Kelompok Sektarian Jadi Tantangan Keindonesiaan

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
keindonesiaan
Ketua BEM Universitas Airlangga Anang Fajrul saat memberikan sambutan dalam pengukuhan mahasiswa baru 2017. (Foto: Bambang E.S)

Memperingati 72 Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia, UNAIR News akan menuliskan pandangan entitas akademika terhadap permasalahan, harapan, dan gagasan untuk Tanah Air.

UNAIR NEWS – Peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-72 menjadi sarana penting untuk mengevaluasi diri terhadap pencapaian cita-cita berbangsa dan bernegara. Menurut Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Airlangga, Anang Fajrul, Indonesia masih memiliki banyak pekerjaan rumah yang harus segera diselesaikan oleh rakyatnya.

“Pekerjaan utama yang harus segera diselesaikan adalah memperkuat kembali kesadaran berbangsa dan bernegara serta mempertajam pemahaman tentang ideologi, dasar negara, dan tujuan berbangsa. Yang lebih penting lagi, nilai-nilai tersebut harus diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari,” tutur Anang.

Anang menyebutkan, salah satu tantangan yang kini menggerogoti sendi kehidupan keindonesiaan adalah munculnya kelompok-kelompok yang ingin mengubah ideologi yang disepakati pendiri bangsa. Pada titik inilah, mahasiswa diharapkan kembali memainkan perannya untuk menyadarkan masyarakat terkait pemahaman soal kebangsaan.

“Mahasiswa harus mampu menelaah kembali sejarah perjuangan para pendiri bangsa pada saat itu, memahami secara menyeluruh tentang dasar dan tujuan dalam berbangsa dan bernegara, serta ikut andil dalam menyelesaikan berbagai problem kebangsaan dengan kapasitas keilmuan yang dimiliki,” tandas mahasiswa S-1 Ilmu Politik tahun angkatan 2014.

UNAIR sebagai perguruan tinggi besar juga diharapkan terus berkontribusi semaksimal mungkin kepada masyarakat. Pasalnya, UNAIR memiliki sumber daya manusia intelektual yang memiliki potensi besar untuk mengentaskan problem kebangsaan.

Anang berharap, berbagai problem kebangsaan itu tak menghalangi warga negara untuk memahami akar keindonesiaan.

“Bangsa Indonesia dibangun dari berbagai latar belakang suku, agama, etnis, dan lain-lain. Bangsa Indonesia tidak boleh lupa akan sejarah. Dasar negara harus selalu jadi pijakan dan pedoman dalam setiap usaha mencapai cita-cita bersama. Semoga keadilan dan kesejahteraan dapat dinikmati seluruh masyarakat Indonesia dengan semangat persatuan,” pungkasnya.

Penulis: Defrina Sukma S

Editor : Binti Q. Masruroh

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu