stem cell
Annas Prasetyo Adi, wisudawan terbaik S-2 FST UNAIR. (Foto: Istimewa)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Lama bergelut dalam laboratorium stem cell, Annas Prasetyo Adi ingin berkontribusi di bidang kesehatan dengan memanfaatkan limbah medis plasma darah pasien  dalam proses isolasi stem cell. Berbekal tesisnya berjudul “Proliferasi Mesenchymal Stem Cells From Human Exfoliated Deciduous Teeth (Shed) yang di Kultur Pada Media Dengan Plasma Darah Manusia” Annas dinobatkan wisudawan terbaik S-2 Fakultas Sains dan Teknologi (FST) Universitas Airlangga dengan IPK 3,84.

Kepeduliannya dengan pasien terhadap mahalnya biaya terapi pengobatan berbasis stem cell inilah yang mendorong alumnus S-2 Biologi ini membuat alternatif baru. Alternatif itu dimulai dari plasma darah pasien yang dijadikan sebagai pengganti fetal bovine serum (FBS) yang selama ini menjadi komponen penting sebagai campuran medium kultur stem cell.

“Pengggunaan stem cell yang dikultur dalam medium yang telah dimodifikasi tersebut dapat mengurangi bahaya penolakan dan lebih aman ketika digunakan dalam aplikasi klinis karena plasma darah tersebut berasal dari pasien itu sendiri,” jelas wisudawan terbaik asal Sidoarjo.

Disamping pengetahuan akademisnya tersebut, ia juga pandai memodifikasi peralatan laboratorium penelitiannya akibat keterbatasan fasilitas yang ia temuai disana.

“Awalnya saya kesulitan untuk melaksanakan penelitian ini karena keterbatasan fasilitas, Tapi dengan memodifikasi segala peralatan yang sangat terbatas itu, akhirnya saya mendapatkan tambahan ilmu praktis yang tidak pernah didapatkan dibangku perkuliahan,” imbuh Annas.

Keuletan menjadi sebuah kata yang tidak bisa jauh dari pribadi Annas. Ikhlas sampai tuntas itulah yang selalu ia geluti di dalam laboratorium biologi setiap hari.

“Ikhlas dan selalu mencoba untuk menyelesaikan apa yang sudah saya mulai sampai tuntas.  Walaupun terkadang harus terbangun dini hari dan mengorbankan waktu istirahat tetapi yang penting saya melakukan semuanya dengan senang hati dan ikhlas,” jelas Annas.

Ia tidak menyangka, bahwa proses yang membuatnya jatuh dan bangun untuk mendapatkan gelar magister tersebut akhirnya dapat terselesaikan beserta bonus menjadi wisudawan terbaik S-2 FST. (*)

Penulis : Disih Sugianti

Editor : Nuri Hermawan

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
mm

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).