Hijabbuket, Kreasi Unik Karya Tiga Calon Bidan

UNAIR NEWS – Ungkapan rasa sayang kerap kali diekspresikan dengan menghadiahkan sebuket bunga mawar segar. Namun tampaknya, alternatif kado satu ini sudah terlalu mainstream. Di tangan tiga mahasiswa Program Studi S-1 Pendidikan Bidan, Fakultas Kedokteran, Universitas Airlangga, gulungan kain jilbab ternyata dapat dikreasikan menjadi sebuket bunga. Tampilannya pun tak kalah cantik, lucu, serta dijamin awet sepanjang waktu.

Pesona bunga mawar segar memang tiada tandingannya. Sayang, umurnya hanya bertahan beberapa hari, setelah itu layu dan akhirnya terbuang begitu saja. Amadea Zulfiah Azmi, Hilda Izzaty, dan Novi Dwi Ambarsari berkreasi merangkai bunga dari gulungan kain jilbab. Pertimbanganya sederhana, karena mereka ingin menghadirkan alternatif kado yang lebih bermanfaat dan sarat makna.

Ide mengkreasi kain jilbab ini berangkat dari ketidaksengajaan. Mulanya ketiga dara ini sedang mencari alternatif kado unik untuk sahabatnya yang akan diwisuda. Tak lama kemudian tercetus ide untuk mengkreasi kain jilbab.

Belajar dari menyaksikan video tutorial, ketiganya mempraktekkan teknik menggulung-gulung kain jilbab warna-warni, hingga berbentuk menyerupai bunga mawar. Selanjutnya, gulungan jilbab itu disusun dan dibalut dengan florist wrapping. Kreasi unik ini pun mereka sebut dengan istilah hijabbuket.

Tak disangka, kehadiran hijabbuket mendapat respon positif. Tidak hanya dari sahabat, karya mereka juga dengan cepat dikenal halayak.

“Teman-teman ternyata antusias dan mendorong kami untuk mengembangkan bisnis hijabbuket,” ungkap Novi.

Ketiganya lalu sepakat menjalani bisnis dengan membuka pemesanan hijabbuket di tahun 2016, dengan modal patungan sebesar 300 ribu rupiah. Dea, Novi, dan Hilda menamai produknya dengan nama Eluria. Nama tersebut merupakan gabungan dari ketiga nama mereka masing-masing.

Strategi pemasaran dilakukan dengan memanfaatakan media sosial seperti instagram (eluria.id), juga dengan mengikuti kegiatan bazar.

“Strategi promosi paling efektif adalah melalui getuk tular. Dari mulut ke mulut, produk kami lebih cepat dikenal,” ungkap Sari.

Selain merangkai kain jilbab bentuk segi empat, produk Eluria juga merangkai jilbab pasmina berbahan saudia dan kain paris. Harga yang dibandrol pun terbilang ramah di dompet. Harga per buket disesuaikan dengan jenis kain jilbab serta banyak yang tersusun di dalamnya. Berkisar antara Rp 35 ribu rupiah sampai Rp 90 ribu rupiah.

Kini, bisnis hijabbuket mereka kian berkembang. Tidak hanya meladeni pemesan dari lingkup UNAIR, pemesanan Eluria juga merambah hingga luar kota.

“Paling ramai pesanan ketika mendekati wisuda. Di luar itu, pemesan umumnya juga menghadiahkan hijabbuket sebagai alternatif kado ulang tahun, peringatan hari ibu, hingga seserahan,” ungkap Dea.

Selain jilbab, tiga dara ini juga berkreasi menggunakan kain sarung. Tentunya karangan ‘bunga sarung’ ini bisa menjadi alternatif kado untuk kaum adam. Selain dikemas dalam balutan florist wrap, hijabbuket ini juga dikemas ke dalam keranjang mini. Sudah pasti tampilannya semakin menggemaskan.

Pengalaman baru

Dunia bisnis menjadi dunia baru bagi Dea, Novi, maupun Hilda. Ketiga calon bidan ini bahkan tak pernah mengira bakal menjalani bisnis bersama.

“Kami nggak menyangka ternyata masing-masing punya jiwa wirausaha. Semakin digali, ternyata dunia bisnis itu semakin seru untuk dipelajari,” ujar Dea.

Berbisnis memberi mereka banyak pengalaman, termasuk ketika sedang meladeni para kustomer. Bagi mereka, meladeni pemesan yang bermacam-macam karakter sama dengan melatih kesabaran. Apapun permintaannya, yang penting request terpenuhi. Malah dari para pemesan, banyak lahir inspirasi baru untuk semakin menyempurnakan karya.

Selain modal nekad, mereka juga sepakat untuk tetap konsisten dan berani ambil risiko. Melakoni bisnis di tengah kesibukan mereka sebagai mahasiswa, tentu bukan hal yang mudah. Tak jarang mereka harus mengerjakan pesanan disela-sela menyelesaikan tugas akhir.

“Pernah juga garap pesanan sampai tengah malam di kampus. Tak jarang juga nunut di perpustakaan, sampai diusir-usir petugasnya karena perpustakaan sudah tutup,” kenang Dea disambut tawa Novi dan Hilda.

Pengalaman berbeda pernah dialami Dea pada saat harus menyelesaikan sendiri pesanan. “Pernah sampai nangis ngerjain pesanan, karena biasanya yang merangkai buketnya kan Novi atau Hilda. Tapi karena dua-duanya pas lagi sibuk, jadinya saya yang handle. Bisa ndak bisa harus jadi pesanannya, karena harus diantar hari itu juga,” kenang Dea.

Dari kejadian itu, mereka sepakat untuk tidak saling mengandalkan satu sama lain. Dalam berbisnis memang harus profesional, begitupun mereka. Masing-masing mereka wajib menguasai teknik merangkai dan mengemas.

Dea, Novi, dan Hilda merasa bisnis yang mereka jalani saat ini tidak semata-mata untuk kepentingan pribadi. Dari bisnis ini mereka membangun mimpi.

“Dari keuntungan penjualan, kami sisihkan beberapa persen untuk tabungan bersama. Karena kami bermimpi kelak bisa menempuh pendidikan ke luar negeri,” ungkapnya.

Novi, Dea, dan Hilda optimis, bisnis mereka akan berkembang dengan baik, mengingat bisni hijabbuket buatan mereka baru satu-satunya di Surabaya.

Lantas, apa karya mereka tidak takut diplagiat?

“Kami optimis aja, karena rejeki sudah ada yang mengatur. Tinggal pandai-pandainya kami untuk berani berinovasi dan memperkuat ciri khas Eluria,” pungkas Novi. (*)

Penulis : Sefya Hayu

Editor : Binti Q. Masruroh