daring
Ridwan Roy Tutupoho memberikan materi pada Semiloka Pembelajaran Daring di Perguruan Tinggi (Foto: Helmy Rafsanjani)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Universitas Airlangga mendapat kehormatan dari Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi sebagai tuan rumah acara Semiloka Pembelajaran Daring di Perguruan Tinggi. Acara yang dilangsungkan di Aula Kahuripan Kampus C pada Senin (11/9), diikuti oleh berbagai perguruan tinggi negeri dan swasta di Indonesia.

Mewakili Rektor UNAIR hadir dalam acara tersebut Wakil Rektor I Prof. Djoko Santoso, dr., Ph.D., Sp.PD., K-GH., FINASIM. Dalam sambutannya, Djoko berterima kasih kepada Ristek Dikti atas kepercayaan dalam menyelenggarakan acara  Semiloka Pembelajaran Daring di Perguruan Tinggi di UNAIR.

Selanjutnya, Djoko juga bertutur bahwa abad 21 merupakan abad perkembangan teknologi yang luar biasa. Oleh karena itu, hadirnya acara semiloka ini baginya merupakan upaya untuk mencerdaskan kehidupan berbangsa melalui proses pembelajaran daring.

“Ini tantangan yang harus kita taklukan. Perkembangan teknologi harus kita ikuti dan kita harus membiasakan agar mampu untuk beradaptasi,” terangnya.

Djoko juga sangat mendukung upaya inovasi pembelajaran melalui daring. Baginya, dengan penerapan itu baik dosen ataupun  mahasiswa akan terpacu untuk terus mengetahui, memahami, menganalisis, dan mengembangkan pengetahuan.

“Dengan metode ini, dosen bisa menjadikan mahasiswa sebagai leader yang bermoral dan profesional,” imbuhnya.

Untuk sistem daring di UNAIR, Djoko mengatakan bahwa UNAIR sudah menerapkan di dua fakultas, yakni Fakultas Kedokteran dan Fakultas Psikologi. Ke depan Djoko berharap bakal mengembangkan hal tersebut kesemua fakultas di lingkungan UNAIR.

“Sistem daring ini sudah dikerjakan di FK dan Fakultas Psikologi. Pada intinya UNAIR selalu mendukung pusat untuk hal ini,” tegas Djoko.

Hadir juga dalam acara tersebut untuk memberi paparan mengenai pembelajaran daring, Kasubdit Pembelajaran Khusus, Direktorat Pembelajaran, Ditjen Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kemenristekdikti, Ridwan Roy Tutupoho. Dalam paparannya, Ridwan mengatakan bahwa proses pembelajaran daring atau yang bisa disebut Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) sudah ada sejak lama.

“Rekam jejak PJJ sudah dimulai tahun 1950 di Balai Kursus Tertulis Pendidikan Guru,” terangnya.

Ridwan juga menambahkan bahwa di Indonesia sistem pembelajaran dengan daring masih sangat sedikit. Ia juga menunjukkan grafik bahwa Indonesia masih jauh berada di bawah Thailand dan Singapura.

“Kita ini masih ketinggalan jauh. Untuk itu bagi kampus yang akan mengembangkan pembelajaran daring aturan sudah ada di pusat,” tuturnya. (*)

Penulis: Nuri Hermawan

Editor: Binti Q. Masruroh

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
mm
Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).