Merdeka Berarti Mampu Hidup Mandiri

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
kemerdekaan
Ketua Majelis Permusyawaratan Mahasiswa (MPM) Universitas Airlangga, Bayu Ari Eka. (Foto: Dokumentasi pribadi)

UNAIR NEWS – Hari Kemerdekaan menjadi momen penting bagi sejarah Indonesia. Maka, dalam perayaan kemerdekaan, setiap warga berhak untuk terbebas dari paksaan ataupun tekanan orang-orang sekitar.

Itulah yang diungkapkan oleh Ketua Majelis Permusyawaratan Mahasiswa (MPM) Universitas Airlangga, Bayu Ari Eka. Merdeka dari paksaan berarti setiap warga negara Indonesia harus dapat mandiri tanpa terkurung dari sesuatu yang mengikat.

Ketika seseorang terikat oleh sesuatu yang dipaksakan, menurut Bayu, hal itu belum dapat dikatakan sebagai kemerdekaan. Oleh karena itu, dirinya mengimbau agar warga negara berekspresi tanpa adanya paksaan dari pihak lain.

Sebagai mahasiswa Fakultas Hukum, Bayu melihat bahwa masalah penting yang seharusnya segera diselesaikan adalah ketegasan hukum mengenai penyebaran informasi yang tidak kredibel.

“Munculnya berbagai berita hoax dapat dimaknai bahwa belum adanya penguatan terhadap UU ITE (Informasi dan Transaksi Elektronik) sehingga membuat masyarakat tidak bertanggung jawab terhadap penyebaran info-info yang tidak benar,” tutur Bayu.

Mewujudkan penegakan hukum demikian memang tak semudah membalikkan telapak tangan. Tentu saja ada kendala-kendala yang akan timbul. Namun, kendala tersebut hendaknya dijadikan tantangan untuk menegakkan hukum di Indonesia.

Bayu yang bercita-cita sebagai pakar hukum menambahkan, bahwa peran yang dapat dilakukan oleh ia nantinya adalah mengubah sejumlah regulasi yang sudah tidak relevan dengan kehidupan di Indonesia.

“Meskipun saya tahu bahwa itu nggak mudah tapi saya tetap semangat mencoba,” tegas mahasiswa FH itu.

Penulis: Pradita Desyanti

Editor: Defrina Sukma S

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu