guru besar
Ketiga profesor yang dikukuhkan Rektor, Sabtu (16/9). (Foto: Bambang Edi Santosa)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Rektor Universitas Airlangga Prof. Dr. Mohammad Nasih mengukuhkan tiga guru besar baru. Ketiga profesor baru tersebut dikukuhkan pada Sabtu (16/9) di Aula Garuda Mukti Kantor Manajemen UNAIR.

Ketiga profesor baru tersebut adalah Prof. Badri Munir Sukoco, S.E., MBA., Ph.D (Fakultas Ekonomi dan Bisnis), Prof. Dr. Yosephine Sri Wulan Manuhara, Dra., M.Si (Fakultas Sains dan Teknologi), dan Prof. Dr. Tuti Kusumaningsih, drg., M.Kes (Fakultas Kedokteran Gigi).

Rektor mengatakan, gelar profesor merupakan amanah yang berat. Mereka dituntut untuk melahirkan ilmu-ilmu baru demi kemajuan peradaban. Pandangan-pandangan inovatif tentang keilmuannya diharapkan terus mengalir dan dirasakan kebermanfaatannya oleh masyarakat.

Prof. Badri merupakan Guru Besar FEB aktif ke-22, profesor yang dimiliki UNAIR sejak berdiri ke-463, sekaligus Guru Besar UNAIR PTN Berbadan Hukum (PTN-BH) ke-171. Guru Besar termuda tersebut menyampaikan orasi ilmiah yang berjudul “Orkestrasi Kapabilitas Dinamis untuk Meningkatkan Daya Saing Bangsa”.

Prof. Badri menyampaikan tentang tantangan universitas dalam mencetak creative class. Tantangan ini menyusul dunia yang terus berkembang sedangkan universitas dianggap belum cukup mampu untuk mencetak agen-agen creative class.

Creative class dibentuk oleh universitas. Sedangkan universitas kalau ingin menciptakan creative class, harus bisa memprediksi kira-kira pekerjaan apa yang akan eksis dalam tahun-tahun ke depan,” ujarnya.

Prof. Manuhara yang merupakan Guru Besar FST aktif ke-9, profesor yang dimiliki UNAIR sejak berdiri ke-464, sekaligus Guru Besar UNAIR PTN-BH ke-172, menyampaikan orasi ilmiah berjudul “Produksi Biomassa dan Senyawa Bioaktif Tanaman di dalam Bioreaktor: Upaya Memenuhi Kebutuhan Bahan Baku Obat di Indonesia”.

Ia mengatakan, saat ini sekitar 95-96 persen bahan baku obat di Indonesia masih didapat dengan cara impor, terutama dari Tiongkok dan India. Penyebabnya, kedua negara itu telah memproduksi bahan baku di dalam bioreaktor, bukan mengambil bahan obat langsung dari alam.

“Saya mulai dengan bioreaktor satu liter untuk dua tanaman yang jadi fokus saya, yaitu ginseng jawa dan sambung nyawa. Dalam hitungan bulan sudah bisa dibuat sama dengan tumbuhan alam yang umurnya 3-4 tahun. Ini tentu teknologi yang harus mulai kita kuasai,” ujarnya.

Manuhara juga mengatakan, pihaknya akan melakukan upaya untuk meningkatkan kapasitas produksi dalam skala yang lebih besar. Keberhasilan penelitian itu diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata dalam memenuhi kebutuhan bahan baku obat di Indonesia.

Profesor ketiga yang dikukuhkan adalah Prof. Tuti. Ia merupakan Guru Besar FKG aktif ke-17, profesor yang dimiliki UNAIR sejak berdiri ke-465, sekaligus Guru Besar UNAIR PTN-BH ke-173. Prof. Tuti menyampaikan orasi ilmiah berjudul “Oral Antimicrobial Peptides (AMPs) sebagai Model untuk Merancang Antibitika yang Efektif”.

Prof. Tuti mengatakan bahwa rongga mulut merupakan ekosistem yang unik. Hal ini ditandai dengan banyaknya mikroorganisme yang hidup di dalam rongga mulut. Baik mikroorganisme yang merugikan maupun yang menguntungkan.

“Di dalam rongga mulut kita ada antibiotik alami yang fungsinya luar biasa. Ludah kita ini merupakan antibiotik alami,” terangnya.

Penulis: Tim UNAIR News

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone