takut ikan
Aisyah Afrianti, gara-gara takut pegang ikan. (Foto: Ist)
ShareShare on Facebook55Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Salah satu pengalaman menyenangkan yang dijalani Aisyah Afrianti adalah memegang ikan saat praktikum. Gadis asal Surabaya ini menyandang gelar wisudawan terbaik S-1 Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga, periode September 2017 ini, mengaku takut dengan hewan. Termasuk ikan. Namun, ketakutan itu berhasil sirna ketika peraih IPK 3,76 ini menjadi mahasiswa S-1 Budidaya Perairan. Mau tak mau, ia berusaha meyakinkan dan memberanikan diri untuk memegang ikan.

“Pengalaman paling menyenangkan waktu saya praktikum dan harus pegang ikan. Saya takut dengan hewan. Jadi, pertama kali pegang, ya, takut. Geli rasanya tapi senang juga karena akhirnya saya berani. Meskipun agak merasa geli di tangan,” kenang Aisyah seraya tertawa.

Dalam penelitian skripsinya, Aisyah melakukan riset soal pencemaran rumput laut di lepas pantai Sumenep. Jenis pencemar logam berat yang ditimbulkan akibat aktivitas eksplorasi minyak dan gas antara lain timbal, merkuri, dan kadmium.

“Agar rumput laut tidak tercemar memang harus membedakan lokasi untuk budidaya rumput laut dan kegiatan lain yang berpotensi sebagai pencemar. Paling tidak, harus mempertimbangkan jarak bila memang lokasi dilakukan di wilayah yang sama seperti di Sumenep,” imbuh perempuan kelahiran 24 April 1995.

Menurut Aisyah, rumput laut merupakan komoditas ekspor yang bernilai ekonomis tinggi. Rumput laut banyak dimanfaatkan untuk bahan makanan yang dikonsumsi.

“Itulah mengapa diperlukan penelitian terhadap tingkat pencemaran terhadap rumput laut mengingat laut di Indonesia banyak yang tercemar,” tutur Aisyah.

Ditanya soal kiat-kiatnya dalam belajar, Aisyah mengaku dirinya berusaha belajar dengan serius ketika perkuliahan berlangsung. Selebihnya, ia tinggal mengulang materi kuliah saat tiba masa-masa ujian semester. Usai diwisuda, perempuan setinggi 155 sentimeter ini rencananya akan melanjutkan studi sesuai bidang yang ditekuninya di Jepang. (*)

Penulis: Defrina Sukma S

Editor: Binti Q Masruroh, bes

ShareShare on Facebook55Tweet about this on Twitter0Email this to someone