pajak
Mahasiswa S-1 Ekonomi Pembangunan sekaligus Ketua Forum Komunikasi Unit Kegiatan Mahasiswa Universitas Airlangga, Bisma Brata Atmaja. (Foto: Dokumentasi pribadi)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Memasuki usia kemerdekaan ke-72 tahun Republik Indonesia, mahasiswa Program Studi S-1 Ekonomi Pembangunan, Bisma Brata Atmaja, berharap masyarakat semakin sadar akan pentingnya pembayaran pajak.

“Taat pajak berdampak pada segala fasilitas dan layanan umum yang mudah diakses dan cepat penanganannya,” ujar mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis.

Menurutnya, salah satu faktor yang membuat masyarakat malas membayar pajak adalah tingkat kepercayaan masyarakat kepada aparatur negara masih rendah. Salah satunya disebabkan adanya pejabat yang menyelewangkan pajak untuk kepentingan golongan tertentu.

Bagi Bisma, pekerjaan rumah yang harus segera diselesaikan negara adalah menjadikan aturan perundang-undangan dan hukum yang satu arah, bukan tumpang tindih bahkan bertabrakan. Pekerjaan itu pun tetap memiliki berbagai tantangan. Seperti adanya oknum-oknum tertentu yang menunggangi aturan perundang-undangan negara demi meraup keuntungan pribadi maupun kelompok.

Selain soal pembayaran pajak, salah satu bentuk kemerdekaan adalah bebas dari jajahan konten berita serta informasi yang bersifat hoax. Sebab, perolehan informasi yang tidak besar dapat membawa dampak yang cukup besar, seperti perpecahan antar suku, bangsa, agama, dan antar golongan.

Bisma yang juga Ketua Forum Komunikasi Unit Kegiatan Mahasiswa Universitas Airlangga mengatakan peningkatan minat baca adalah salah satu cara agar tidak mudah termakan berita yang bersifat menipu. Tidak hanya membaca artikel-artikel ilmiah, namun juga wawasan umum seputar peristiwa di lingkungan sekitar.

“Sebenarnya yang paling penting agar tidak mudah termakan berita hoax adalah dengan meningkatkan minat baca,” ujarnya kepada UNAIR News.

Selain meningkatkan minat baca, agar tidak mudah termakan berita hoax, Bisma sapaan akrabnya, menganjurkan masyarakat untuk mewaspadai konten-konten informasi yang bersifat provokatif.

“Periksa sumber yang bukan berasal dari media massa yang kredibel, cek kebenaran berita, cek foto dengan penelusuran Google image. Karena seringkali foto yang digunakan untuk provokasi adalah foto lama yang disalahgunakan dengan judul yang dipelintir,” ungkapnya.

“Masyarakat tidak mudah termakan hoax, serta kerukunan dan toleransi dalam kehidupan sosial semakin baik,” imbuhnya.

Meski Indonesia menghadapi banyak permasalahan, mahasiswa ini tetap berharap agar Indonesia tetap tumbuh menjadi negara yang semakin jaya dan kehidupan masyarakat yang sejahtera.

Penulis: Binti Q. Masruroh

Editor: Defrina Sukma S

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone