UNAIR Akan Kukuhkan Tiga Guru Besar

UNAIR NEWS – Universitas Airlangga akan memiliki tiga guru besar baru. Ketiga profesor baru tersebut akan dikukuhkan Rektor UNAIR Prof. Dr. Mohammad Nasih pada Sabtu (16/9) mendatang di Aula Garuda Mukti Kantor Manajemen UNAIR.

Ketiga profesor baru yang akan dikukuhkan adalah Prof. Badri Munir Sukoco, S.E., MBA., Ph.D (Fakultas Ekonomi dan Bisnis), Prof. Dr. Yosephine Sri Wulan Manuhara, Dra., M.Si (Fakultas Sains dan Teknologi), dan Prof. Dr. Tuti Kusumaningsih, drg., M.Kes (Fakultas Kedokteran Gigi).

Prof. Badri merupakan Guru Besar FEB aktif ke-22, profesor yang dimiliki UNAIR sejak berdiri ke-463, sekaligus Guru Besar UNAIR PTN Berbadan Hukum (PTN-BH) ke-171. Guru Besar termuda tersebut akan menyampaikan orasi ilmiah yang berjudul “Orkestrasi Kapabilitas Dinamis untuk Meningkatkan Daya Saing Bangsa”.

Dalam konferensi pers yang berlangsung Kamis (14/9), Badri menyampaikan tentang tantangan universitas dalam mencetak creative class. Tantangan ini menysul dunia yang terus berkembang sedangkan universitas dianggap belum cukup mampu untuk mencetak agen-agen creative class.

Tantangan inipun menyusul, perusahaan Google yang pada tahun 2013 lalu mengumumkan bahwa tidak perlu ijazah untuk bekerja sebagai karyawan Google. Hal ini pun diikuti oleh Ernest & Young dan beberapa perusahaan besar lainnya.

Creative class dibentuk oleh universitas. Sedangkan universitas kalau ingin menciptakan creative class, harus bisa memprediksi kira-kira pekerjaan apa yang akan eksis dalam tahun-tahun kedepan,” ujarnya.

Setelah Badri, paparan selanjutnya disampaikan oleh Manuhara yang merupakan Guru Besar FST aktif ke-9, profesor yang dimiliki UNAIR sejak berdiri ke-464, sekaligus Guru Besar UNAIR PTN-BH ke-172. Nantinya ia akan menyampaikan orasi ilmiah yang berjudul “Produksi Biomassa dan Senyawa Bioaktif Tanaman di dalam Bioreaktor: Upaya Memenuhi Kebutuhan Bahan Baku Obat di Indonesia”.

Dihadapan awak media, Manohara mengatakan bahwa saat ini sekitar 95-96% bahan baku obat di Indonesia masih didapat dengan cara impor, terutama dari China dan India. Mengapa kita masih impor? Negara-negara seperti China dan India sudah menproduksi bahan baku di dalam bioreaktor, bukan lagi mengambil bahan obat langsung dari alam.

“Saya mulai dengan bioreaktor satu liter untuk dua tanaman yang jadi fokus saya, yaitu ginseng jawa dan sambung nyawa. Dalam hitungan bulan sudah bisa dibuat sama dengan tumbuhan alam yang umurnya 3-4 tahun. Ini tentu teknologi yang harus mulai kita kuasai,” ujarnya.

Manuhara juga mengatakan, akan dilakukan upaya untuk meningkatkan kapasitas produksi dalam skala yang lebih besar. Keberhasilan penelitian itu diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata dalam memenuhi kebutuhan bahan baku obat di Indonesia.

Profesor ketiga yang akan dikukuhkan adalah Prof. Tuti. Ia merupakan Guru Besar FKG aktif ke-17, profesor yang dimiliki UNAIR sejak berdiri ke-465, sekaligus Guru Besar UNAIR PTN-BH ke-173. Dalam pengukuhannya ia akan menyampaikan orasi ilmiah berjudul “Oral Antimicrobial Peptides (AMPs) sebagai Model untuk Merancang Antibitika yang Efektif”.

Saat jumpa pers Tuti mengatakan bahwa rongga mulut itu merupakan ekosistem yang unik. Hal ini ditandai dengan banyak mikro organisme yang hidup didalam rongg mulut. Baik mikro organisme yang merugikan maupun yang menguntungkan.

“Di dalam rongga mulut kita ada antibiotik alami yang fungsinya luar biasa. Ludah kita ini merupakan antibiotik alami,” terangnya.

Penulis: Tim UNAIR News

Editor: Nuri Hermawan