pelayanan kesehatan
Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Prof. Dr. Soetojo, dr., Sp.U (K). (Foto: Helmy Rafsanjani)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Kemerdekaan dimaknai luas oleh Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Prof. Dr. Soetojo, dr., Sp.U (K), menyeluruh di segala aspek kehidupan masyarakat. Seperti  merdeka dalam menyampaikan ide dan gagasan, merdeka dalam mengenyam pendidikan, hingga merdeka dalam memperoleh pelayanan kesehatan yang berkualitas.

“Dengan catatan, kemerdekaan ini tetap berada di dalam koridor aturan  moral agama, Undang-Undang Dasar 1945, dan Pancasila sebagai dasar negara,” ungkapnya.

Dalam aspek pendidikan, Soetojo menilai saat ini semakin terbuka luas kesempatan bagi siapa saja untuk mengenyam pendidikan sampai ke perguruan tinggi, seperti halnya program bantuan pendidikan Bidikmisi yang berhasil memberikan peluang bagi siapa saja untuk dapat menikmati bangu perkuliahan. Sehingga tak ada lagi yang namanya diskriminasi antara si kaya dengan si miskin, si anak kota dan si anak desa.

Melalui Bidikmisi, Soetojo berharap, program ini tidak hanya untuk jenjang mahasiswa saja, sebisa mungkin program tersebut juga dialokasikan untuk jenjang pendidikan SD sampai SMA.

“Kita berharap makin lama biaya pendidikan bisa semakin murah. Untuk itu pemerintah perlu meningkatkan anggaran pendidikan,” ungkapnya.

Menilik pada permasalahan distribusi tenaga medis yang belum merata di tanah air, Soetojo menilai, memerdekan masyarakat dalam mendapakan pelayanan kesehatan yang berkualitas sangat perlu diperjuangkan. Khususnya bagi masyarakat yang tinggal di daerah perifer atau daerah terpencil. Untuk itu perlu dukungan penuh dari pemerintah agar dapat terwujud pelayanan kesehatan yang terjangkau dan menyeluruh untuk masyarakat di manapun tanpa diskriminasi.

“Pemerintah perlu mempertimbangkan aspek keamanan, kesejahteraan, serta ketersediaan fasilitas kesehatan. Dengan begitu akan mempermudah para tenaga medis dalam memberikan   pelayanan kesehatan,” ungkapnya.

Selain aspek kuratif, hal yang tak kalah penting menurutnya adalah menggalakkan sosialisasi program preventif atau pencegahan penyakit. Program ini harus disosalisasikan secara masif  kepada masyarakat. Sebab, program pencegahan dinilai lebih efektif dalam menekan angka kejadian suatu penyakit.

“Terapi adalah tindakan terakhir kalau orang sudah terlanjur sakit parah. Yang lebih penting saat ini adalah bagaimana supaya bisa mencegah agar masyarakat tidak sampai sakit. Tentunya dengan menanamkan kewaspadaan sejak dini,” ungkapnya.

Agar pola kewaspadaan benar-benar bisa dimiliki masyarakat, tentu dokter memerlukan kerjasama dengan pihak tenaga kesehatan puskesmas maupun pera aktif para kader kesehatan. Untuk menjamin keberlanjutan program tersebut, perlu dukungan penuh dari pemerintah.

“Kemerdekaan adalah momentum perjuangan bersama. Dan merdeka yang kita rasakan sekarang tidak lepas dari jasa para pahlawan. Sepatutnya semangat perjuangan mereka dapat menginspirasi  generasi penerus bangsa,” tutupnya. (*)

Penulis : Sefya Hayu

Editor : Binti Q. Masruroh

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
mm
Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).