bintang gerilya
Rektor Universitas Airlangga periode tahun 1984-1993 Prof. Dr. H.R. Soedarso Djojonegoro, dr., AIF., menerima Bintang Gerilya dari Gubernur Jawa Timur Soekarwo, Selasa (15/8). (Foto: Dokumentasi pribadi)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Beberapa hari menjelang peringatan hari kemerdekaan ke 72 Republik Indonesia, Rektor Universitas Airlangga periode tahun 1984-1993 Prof. Dr. H.R. Soedarso Djojonegoro, dr., AIF mendapat kado istimewa dari pemerintah Republik Indonesia.

Gubernur Jawa Timur, atas nama Presiden RI, menyematkan Bintang Gerilya kepada Prof. Darso-panggilan akrab sang Guru Besar Bidang Ilmu Fisiologi Fakultas Kedokteran UNAIR tersebut.

Penyematan penghargaan tersebut diberikan langsung oleh Soekarwo dalam acara penganugerahan Tanda Kehormatan Bintang Gerilya dan Satya Lencana Karya Satya, yang digelar di Gedung Grahadi Surabaya pada Selasa (15/8) lalu.

Memasuki usia 85 tahun, Prof. Darso tak mengira jika ia akhirnya dianugerahi penghargaan Bintang Gerilya. “Terima kasih kepada pemerintah Indonesia karena sekelumit perjuangan saya untuk mempertahankan kemerdekaan ternyata diakui,” tuturnya.

Sejarah mencatat, Prof. Darso pernah ikut serta dalam perang terbuka bersama pasukan suka rela DBP Tentara Republik Indonesia Yon Asembagus pada tahun 1946.

“Sebelum terjadi peristiwa penyerangan pasukan Belanda, saat itu saya masih sekolah SMP (sekolah menengah pertama), sedang mengikuti semacam KKN (kuliah kerja nyata) dan dikirim ke daerah-daerah. Ternyata, tempat saya KKN di Malang terjadi penyerbuan tentara Belanda, saya dengan teman-teman lainnya pun akhirnya turut bergerilya, turut berjuang,” kenangnya.

Tidak pernah terpikir jika akhirnya riwayat perjuangannya kala itu secara administratif dapat memenuhi kualifikasi untuk menerima Bintang Gerilya. Prof. Darso menerima sebuah Piagam Tanda Kehormatan Bintang Gerilya dengan pangkat Sersan Mayor (Purn) dengan Jabatan sebagai anggota Batalion Jangkar Merah TRIP Jawa Timur.

“Surat Keputusan dari Presiden saya terima tahun Agustus 2016 lalu, tapi karena sudah terlewat momen HUT RI-nya, maka baru diacarakan pada 15 Agustus 2017. Karena momennya tepat mendekati hari peringatan proklamasi kemerdekaan RI,” ungkapnya.

Tabungan Akhirat

Meski telah lama pensiun, bukan berarti Prof. Darso absen dari segala aktivitas luar. Terbukti sampai saat ini, lelaki yang pernah mendalami Ilmu Faal di Buffalo State University, New York, Amerika Serikat pada tahun 1962-1963 ini masih aktif memberi bimbingan pada mahasiswa program doktoral di jurusan Fisiologi UNAIR maupun di Universitas Negeri Surabaya (UNESA).

Alumnus Fakultas Kedokteran UNAIR angkatan 51 ini bahkan masih aktif di sejumlah yayasan, termasuk sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Anak-anak Buta (YPAB). Dunia anak-anak berkebutuhan khusus ini memang selalu menarik perhatiannya selama ini.

Sejak tahun 2001, Prof. Darso diamanahi untuk melanjutkan kepengurusan YPAB oleh Bu Soetopo yang tak lain adalah istri dari Prof. Soetopo, mantan Menteri Kesehatan RI sekaligus pendiri YPAB. Pada saat itu, Prof. Darso baru saja kembali pulang ke Indonesia setelah bertugas di Paris sebagai Duta Besar Indonesia untuk Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB sejak tahun 1995.

“Tanpa penolakan langsung saya iyakan tawaran Bu Soetopo, karena pada saat itu Prof. Soetopo sudah lama meninggal. Dan lebih lagi, saya memang berniat ingin sekali merubah pola pikir masyarakat tentang nasib anak-anak buta ini. Bersyukur sampai sekarang masih dipercaya menjadi ketua, dan ini untuk tabungan akherat saya,” jelasnya.

Pria yang berulang tahun pada tanggal 8 Desember ini menaruh tekad besar untuk memajukan nasib ratusan anak asuhnya. Melalui yayasan yang dibinanya lebih dari 15 tahun ini, Prof. Darso berupaya keras memandirikan mereka sekaligus bertekad ingin mengubah pandangan masyarakat.

“Jangan menilai orang buta tidak mampu berbuat apa-apa. Mereka harus diberi kesempatan untuk mengembangkan diri. Dengan begitu mereka dapat mandiri dan kalau bisa berprestasi,” jelasnya.

Resep Awet Sehat

Menurut penelitian Organisasi Kesehatan Dunia, 20 persen kesehatan seseorang dipengaruhi oleh faktor genetik, 15 persen dipengaruhi oleh faktor eksternal, sementara sisanya ditentukan oleh faktor internal. Oleh karenanya, Prof. Darso berupaya untuk menjaga keseimbangan hidupnya dengan menjalani  prinsip BNI (Batasi, Nikmati, Imbangi).

Resep awet sehat ala Prof Darso memang tidak muluk-muluk. Prinsipnya berani membatasi diri. “Makan ketika lapar, berhenti sebelum kenyang. Tapi harus dinikmati, jadi jangan sampai kita stress karena melarang diri sendiri makan ini-itu. Kita harus mampu mengatur diri sendiri,” ungkapnya.

Untuk menyeimbangkan kesehatan fisik, kakek dari 17 cucu, dan 6 cicit ini  bahkan tetap menyempatkan diri berolahraga ringan, seperti jalan-jalan.

Lantas, apa pantangan makanan di usia lanjut? “Dinikmati saja makan ini-itu, why not (mengapa tidak) Malah  kalau tidak dinikmati you bisa stress. Tapi setelah itu besoknya imbangi dengan puasa,” ujarnya.

Tidak saja tepat untuk urusan pola makan saja, menurutnya, rumus BNI juga cocok diterapkan pada aspek lainnya, termasuk dalam hal mengelola emosi. “Dalam hal emosi juga begitu, kalau sama bawahan batasi marahnya, kalau memang harus marah luapkan, tapi dibatasi. Setelah itu imbangi dengan perbanyak istighfar, mohon ampun sama Tuhan,” tutupnya.

Penulis: Sefya H. Istighfarica

Editor: Defrina Sukma S

 

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone