Transportasi Publik Memadai, Tantangan 72 Tahun Indonesia Merdeka

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
transportasi
Pustakawan Universitas Airlangga, Agung Budi Kristiawan. (Foto: Dokumentasi pribadi)

UNAIR NEWS – Perbaikan sarana transportasi publik menjadi tantangan kemerdekaan Indonesia yang telah mencapai 72 tahun ini. Pernyataan itu disampaikan oleh pustakawan teladan Universitas Airlangga tahun 2016 Agung Budi Kristiawan.

Agung sapaan akrabnya, memaknai kemerdekaan sebagai kebebasan berekspresi tanpa adanya tekanan dari pihak manapun. Kebebasan berekspresi baginya diwujudkan dengan berkarya sesuai bidang minat yang ditekuni.

Memasuki usia kemerdekaan ke-72 tahun, menurut Agung, perbaikan infrastruktur sarana transportasi di Indonesia menjadi pekerjaan rumah yang mesti segera diselesaikan. Sebab, sarana transportasi publik yang memadai berimbas pada energi masyarakat yang tidak akan terkuras dan bisa lebih efektif dalam berkarya dan bekerja.

“Sangat dibutuhkan sarana publik seperti MRT, bus di kota-kota besar seperti Surabaya. Karena macet sudah membuat hidup kita terjajah dan habis energi di jalan,” ungkapnya kepada UNAIR News Rabu (16/8).

Tentu, pembangunan sarana transportasi publik yang memadai memerlukan usaha yang tidak mudah. Misalnya, keinginan itu bisa saja berbenturan dengan pengusaha kendaraan pribadi yang semakin hari semakin mengalami peningkatan pembelian.

“Pembangunan infrastruktur transportasi umum memang susah. Namun bila ingin bertekad memperbaiki lalu lintas yang semrawut ini, tentu bisa dengan aturan dan mewujudkan sarananya dengan baik,” ungkap Juara 3 Pustakawan Teladan Jatim tahun 2010 itu.

Sebagai pustakawan dan masyarakat Indonesia yang tak memiliki kesempatan banyak untuk memberikan berbagai aturan, ia memiliki harapan atas perbaikan transportasi publik ke depan.

Apa peran yang bisa kita dilakukan untuk memperbaiki indonesia? Untuk memperbaiki saranan transportasi publik, salah satunya dengan mempromosikan sarana publik yang memadai ketika menggunakan media sosial. Apalagi saat ini, media sosial menjadi media yang banyak digemari oleh sebagian besar masyarakat Indonesia.

Kepada UNAIR, Agung memiliki cita-cita dan harapan agar menjadi institusi pendidik yang mampu menjadi contoh bagi masyarakat agar memiliki kepedulian yang tinggi terhadap lingkungan.

“Harusnya di UNAIR ada car free day (hari bebas kendaraan bermotor). Jadi sehari mahasiswa atau karyawan nggak boleh bawa kendaraan pribadi, biar sesekali UNAIR bernafas dengan oksigen, nggak karbon melulu. Harusnya universitas negeri jadi contoh untuk peduli lingkungan,” tuturnya.

Masyarakat umum juga bisa mensosialisasikan peduli lingkungan dengan cara mengurangi bepergian dengan menggunakan kendaraan pribadi. Bus atau kereta api bisa menjadi pilihan alat transportasi untuk mensosialisasikan peduli lingkungan.

Agung optimis, jika ada aturan yang mengikat serta kerjasama dari seluruh masyarakat, transportasi memadai seperti negara-negara besar di dunia bisa dimiliki oleh bangsa Indonesia.

“Singapura bisa, Indonesia pasti bisa mewujudkan sarana transportasi nyaman bagi penduduknya,” tutupnya. (*)

Penulis: Binti Q. Masruroh

Editor: Defrina Sukma S

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu