Mawapres UNAIR Sebut Pemerintah Harus Perbaiki Sistem Pendidikan

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
pendidikan
Imamatul Khair. (Foto: Pradita Desyanti)

UNAIR NEWS – Mencerdaskan kehidupan bangsa merupakan satu dari empat tujuan bernegara. Namun, pemerataan akses pendidikan masih menjadi problem utama negara Indonesia. Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya, Imamatul Khair, berpendapat demikian.

“Problematika dalam bidang pendidikan yang sampai saat ini belum ada pemerataan antara daerah pelosok dan urban, misalnya saja di daerah pelosok belum memiliki sarana dan prasarana yang memadai. Parahnya lagi, tenaga pendidikan di sana juga minim,” ujar Imamatul menjelaskan problem pendidikan.

Imamatul yang bulan Juli lalu berlaga di ajang mahasiswa berprestasi tingkat nasional ikut urun saran guna memperbaiki sistem pendidikan di Indonesia.

“Pemerintah harus memperketat peraturan penerimaan guru, misalnya dengan menerapkan peraturan penerimaan guru dengan cara teaching test. Pengawasan pusat ke daerah juga harus lebih intensif karena penerapan metode pembelajaran oleh guru itu cukup menguras tenaga. Ini merupakan sebuah tantangan untuk tenaga pendidik yang kurang aktif,” ungkap mahasiswa semester 7 tersebut.

Peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-72 menjadi momen tepat untuk mengingatkan warga negara tentang tugas pentingnya untuk bekerja bersama. Mahasiswa S-1 Sastra Inggris ini berharap agar setiap warga negara menyadari bahwa mereka memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang.

Bila setiap warga negara bisa berinovasi dengan perannya masing-masing, bukan tak mungkin bangsa Indonesia bisa bergerak secara mandiri.

“Mulailah dari apa yang belum dikerjakan, buatlah inovasi yang bermanfaat untuk orang banyak, dan membangun keadilan dalam semua aspek. Tentu saja yang namanya kemerdekaan membuat kita dapat bergerak secara mandiri dan menghindari adanya belenggu pihak luar,” tuturnya.

Saat ini, Imamatul bersama rekan-rekannya memiliki komunitas bernama Saghara Elmo. Komunitas Saghara Elmo tersebut dikembangkan di Madura yang merupakan daerah asalnya. Sejak tahun lalu, ia bersama sekitar 20 rekannya dari berbagai kalangan termasuk mahasiswa di Jawa Timur mengunjungi para pelajar di wilayah Pamekasan dan Sumenep untuk menanamkan edukasi karakter.

Imamatul juga ingin agar dirinya nanti selalu aktif terlibat di lingkungan masyarakat. “Ketika saya mengetahui kondisi riilnya, maka saya akan mencoba memberikan solusi daripada hanya sekedar mengeluh,” imbuh Imamatul.

Penulis: Pradita Desyanti

Editor: Defrina Sukma S

 

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Replay

Close Menu