nasi goreng
Tampak Wakil Dekan II Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga bersama timnya memasak nasi goreng dalam lomba 17an, Jumat (25/8). (Foto: Sefya H. Istighfarica)
ShareShare on Facebook258Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Bagaimana jadinya bila dokter yang biasanya menyuntik tiba-tiba harus lomba masak nasi goreng? Tentu seru. Ada yang terampil ada pula yang nasinya gosong.

Di momen peringatan HUT ke-72 RI, Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga menggelar banyak acara. Mulai dari jalan sehat, bersepeda, donor darah hingga sunatan massal. Istimewanya lagi, panitia juga menyelenggarakan lomba masak nasi goreng yang diikuti oleh dokter-dokter FK. Lomba ini pun sukses menyita perhatian.

Perlombaan ini  berlangsung meriah di halaman FK UNAIR, Minggu (27/8). Tanpa canggung, puluhan dokter dari jajaran dekanat dan ketua departemen FK UNAIR-RSUD Dr. Soetomo Surabaya ini menampilkan kebolehan memasak.

Dengan mengenakan celemek lengkap dengan topi berwarna putih, seluruh peserta tampil bak seorang koki handal. Dalam kompetisi tersebut, masing-masing regu yang terdiri dari dua orang ini  ditantang  memasak sekaligus mempercantik penyajiannya hanya dalam waktu 30 menit.

Selama kompetisi berlangsung, penonton tak henti-hentinya tertawa melihat aksi para peserta. Terlebih lagi ketika melihat para ‘pak dokter’ ini beraksi memainkan spatula di atas wajan. Lomba masak nasi goreng lumayan bisa membuat degup jantung peserta berdetak lebih cepat.

Sebelumnya, panitia telah mempersiapkan segala keperluan memasak, mulai dari kompor, penggorengan, bahan dan bumbu di atas meja. Saat lomba akan dimulai, penonton yang berjubel mengelilingi arena mulai bersorak-sorai sambil menyuarakan yel-yel. Sang pembawa acara pun tak henti-hentinya berseloroh.

“Hari minggu praktik dokter libur semua, ya, karena pada ngumpul di sini lomba masak nasi goreng,” tutur pembawa acara.

Menyaksikan peserta dokter pria memainkan aksinya, lagi-lagi mengundang tawa penonton. Ada peserta yang terlihat cekatan dan lihai merajang cabai. Ada yang terlihat ragu meracik bumbu. Ada yang tampak santai, ada juga yang tampak tergopoh-gopoh.

Bahkan, ketika memasukkan nasi putih ke dalam wajan, sebagian dari mereka asal memasukkan garam dan margarin tanpa takaran. Ada pula yang menyalakan api kompor terlalu besar.

Kepanikan peserta mulai mereda ketika sebagian mereka sudah rampung memasak dan mulai mendekorasi penyajiannya. Dalam kompetisi ini, rupanya nasi goreng buatan Dekan FK UNAIR Prof. Dr. Soetojo, dr., Sp.U(K) dan Dr. Sulis Bayu Sentono, dr., Sp.Ort lebih dulu jadi.

Pencapaian tim Soetojo spontan mendapat pujian dari penonton.

“Wah, pak dekan paling cepat, ya, masaknya. Luar biasa. Pasti sudah berpengalaman ya, Prof?,” celoteh sang pemandu acara.

“Cepet tapi durung karuan enak (cepat tapi belum tentu enak),” celetuk salah satu penonton yang disambut tawa penonton lainnya.

Dalam kompetisi ini, masing-masing regu juga diwajibkan berkreasi menciptakan nama untuk nasi gorengnya masing-masing. Tim Soetojo memberi nama ‘Nasi Goreng Spesial 17-an Rasa Indonesia’ pada menu racikannya. Sementara tim rivalnya, Wakil Dekan II Prof. Dr. Budi Santoso, dr., Sp.OG(K) dan Dr. Joni memberi nama ‘Nasi Goreng Merdeka’.

Peserta lainnya pun tak kalah kreatif. Ada yang memberi nama ‘Nasi Goreng Perjuangan’. Alasannya barangkali karena benar-benar butuh perjuangan supaya nasi gorengnya enak.

Panitia menetapkan penilaian pada beberapa aspek. Selain rasa, kriteria penilaian lainnya adalah kebersihan, tampilan, dan kecepatan waktu.

Meskipun menjadi peserta yang tercepat dalam memasak nasi goreng, tim Soetojo tak berhasil mendapatkan juara. Namun, orang nomor satu di FK tetap sportif. Bagi Soetojo, pengalaman memasak sudah sering dilakukan ketika masih pendidikan dokter.

“Dulu waktu masih mahasiswa saya sering masak nasi goreng, jadi nggak kaget lah kalau sekarang disuruh masak,” ujarnya.

Pengalaman serupa juga dialami Budi maupun Joni. Sebagai laki-laki, kemandirian sudah terbentuk sejak mereka jadi anak kos. Alasannya klasik. Supaya hemat, maka mau-tidak mau mereka harus belajar masak sendiri.

Kemeriahan acara peringatan HUT ke-72 RI semakin terasa setelah sebelumnya ratusan partisipan mengikuti acara gowes dan senam sehat. Acara tersebut diikuti ratusan karyawan dan mahasiswa FK, serta kolega-kolega FK.

Penulis: Sefya H. Istighfarica

Editor: Defrina Sukma S

ShareShare on Facebook258Tweet about this on Twitter0Email this to someone