perkuliahan
MAU kemana Anda kuliah? Sesuai pilihan sendiri, sesuai kemampuan, atau pilihan ortu? (Foto: Kompasiana.com)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

JUDUL asli dari penulis untuk artikel ini adalah “Nasib Kuliah Siswa SMA”. Istilah siswa SMA bisa berarti jamak, sedangkan yang dimaksud dalam artikel ini adalah “nasib” anak yang terpaksa menjalani kuliah pada jurusan pilihan orang tuanya. Agar lebih tepat pada pokok bahasan maka redaksi melakukan perubahan seperlunya.

Banyak pihak tidak menyadari bahwa tidak semua orang tua tahu keinginan anaknya. Tidak sedikit orang tua yang lebih bisa mengamati keberhasilan orang lain. Lalu membentuk angan-angannya dan “dialamatkan” kepada putera-puterinya. Lahirlah kediktatoran angan-angannya itu kepada mereka (anak-anaknya).

Sungguh miris ketika mendengar seorang anak terpaksa harus mengikuti jalan obsesi yang ”dipahatkan” oleh kedua orang tuanya. Bukan justru mengikuti dan tut wuri handayani kemana sebenarnya perasaan dan arah pikiran berkeinginan buah hatinya.

Kediktatoran orang tua dalam menentukan kehidupan seorang anak tidak hanya dapat dilihat ketika sedang memakaikan baju saat akan pergi ke luar rumah. Ternyata hal demikian juga dapat dilihat bagaimana orang tua menawarkan pilihannya kepada anak-anaknya. Misalnya tawaran seperti ini: Bapak dan Ibu, mau kamu kuliah di jurusan ini” atau “Mau jadi apa kamu?” Dua kalimat tersebut tidak hanya bisa menenggelamkan angan-angan si pemilik hidup, anak-anaknya, tetapi juga mematikan semangatnya.

Seleksi masuk ke perguruan tinggi negeri saat ini sudah selesai. Bahkan saat ini tibalah waktunya para siswa SMA “berperang” melawan keinginan orang tua dalam memilih jurusan yang dikehendakinya (tadi).

Meskipun pada dasarnya SNMPTN dan SBMPTN memberlakukan sistem prioritas, kejujuran dalam memilih jurusan kuliah, tetapi tampaknya masih berkedok karena takut tidak lulus serta paksaan orang tua. Sehingga, para lulusan siswa SMA yang hanya mengandalkan kedok tersebut, semata-mata menjadikan urusan kuliah menjadi seperti “gambling”, spekulatif, atau untung-untungan.

Kondisi serupa pernah terjadi pada seseorang yang penulis kenali. Ketika harapannya besar untuk ingin berkuliah sesuai dengan angan-angan di dalam pikirannya, desakan orang tua tiba-tiba membuat angan-angan itu perlahan mulai runtuh.

Tidak sedikit para orang tua di desa mengharapkan putera-puterinya menjadi seorang dokter, atau setidaknya guru. Maklum, para orang tua di desa masih terkungkung dengan pesona mindset ”karir yang visibel”, masih ragu untuk melihat ke cangkupan karir yang lebih luas. Dampaknya, para lulusan SMA malah carut-marut karena ada keraguan atau ingkar janji antara keinginannya dengan kepatuhan terhadap titah orang tuanya.

Penulis ingat dengan salah seorang anak berusia 13 tahun bernama Logan La Plante. Logan adalah salah seorang anak dari segelintir siswa yang memilih untuk menjalani pendidikan versi dirinya, misalnya belajar sejarah lewat drama.

Logan lalu memilih untuk belajar sesuai minat dan bakatnya. Ia tidak mengikuti sistem pendidikan yang orang lain terapkan. Dalam perjalanan studinya, Logan telah mengarungi model pendidikannya sendiri, atau ia menyebutnya sebagai “Hackschooling”. Logan mengakui bahwa dukungan orang tuanya pada apa yang ia yakini menjadi faktor yang menentukan keberhasilannya.

Pada sesi TEDx, Logan mengatakan, ”I didn’t used to write because my teacher wanted me to write about butterfly and rainbow, but I wanted to write about skiing.” Dengan kata lain, ia ingin menyampaikan bahwa jika seseorang memiliki motivasi untuk menjalankan apa yang dia suka, maka ia bisa mencapai kesuksesan tanpa harus didikte orang lain.

Dari kisah Logan di atas, tentu hal demikian bisa mencerminkan kondisi yang berlawanan antara kondisi para siswa SMA di Indonesia, khususnya di kawasan desa. Para siswa sejatinya memiliki fitrah mereka sendiri dalam menjalani pendidikannya, meskipun kontribusi orang tua sebagai pemberi dukungan memegang peranan penting.

Dari ulasan yang saya sampaikan di atas, perlu diketahui oleh para lulusan SMA yang saat ini sedang menuju masa gamang bahwa pilihan jurusan kuliahnya tetap berada di tangan kalian. Jujurlah pada diri kalian sendiri, sehingga kalian tidak akan menyesal ketika sudah masuk ke bangku perkuliahan dengan label jurusan yang entah itu “dipilih” atau “dipilihkan”. (*)

Editor : Bambang Bes

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
mm
Penulis adalah mahasiswa Sastra Inggris, Fakultas Ilmu Budaya (FIB), dan Mahasiswa Berprestasi (Mawapres) Universitas Airlangga 2017.