Khafid
Muhammad Khafidin Al Alim saat di ruang kuliah FK UNAIR. (Foto: Istimewa)
ShareShare on Facebook157Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Menjadi salah satu mahasiswa di Universitas Airlangga, apalagi diterima di Fakultas Kedokteran memang impian banyak orang. Inilah hal luar biasa yang dirasakan Khafid, mahasiswa baru angkatan 2017 lulusan SMAN 1 Soko Mojokerto.

Mahasiswa yang memiliki nama lengkap Muhammad Khafidin Al Alim ini telah lama memimpikan bisa masuk jurusan Pendidikan Dokter UNAIR. Bahkan mimpi ini sudah ada sejak ia masih duduk di bangku SMP. Keinginannya menjadi seorang dokter didukung kuat dengan niat mulianya untuk dapat menolong sesama.

“Saya bangga jadi anak UNAIR. Memang saat ospek rasanya capek dan dimarah-marahi setiap hari, tapi inilah proses saya untuk menjadi dokter. Kelak jika saya menjadi dokter, saya ingin membantu banyak orang yang sedang kesusahan,” tutur Khafid.

Menurut penuturannya, Khafid merasa sangat bahagia dan bersyukur dengan hasil yang ia dapat sekarang ini. Perjuangan yang ia lakukan sebelum menembus gerbang UNAIR dan masuk ke jurusan pendidikan dokter tidaklah dijalani dengan cara yang singkat.

Khafid jatuh bangun dengan segala usahanya. Mulai dari mengikuti organisasi di SMA dengan niatan dapat menambah pengalamannya di bidang organisasi, hingga mengikuti berbagai macam kompetisi di tingkat kabupaten hingga provinsi.

Salah satu prestasi membangkan Khafid adalalah Juara 1 OSN tahun 2015. Khafid mengaku memang mencintai dunia perlombaan. Dia juga tidak hanya menguasai satu bidang saja.

“Saat lomba, saya tidak mau hanya melulu satu bidang saja. Saya lebih suka berpindah-pindah. Kadang satu lomba saya ambil bidang biologi, dilomba lain saya ambil fisika, dan dilomba lainnya saya ambil matematika. Mungkin karena itulah saya sering gagal  dibabak semi final. Tapi tak apa, buat pengalaman,” tutur mahasiswa asli Mojokerto ini.

Selain menjadi mahasiswa UNAIR melalui jalur tes SBMPTN tahun ini, Khafid adalah salah satu mahasiswa yang menerima beasiswa bidikmisi. Anak pasangan Sujak dan Tutik ini juga sempat menceritakan mengenai keadaan keluarganya. Ayahnya yang hanya seorang karyawan pabrik benang, bahkan juga pernah di PHK, dan ibunya yang belum sembuh dari diabetesnya hingga kini. Ibu Tutik harus sering ke rumah sakit untuk berobat dengan menggunakan kartu BPJS-nya. Selain itu, orang tuanya juga masih menanggung satu anak lagi, adik dari Khafid yang masih kelas I SD.

“Saya sangat bersyukur bisa sampai di sini dengan beasiswa bidikmisi dan bisa masuk fakultas kedokteran. Kalau tidak dengan beasiswa ini, ayah saya tidak bisa membiayai kuliah saya,” terangnya.

Laki-laki kelahiran Mojosari ini juga berjanji, pihaknya ingin sekali melanjutkan hobinya berkompetisi saat menjadi mahasiswa UNAIR. Khafid ingin membalas kegagalan-kegagalan yang pernah ia rasakan saat SMA dulu. Tak lupa ia memiliki keingian kuat untuk tetap bisa mempertahankan hasil Indek Prestasi (IP) nantinya atau bahkan bisa lebih.

“Karena saya sudah dibantu dengan beasiswa bidikmisi maka saya harus semangat menjalani kehidupan saya menjadi seorang mahasiswa. Ini uang negara, maka saya harus tanggung jawab. Saya harus membanggakan orang tua dan bisa menjadi dokter yang bisa membantu orang banyak,” terang Khafid diakhir wawancara.

Penulis : Ainul Fitriyah

Editor : Nuri Hermawan

ShareShare on Facebook157Tweet about this on Twitter0Email this to someone