fotografi
PANJI (kanan) bersama ayah yang juga hobi fotografi. (Foto: Dok. Pribadi)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Jiwa fotografer dari sang ayah nampaknya telah menular pada diri Achmad Panji Kurniawan. Laki-laki kelahiran Boyolali ini telah mengawali hobi fotografi sejak masih duduk di bangku SMA.

Sehari-hari, Panji sapaan akrabnya, menjalani perkuliahan di prodi Ilmu Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Airlangga. Semula, mahasiswa tahun angkatan 2012 ini hanya iseng dalam mengasah bakatnya. Namun kemudian, ia dapat menghasilkan keuntungan dari hobi fotografinya itu.

Laki-laki yang kini menjadi Kepala Sekolah di Taman Kanak-Kanak di Dusun Kuripan, Jumeneng, Mojoanyar, Mojokerto ini mengaku, omset yang ia dapatkan dari usaha menjadi fotografer mencapai tiga hingga sepuluh juta setiap bulannya.

“Waktu aku kuliah, aku sudah merintis taman baca di samping Taman Pendidikan Qur’an di desaku. Akhirnya itu dikembangin. Dan alhamdulillah dapat bantuan dari pemda dan diperhatikan. Singkatnya, bantuan donatur pun juga ada. Buku, alat bermain, meja-kursi, dan karpet. Akhirnya terdaftar NPSN sekolahnya, dan status diakui,” ujar Panji kepada UNAIR News.

Pada mulanya, TK tersebut menjadi tanggung jawab orang tua Panji. Namun saat sang ibu meninggal, tanggungjawab tersebut diemban Panji hingga kini.

Panji menuturkan, menjadi fotografer tidak semudah membalikkan telapak tangan. Banyak tantangan yang harus dilewati laki-laki yang pernah menjadi anggota Language Debate Society FIB ini. Komplain dari client tidak dapat dihindari, apalagi jika berhadapan dengan client yang kurang bisa menerima hasil pekerjaannya.

“Pernah ada komplain, foto prewed. Biasanya aku ngerjain antara tiga sampai empat minggu kalau pas ramai garapan. Nah ini kemarin ada yang maksa foto prewed pas hari lebaran. Sudah aku bilang tutup, tapi maksa. Akhirnya aku bilang iya. Dan dia pesannya paket murah meriah, tapi minta hasilnya yang wah,” cerita Panji.

Saat ditanya mengenai suka duka menjadi fotografer, laki-laki yang pernah menjadi mahasiswa berprestasi Ilmu Sejarah ini mengaku, menjadi fotografer sama halnya menjadi seorang pedagang. Lelah menjadi teman setianya. Apalagi, saat perlengkapan yang digunakan terjadi eror.

Yang paling ia sukai menjadi seorang fotografer ialah mengenal banyak orang dan bisa bergabung dengan komunitas fotografer, seperti Boyolali Fotografi Community (BFC), Republik Lensa, dan Nusantara Bird Photography.

“Cuma yang paling nggak enak ya ditawar dengan harga yang nggak masuk akal. Bahkan difitnah dan persaingan tak sehat dengan fotografer lainnya,” ungkap mahasiswa yang akan menjalani wisuda akhir tahun ini.

Paket foto

Untuk hasil potretan, Panji telah menyediakan beberapa paket yang dapat dipilih oleh calon client. Diantaranya terdapat paket Property, Make Up Artist (MUA), Wardrobe, dan Wedding. Dalam menjalani usaha, Panji membuka harga jasa foto mulai dari tiga ratus ribu hingga dua belas juta rupiah.

Dari beberapa paket tersebut, paket Wedding-lah yang bisa merogoh kocek cukup banyak, yakni sekitar dua belas juta.

“Paket Wedding sudah termasuk profesional dan imaginary edit, ditambah videography, MUA, dan wardrobe. Itu masih ditambah terop, magazine album, plus premium album. Sudah termasuk cetak 20RS plus pigora untuk dipajang di kuade,” tutur Panji.

Panji mengatakan, selama menjadi fotografer berbagai macam client telah ia layani dengan baik. Mulai dari single, pra-wedding, album sekolah, hingga company profile.

“Pernah juga kerjasama dengan perusahaan kecil swasta untuk membuat company profile. Seperti PT. Depo Jaya Bangunan dan PT Rollas Mandiri. Foto keluarga bos usaha di kawasan Ngoro Industri. Kebanyakan memang keluarga TNI dan POLRI di kawasan asrama tempat aku tinggal,” ungkapnya.

Mahasiswa yang pernah menjadi ketua Kominfo Unit Kegiatan Mahasiswa Badminton ini juga menuturkan mengenai pengalamannya menghadapi berbagai macam karakter client. Bahkan, Panji pernah menolak beberapa calon client dikarenakan terlalu menuntut.

Laki-laki yang juga hobi memasak ini masih memiliki impian yang belum tercapai hingga kini. Dirinya mengaku ingin membuka usaha café and studio foto yang berada dalam satu lokasi. Kedua keinginan itu sudah lama ia idam-idamkan.

“Aku sih, insha Allah mau buka cafe and studio foto. Aku juga hobi kuliner. Jadi inginnya ruang bawah untuk café, dan ruang atas untuk studio,” ungkap Panji diakhir wawancara. (*)

Penulis : Ainul Fitriyah

Editor : Binti Q. Masruroh

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
mm
Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).