Politik Kebinekaan
Muhaimin Iskandar saat memberikan kuliah tamu yang bertemakan “Memperkokoh Politik Kebinekaan”. (Foto: Nuri Hermawan)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – “Pancasila dan NKRI merupakan pilihan terbaik untuk negara, bukan malah dipertentangkan,” itulah pernyataan tegas dari Tokoh Nasional Muhamin Iskandar saat menjadi pengisi kuliah tamu yang bertemakan “Memperkokoh Politik Kebinekaan”.

Acara yang dihadiri oleh kalangan akademisi maupun politisi tersebut dilangsungkan di Aula Soetandyo, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UNAIR, Rabu (13/9).  Dihadapan para peserta kuliah umum, Ketua Umum DPP PKB yang akrab disapa Cak Imin tersebut kembali menegaskan bahwa akhir-akhir ini ketidakpercayaan terhadap NKRI mulai muncul. Baginya, untuk membendung hal tersebut tidak ada pilihan lagi kecuali semua elemen bangsa harus melakukan sosialisasi sekaligus pendidikan karakter.

“Utamanya para tokoh-tokoh berpengaruh harus melakukan hal itu agar kebinekaan bangsa bisa tetap terjaga,” terangnya.

Mantan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi ini juga mengingatkan akan pentingnya memperkokoh politik kebinekaan. Selain itu, ia juga mengajak agar tidak membawa aksi kekerasan yang dilakukan negara lain ke Indonesia. Misalnya kasus kekerasan terhadap umat Islam yang terjadi di Rohingya. Baginya, kasus ini dapat disikapi dengan arif oleh masyarakat Indonesia.

“Kekerasan terhadap umat Islam Rohingya, jangan menjadi bahan perpecahan bangsa kita,” ujarnya.

Selanjutnya, Cak Imin juga mengutarakan peran penting kebinekaan bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Bagi Cak Imin, kebinekaan bangsa merupakan benteng utama untuk memajukan Indonesia.

“Bineka juga merupakan tameng fanatisme keagamaan dan gerakan transnasional yang kerap mengancam pilar kebangsaan negara kita,” terangnya.

Tidak lupa, Cak Imin juga memaparkan bahwa kebinekaan merupakan sunnatullah. Kemajemukan yang dikaruniakan Tuhan bagi bangsa Indonesia sepatutnya menjadi kekuatan bangsa yang besar.

“Kebinekaan adalah sunnatullah. Merusak kebinekaan berarti melawan sunnatullah. Melawan sunnatullah merupakan kezaliman,” paparan indah yang kembali ia tegaskan kepada para peserta kuliah tamu.

Penulis: Nuri Hermawan

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone