menkes
Rektor Universitas Airlangga usai menyerahkan suvenir kepada Menteri Kesehatan RI Nila Moeloek, Minggu (13/8). (Foto: Helmy Rafsanjani)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Perkembangan riset sel punca oleh peneliti di Indonesia memberikan peluang terciptanya kemandirian kesehatan dan memberi harapan baru masyarakat dunia.

Pernyataan tersebut dipaparkan oleh Rektor Universitas Airlangga Prof. Dr. Mohammad Nasih ketika memberikan sambutan dalam acara Simposium dan Workshop “Stem Cell For The Future Medicine, From Basic to Clinic”, Minggu (13/8).

“Penemuan obat modern seperti stem cell akan memberi efek yang menakjubkan dalam membantu sesama manusia. Stem cell telah terbukti sebagai pengobatan komtemporer dalam pengobatan atas sejumlah penyakit yang tergolong berat,” ucap Rektor UNAIR.

Acara yang diprakarsai oleh para mahasiswa S-3 Fakultas Kedokteran UNAIR ini dihadiri Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nila Moeloek sebagai pembicara utama. Menurutnya, acara semacam ini penting dalam pengembangan riset sel punca di Indonesia.

“Indonesia memiliki bahan baku yang melimpah. Untuk itulah diperlukan pengembangan kapasitas sumber daya manusia agar dapat bersaing di tingkat global,” papar Menkes Nila.

Nila menyampaikan, saat ini sudah ada dua rumah sakit yang menjadi percontohan pengembangan riset sel punca. Nantinya, para tenaga medis dan peneliti di rumah sakit ini akan membimbing sembilan rumah sakit pendidikan lainnya dalam pengembangan riset sel punca.

“Saat ini baru dua rumah sakit sebagai percontohan, RSCM dan RSDS. Keduanya menjadi pilihan karena sudah dari awal telah mempunyai penelitian hingga clinical trial (uji klinik) hingga nantinya mereka yang membimbing rumah sakit pendidikan dalam pengembangan,” Papar Nila.

Ucapan senada juga disampaikan oleh Letkol Laut Arif Rachman, drg.,Sp.Pros.,M.M.,MTr.Hanla selaku ketua panitia. Arif menyampaikan bahwa acara ini menjadi ruang bagi para akademisi untuk berdiskusi soal penelitian sel punca mulai dari tataran regulasi hingga aplikasinya yang bisa dijadikan sebagai pilihan utama untuk kedokteran regeneratif.

“Harapan kita bahwa perkembangan riset sel punca ke depan menjadi lebih baik,” ucapnya.

Sementara itu, Dekan Fakultas Kedokteran (FK) UNAIR Prof. Dr. Soetojo, dr., Sp.U., mengatakan, penelitian sel punca yang dilakukan di RSUD Dr. Soetomo telah dilakukan sejak tahun 2001 oleh para mahasiswa S-3 FK UNAIR. Terapi pengobatan dengan sel punca telah digunakan untuk mengatasi berbagai kasus seperti diabetes, jantung, tulang, dan kelainan darah.

“SOP (standar operasional) sudah diatur oleh Kemenkes dengan kaidah nasional dan kami nyatakan siap karena sumber daya peneliti dan alat yang dapat digunakan di Soetomo (RSUD Dr. Soetomo) sudah mencukupi,” tuturnya.

Di akhir paparan ilmiahnya, Menkes Nila kembali menegaskan riset sel punca harus lebih maju. Makna ABG yaitu academic, business, dan government harus bisa dimanfaatkan dalam bidang pendidikan dan riset agar tidak terus bergantung dari luar negeri, tetapi kita bisa memiliki produk sendiri dalam menunjang kemandirian sektor kesehatan,” tegas Nila.

Penulis: Helmy Rafsanjani

Editor: Defrina Sukma S

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone