Srikandi Airlangga Siap Bantu Korban Konflik dari Sampang

UNAIR NEWS – Srikandi Airlangga terpilih akan mengabdikan diri dengan membantu para warga pengungsi yang disebabkan konflik Sampang, Madura. Pernyataan tersebut disampaikan oleh Ketua Divisi Pemberdayaan Perempuan Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa Universitas Airlangga, Mella Fitriyatul Hilmi.

Program pengabdian warga pengungsi konflik Sampang tersebut merupakan bagian dari kegiatan Sekolah Aktivis Perempuan (SAP) Airlangga.

“Mereka yang sudah terpilih menjadi srikandi akan dibentuk secara pemikiran, kemampuan, dan kepribadiannya supaya menjadi seorang perempuan yang cerdas, progresif, tangguh, dan anggun. Sebelum turun mengabdi, mereka dilatih terlebih dulu dengan beragam materi soal pemberdayaan perempuan,” tutur Mella.

Sebanyak 30 mahasiswa terpilih berasal dari berbagai fakultas di lingkungan UNAIR. Mereka melewati seleksi SAP dengan mengikuti rekrutmen terbuka, membawa daftar riwayat hidup, membuat esai, dan wawancara.

Tahun 2017 ini, BEM UNAIR mengangkat topik “Perempuan Penggiat Perdamaian”. Mella mengatakan, pemilihan topik didasari atas keresahan ketika melihat perempuan dan anak-anak sebagai kalangan yang rentan dengan munculnya potensi konflik di pengungsian.

Menurut Mella, program SAP juga sejalan dengan program kerja tahunan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia, yakni perempuan sebagai penggiat perdamaian.

Selaras dengan itu, para peserta terpilih mendapatkan materi tentang gender, pergerakan perempuan, kepemimpinan, dan analisis sosial. Agar kian kompak saat terjun ke lapangan, mereka juga terlibat dalam acara malam keakraban.

“Di setiap materinya ada grup diskusi yang dipandu oleh pemateri dan Srikandi Airlangga 2016. Kegiatan diskusi sudah dilakukan pada tanggal 8 sampai 10 September kemarin,” imbuh mahasiswa Fakultas Hukum.

Srikandi Airlangga 2017 akan terjun memberdayakan korban konflik di Sampang di rumah susun Puspa Agro di Jemundo, Sidoarjo. Dijadwalkan, mereka akan mengabdi pada bulan Oktober sampai Desember 2017.

Seiring berjalannya waktu, menurut Mella, program-program kegiatan saat penerjunan ke wilayah pengungsian akan dimatangkan oleh para peserta dan BEM UNAIR. (*)

Penulis: Defrina Sukma S

Editor: Binti Q. Masruroh