawat tetapi bikin event. Market (pasar) terbentuk karena penumpang datang terus ke Banyuwangi,” terang Anas.

Lain halnya dengan Emil. Bupati termuda tersebut tengah mengubah citra daerah yang dipimpinnya dari “kota pensiunan” ke “kota yang ramah anak muda”. Ia mengatakan, perginya anak muda dari kampung halaman karena pemerintah tak memfasilitasi ruang kreasi bagi mereka.

Untuk itu, Emil mencoba membangun pusat kreatif bagi anak-anak muda untuk menjajal usaha rintisan (start-up).

“Anak-anak bikin ‘Cuss-Jek’ seperti ojek online. Jadi, kalau turis bingung mau keluar hotel pas malam-malam, atau bingung pesan makanan tinggal gunakan Cuss-Jek,” papar Emil.

Dalam pembuatan kebijakan, Emil memerintahkan bawahannya untuk selalu berdiskusi dengan warganya. Tujuannya, untuk mengawal keberlanjutan hasil pembangunan.

Selanjutnya, Wakil Gubernur Jawa Timur Syaifullah Yusuf yang juga hadir dalam acara tersebut menerangkan, perubahan yang dilakukan dua pemimpin daerah tersebut layak diapresiasi. Mereka dianggap mau mengubah gaya kepemimpinan sehingga rakyat mau bergerak dan berpartisipasi.

Ia mengatakan, industri pariwisata menjadi sektor ekonomi andalan Jawa Timur. Meski hasilnya belum banyak berkontribusi terhadap pendapatan domestik regional bruto, pemerintah akan terus berinovasi di sektor pariwisata.

Acara CEO Forum merupakan rangkaian kegiatan Dies Natalis ke-26 Magister Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga yang bekerjasama dengan portal berita Josstoda.com. Acara ini sekaligus untuk memperingati Dies FEB dan Dies UNAIR.

“CEO Forum ini diadakan untuk memberikan nuansa praktis pada mereka peserta dan mahasiswa,” ungkap Koordinator Prodi S-2 Manajemen Dr. Gancar Premananto.

Penulis : Defrina Sukma S

Editor  : Nuri Hermawan

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Replay

Close Menu