bridging program
Kegiatan Bridging Program yang diselenggarakan Himpunan Mahasiswa Ekonomi Pembangunan, Jumat (25/8). (Foto: Siti Nur Umami)
ShareShare on Facebook49Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Momen orientasi tentu tidak terlepas dari pembekalan dan pengenalan universitas, fakultas, hingga jurusan. Tahun ini, Himpunan Mahasiswa Ekonomi Pembangunan menggelar kegiatan orientasi “Bridging Program” di Aula ABC Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Jumat (25/8).

Koordinator Program Studi S-1 Ekonomi Pembangunan Tri Haryanto, Ph. D memberikan sambutan hangat kepada para mahasiswa baru. “Saya berharap agar kegiatan ini dapat memberikan manfaat bagi mahasiswa-mahasiswa baru agar mengenal EP (Ekonomi Pembangunan) lebih dalam,” tutur Tri.

Talkshow “Bridging Program” diisi oleh dosen Ekonomi Pembangunan M. Khoerul Mubin, M.Sc, dan Mahasiswa Berprestasi FEB tahun 2015 Oktavia Dewi Rizka Alam. Keduanya berbagi pengalaman ketika masih menjadi mahasiswa ekonomi pembangunan.

“Motivasi terbesar saya hingga sampai di titik ini dan mengenyam pendidikan tinggi adalah ibu saya. Ibu saya yang tidak mengenyam pendidikan sekolah menengah pertama (SMP) membuat saya terus terpacu,” tutur Mubin.

Dosen yang pernah mengenyam studi S-2 Economics di Queen Mary University of London dengan beasiswa LPDP ini pun aktif berorganisasi, kepanitiaan, hingga kegiatan akademik bersama dosen saat di bangku perkuliahan.

Berbeda dengan Mubin, Okta menekankan tentang pentingnya perubahan pola pikir yang harus disesuaikan setelah meninggalkan bangku sekolah menengah atas. Pola pikir siswa SMA tentu masih bergantung pada penjelasan guru ketika di kelas, sedangkan mahasiswa dituntut untuk lebih mandiri dan lebih intens dalam berdiskusi sehingga tumbuhlah iklim untuk saling berkomunikasi.

“Saya pribadi sangat menekankan manajemen waktu dan disiplin dengan jadwal. Tidak semua waktu harus digunakan untuk belajar, kita bisa membaginya dengan kegiatan organisasi, mengerjakan tugas di akhir pekan, waktu untuk berbagi dengan teman, dan terpenting adalah me time (waktu sendiri),” tutur Okta.

Di penghujung kegiatan, moderator mulai memandu untuk sesi diskusi yang dibagi dalam dua kelompok besar. Keduanya harus menganalisis dan memberi tanggapan terkait kemiskinan di Indonesia. Hal ini tentu melatih kemampuan dalam menyampaikan pendapat yang dibutuhkan saat proses perkuliahan.

Penulis: Siti Nur Umami

Editor: Defrina Sukma S

ShareShare on Facebook49Tweet about this on Twitter0Email this to someone