Datangnya Tenaga Kerja Asing Itu Keniscayaan

UNAIR NEWS – Permasalahan mengenai masuknya Tenaga Kerja Asing di Indonesia bukan lagi menjadi sebuah isu. Itulah pernyataan awal dari Wakil Rektor IV Universitas Airlangga Junaidi Khotib, S.Si., M.Kes., Ph.D., saat memberikan sambutan pembuka pada acara Forum Group Discussion tentang Permasalahan Tenaga Kerja Asing di Indonesia dan Solusinya, Rabu (9/8).

Acara yang diselenggarakan atas kerjasama Panitia Khusus TKA DPD RI dan Universitas Airlangga tersebut dipimpin langsung oleh dua narasumber yang pakar di bidangnya. Ialah Dr. M. Hadi Shubhan., S.H., M.H., CN., pakar Hukum Perburuhan dari Fakultas Hukum dan Prof. Dr. Bagong Suyanto, Drs., M.Si., Guru Besar Sosiologi Ekonomi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik.

Mengenai permasalahan TKA di Indonesia, Hadi membuka diskusi dengan pernyataan bahwa arus bebas keluar masuk TKA di Indonesia di era MEA tidaklah dibenarkan. Menurut Hadi, TKA yang boleh bekerja di Indonesia adalah tenaga kerja terampil.

“Tidak benar kalau dengan adanya MEA semua TKA bisa masuk. Semua harus memenuhi syarat dan ketentuan. Nah kalau ada kasus tenaga kasar TKA dari Tiongkok yang datang di Indonesia itu dipastikan ilegal,” jelasnya.

Selanjutnya, Hadi menegaskan bahwa masuknya TKA di Indonesia merupakan sebagai bentuk keniscayaan, baik karena globalisasi maupun karena investasi. Bagi Hadi, Hadirnya TKA di Indonesia bisa membawa dampak positif dan negatif.

“Dampak positifnya bisa menambah investasi, pendapatan, dan transfer of know-how and technology, dan multiplier effect. Negatifnya bisa mengurangi kesempatan kerja tenaga kerja lokal, kedaulatan, dan kesenjangan sosial,” papar Hadi yang juga Direktur Kemahasiswaan.

Menambahkan pernyataan Hadi, arus TKA ke Indonesia dinilai Bagong menjadi sebuah permasalahan tersendiri, terlebih hadirnya TKA ilegal. Menurutnya, selain mengurangi kesempatan kerja bagi tenaga kerja lokal, masuknya arus TKA yang berlebih akan menyebabkan upaya peningkatan kesejahteraan dan pemberantasan kemiskinan menjadi terganggu.

“Tidak mustahil akibat serbuan TKA, utamanya mereka yang ilegal akan membuat sebagian tenaga kerja lokal yang ada akan tumbuh menjadi penggangguran putus asa,”

Mengenai solusi dari masalah tersebut Bagong menekankan, dalam kondisi daya beli masyarakat yang cenderung menurun dan iklim investasi yang tak juga membaik, mendorong angkatan kerja yang ada untuk bekerja secara mandiri adalah sebuah solusi yang realistis untuk dikembangkan.

“Hanya saja yang menjadi sebuah persoalan adalah bagaimana memastikan syakwasangka kepada masyarakat kecil yang selalu dinilai tidak memiliki etos kerja keras, boros, dan tidak bisa dipercaya itu bisa dihapuskan,” pungkasnya.

Penulis : Nuri Hermawan